
LABUAN BAJO – Tim SAR gabungan berhasil mengidentifikasi jenazah seorang anak laki-laki berusia 10 tahun, putra dari pelatih tim sepak bola wanita Valencia CF B, Martin Carreras Fernando. Jenazah tersebut ditemukan di dalam bangkai kapal pinisi KM Putri Sakinah yang terdampar di perairan Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, pada Selasa (6/1/2026). Identifikasi dilakukan melalui rekam jejak gigi korban setelah kondisi jenazah yang membengkak tidak memungkinkan metode sidik jari.
Penemuan jenazah ini menandai keberhasilan tim SAR pada hari ke-12 operasi pencarian, sejak kapal wisata itu tenggelam di Selat Pulau Padar pada Jumat (26/12/2025). Menurut Ketua Dewan Pimpinan Cabang Gabungan Pengusaha Wisata Bahari dan Tirta Indonesia (Gahawisri) Labuan Bajo, Budi Widjaja, yang mendampingi keluarga korban, identitas anak berinisial M tersebut telah dikonfirmasi sebagai anak kandung Fernando. Kepala Kantor Basarnas Maumere, Fathur Rahman, menyatakan bahwa jenazah dievakuasi menggunakan kapal Basarnas Puntadewa 250 menuju Pelabuhan Marina Labuan Bajo sebelum diserahkan kepada Tim DVI Polres Manggarai Barat untuk proses identifikasi forensik.
Tragedi ini menimpa keluarga Fernando Carreras, wisatawan asal Spanyol, yang berlibur di Labuan Bajo. KM Putri Sakinah dilaporkan mengangkut 11 penumpang, terdiri dari enam wisatawan mancanegara (keluarga Fernando), satu pemandu wisata, dan empat kru kapal. Tujuh orang berhasil diselamatkan pasca insiden. Sebelumnya, Fernando Carreras sendiri dan putrinya yang berusia 12 tahun, Elia, telah ditemukan meninggal dunia. Dengan ditemukannya jenazah anak laki-laki berusia 10 tahun ini, masih ada satu lagi putra Fernando yang berusia 9 tahun yang masih dalam pencarian intensif.
Kabid Humas Polda NTT, Henry Novika Chandra, menjelaskan bahwa tim DVI Polda NTT dan Polres Manggarai Barat, bersama tim medis RSUD Komodo, melakukan pemeriksaan forensik dengan membandingkan data ante mortem dan post mortem. Temuan gigi palsu pada bagian geraham menjadi bukti primer yang kuat dalam penetapan identitas korban, meskipun jenazah telah mengalami pembusukan lanjutan. Deputi Operasi dan Kesiapsiagaan Basarnas, Edy Prakoso, mengonfirmasi bahwa jasad ditemukan dalam keadaan meninggal dunia di dalam kapal. Jenazah dan bangkai kapal ditemukan pertama kali oleh nelayan setempat yang sedang memancing di perairan Pantai Pede, Pulau Komodo, sekitar 14 kilometer dari lokasi awal kapal tenggelam.
Insiden tenggelamnya KM Putri Sakinah dan serangkaian penemuan jenazah ini kembali menyoroti standar keselamatan transportasi laut di destinasi wisata prioritas nasional seperti Labuan Bajo. Doni, seorang praktisi pariwisata bahari lokal, menyatakan kekhawatirannya tentang desain kapal wisata yang modern cenderung ramping dan bertingkat, yang mudah tumbang diterpa angin kencang atau gelombang, serta mempertanyakan proses perizinan yang diberikan oleh Kementerian Perhubungan. Metode identifikasi primer seperti rekam jejak gigi, bersama dengan sidik jari dan DNA, diakui secara internasional oleh Interpol karena ketahanannya terhadap proses pembusukan dan suhu ekstrem, menjadi krusial dalam kasus-kasus bencana massal atau kecelakaan seperti ini. Pencarian untuk korban terakhir masih terus dilanjutkan oleh tim SAR gabungan.