:strip_icc()/kly-media-production/medias/4996/original/tawuran-ilustrasi-131118b.jpg)
Petugas kepolisian dari Satuan Samapta Polrestabes Makassar, Bripda Muhlis, mengalami cedera serius pada mata kirinya setelah terkena ledakan petasan saat berupaya membubarkan aksi tawuran di Jalan Tinumbu, Makassar, pada malam pergantian tahun 2025 menuju 2026. Insiden yang terjadi sekitar pukul 01.30 WITA tersebut mengakibatkan Bripda Muhlis harus menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Bhayangkara dan berpotensi mengalami kebutaan permanen pada mata yang terluka. Peristiwa ini menyoroti kembali kerentanan personel kepolisian di garis depan dalam menjaga ketertiban umum di tengah euforia perayaan, serta kegagalan sistematis dalam mengendalikan peredaran dan penggunaan petasan ilegal yang kerap memicu konflik.
Aksi tawuran yang melibatkan kelompok pemuda memang kerap menjadi momok tahunan di berbagai wilayah di Sulawesi Selatan, khususnya Makassar, menjelang dan selama perayaan Tahun Baru. Kondisi ini diperparuk oleh penggunaan kembang api dan petasan, yang meskipun dilarang penggunaannya di ruang publik tanpa izin khusus, sering kali menjadi pemicu atau alat dalam keributan. Data kepolisian Makassar menunjukkan peningkatan jumlah insiden tawuran dan gangguan keamanan yang melibatkan petasan selama periode libur akhir tahun dalam tiga tahun terakhir. Pada perayaan Tahun Baru 2024-2025, tercatat lebih dari 50 kasus pelanggaran terkait penggunaan petasan dan 15 kasus tawuran yang berhasil ditangani di wilayah hukum Polrestabes Makassar saja. Pihak berwenang seringkali menghadapi tantangan besar dalam menegakkan peraturan terkait petasan karena maraknya penjualan ilegal dan persepsi masyarakat yang menganggapnya sebagai bagian tak terpisahkan dari perayaan.
Insiden yang menimpa Bripda Muhlis bukan kali pertama terjadi. Beberapa tahun sebelumnya, kasus serupa menimpa beberapa petugas di berbagai daerah di Indonesia, menunjukkan pola berulang ancaman terhadap aparat keamanan. Ketua Komnas HAM regional Sulawesi, Hasriana, menyatakan bahwa insiden ini merupakan cerminan dari kurangnya kesadaran masyarakat akan bahaya petasan dan kurangnya penegakan hukum yang efektif terhadap para penjual dan pengguna ilegal. Ia menyerukan evaluasi menyeluruh terhadap strategi pengamanan dan edukasi publik, serta penegakan hukum yang lebih tegas terhadap pelanggaran-pelanggaran tersebut.
Di luar dampak langsung pada korban, insiden seperti ini memiliki implikasi jangka panjang yang luas. Pertama, ini dapat menurunkan moral dan motivasi anggota kepolisian yang bertugas di lapangan, meningkatkan risiko burnout dan rasa tidak aman saat menjalankan tugas. Kedua, insiden ini menuntut alokasi anggaran lebih besar untuk biaya pengobatan dan rehabilitasi personel, yang seharusnya bisa dialokasikan untuk program-program pencegahan kejahatan lainnya. Ketiga, meluasnya penggunaan petasan ilegal dan tawuran yang tidak terkendali menciptakan preseden buruk bagi ketertiban sosial, mengirimkan sinyal bahwa pelanggaran hukum dapat ditoleransi, yang pada akhirnya dapat mengikis kepercayaan publik terhadap kapasitas negara dalam menjaga keamanan warganya.
Pemerintah kota dan aparat keamanan di Sulawesi Selatan telah berulang kali meluncurkan kampanye dan operasi penertiban menjelang Tahun Baru untuk menekan peredaran petasan dan mencegah tawuran. Namun, efektifitasnya masih dipertanyakan mengingat insiden berulang setiap tahun. Pihak kepolisian mengklaim telah menyita ribuan petasan berbagai jenis dan mengamankan puluhan orang yang terlibat tawuran dalam operasi "Lilin 2025" yang berlangsung dari pertengahan Desember hingga awal Januari. Namun demikian, insiden seperti yang dialami Bripda Muhlis menunjukkan bahwa upaya tersebut belum cukup komprehensif. Perlu ada pendekatan multi-sektoral yang lebih mendalam, melibatkan tokoh masyarakat, pemuka agama, lembaga pendidikan, dan orang tua, untuk mengubah budaya dan persepsi masyarakat terhadap perayaan yang aman dan bertanggung jawab. Tanpa strategi komprehensif yang melibatkan edukasi, penegakan hukum yang konsisten, dan partisipasi aktif masyarakat, insiden serupa kemungkinan besar akan terus membayangi perayaan Tahun Baru di masa mendatang.