Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Jalur Harmoni-Mangga Besar Berubah Total Imbas Proyek MRT Fase 2A Sampai 31 Agustus 2026

2026-01-07 | 17:41 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-07T10:41:06Z
Ruang Iklan

Jalur Harmoni-Mangga Besar Berubah Total Imbas Proyek MRT Fase 2A Sampai 31 Agustus 2026

Pengalihan lalu lintas diberlakukan di ruas jalan utama Jakarta Pusat, meliputi kawasan Harmoni, Sawah Besar, dan Mangga Besar, mulai 1 Januari 2026 dan akan berlangsung hingga 31 Agustus 2026. Kebijakan ini diterapkan seiring dengan progres pembangunan proyek Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta Fase 2A paket kontrak CP202 yang mencakup tiga stasiun bawah tanah dan terowongan penghubung di area tersebut. PT MRT Jakarta (Perseroda), bersama kontraktor pelaksana Shimizu–Adhi Karya Joint Venture (SAJV), Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta, dan Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya, telah mengkoordinasikan rekayasa lalu lintas ini. Langkah ini vital untuk mendukung pekerjaan penggalian, pembangunan struktur stasiun, kanal underpass, serta pengembangan akses masuk stasiun yang memerlukan ruang kerja signifikan di jalur utama.

Proyek MRT Jakarta Fase 2A, yang membentang dari Bundaran HI hingga Kota sepanjang 5,8 kilometer, merupakan kelanjutan koridor utara-selatan Fase 1 yang telah beroperasi. Hingga akhir Desember 2025, paket kontrak CP202 (Harmoni-Mangga Besar) telah mencapai progres fisik 61,56 persen. Progres ini melebihi target rencana pekerjaan, seperti yang juga tercatat pada 25 September 2025, di mana progres fisik CP202 mencapai 58,37 persen dari target 54,92 persen. Secara keseluruhan, proyek Fase 2A ditargetkan rampung dalam dua segmen, dengan segmen Bundaran HI–Harmoni diharapkan beroperasi pada akhir 2027, dan segmen Harmoni–Kota pada akhir 2029.

Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta (Perseroda), Weni Maulina, pada pertengahan 2025 menyatakan bahwa progres konstruksi segmen 2A secara keseluruhan telah menembus angka 49,99 persen, dengan realisasi investasi sekitar Rp12 triliun. Total biaya pembangunan Fase 2A diperkirakan mencapai sekitar Rp22,5 triliun, yang didanai melalui skema pinjaman kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan Jepang. Integrasi antara infrastruktur baru dan kawasan sekitar stasiun melalui konsep transit-oriented development (TOD) menjadi fokus utama sejak awal pembangunan Fase 2A.

Rendy Primartantyo, Corporate Secretary Division Head PT MRT Jakarta (Perseroda), menjelaskan bahwa pengaturan lalu lintas dilakukan secara bertahap dan dinamis menyesuaikan progres pekerjaan. Di area Stasiun Harmoni, arus kendaraan di Jalan Hayam Wuruk bergeser ke sisi jalan mulai dari Gedung BPKP hingga Gedung Sandjaja, namun tetap mempertahankan tiga lajur ke arah Monas hingga 30 April 2026. Sementara itu, di kawasan Stasiun Sawah Besar, perubahan alur kendaraan dilakukan dalam beberapa tahapan, termasuk pengalihan arus ke sisi kanal hingga pengembalian ke sisi tengah. Untuk Jalan Gajah Mada arah Kota, pengalihan lajur ke sisi kanal di depan gedung CIMB Niaga akan diterapkan mulai Maret 2026. Area Stasiun Mangga Besar juga mengalami penyempitan jalur, dengan arus menuju Monas dialihkan ke sisi kanal di titik tertentu sebelum kembali ke sisi gedung setelah melewati area konstruksi.

Rekayasa lalu lintas ini, meskipun berdampak pada mobilitas warga, dianggap esensial untuk menjamin keselamatan pekerja dan kelancaran konstruksi. PT MRT Jakarta telah memasang rambu-rambu lalu lintas, marka jalan, serta penerangan yang memadai di sekitar area proyek untuk menjaga keamanan pengguna jalan. Rendy menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang timbul dan mengharapkan pengertian serta kerja sama dari masyarakat untuk mendukung kelancaran proyek ini.

Setelah seluruh pembangunan Fase 2 selesai, PT MRT Jakarta menargetkan dapat mengangkut hingga 500 ribu penumpang per hari untuk keseluruhan rute Lebak Bulus hingga Ancol Barat. Jalur utara-selatan secara penuh diharapkan mampu mengangkut sekitar 551 ribu orang per hari, dengan estimasi waktu perjalanan sekitar 45 menit dari Lebak Bulus hingga Kota. Proyek ini dipandang sebagai upaya strategis nasional untuk mengurangi tingkat kemacetan, meningkatkan pertumbuhan ekonomi, dan memperbaiki kualitas hidup masyarakat Jakarta melalui penyediaan transportasi massal yang aman, nyaman, dan andal.