Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Tawuran Belawan Medan Makan Korban: Peluru Senapan Angin Hantam Pelipis Bocah Tak Berdosa

2026-01-07 | 10:09 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-07T03:09:58Z
Ruang Iklan

Tawuran Belawan Medan Makan Korban: Peluru Senapan Angin Hantam Pelipis Bocah Tak Berdosa

Asni Anggraini, seorang balita berusia empat tahun, kini berjuang di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Pirngadi Medan setelah sebutir peluru senapan angin bersarang di pelipis mata kanannya, menjadi korban salah sasaran dari tawuran antarkelompok warga di Jalan Kolonel Yos Sudarso, Belawan, Medan, pada Senin, 5 Januari 2026 malam. Insiden tragis ini terjadi sekitar pukul 19.30 WIB ketika Asni dan ibunya, Romanda Siregar, melintas menggunakan becak motor di lokasi bentrokan yang bergejolak.

Romanda, ibu korban, menceritakan kepanikan saat putrinya tiba-tiba menjerit kesakitan dan darah mengucur dari pelipis matanya. Keluarga Asni yang tidak mampu menghadapi beban biaya medis yang besar, berharap uluran tangan dari dermawan untuk operasi pengangkatan proyektil peluru yang masih bersarang di kepala Asni. Kondisi Asni saat ini memprihatinkan, dengan peluru yang berada di rongga kepala dan membutuhkan penanganan dokter bedah mata yang saat ini tidak tersedia di RSUD Dr. Pirngadi, sehingga koordinasi dilakukan dengan RS Universitas Sumatera Utara (USU) dan RSUP H Adam Malik untuk tindakan lanjutan.

Kasatreskrim Polres Pelabuhan Belawan, AKP Agus Purnomo, membenarkan kejadian ini dan menyatakan bahwa pihak kepolisian telah menerima laporan serta berhasil mengidentifikasi para pelaku tawuran. Saat ini, kepolisian tengah melakukan pengejaran terhadap mereka yang bertanggung jawab. Kapolsek Medan Belawan, AKP Ponijo, juga mengonfirmasi adanya bentrok dua kelompok warga yang melukai banyak korban, termasuk balita berusia lima tahun tersebut.

Tawuran warga di Belawan, khususnya Kecamatan Medan Belawan, telah menjadi fenomena berulang dan kronis selama puluhan tahun, memakan banyak korban. Pengamat Hukum dari Universitas Panca Budi (Unpab) Medan, Dr. Redyanto Sidi SH MH, mengidentifikasi beberapa faktor pemicu utama, termasuk lingkungan sosial, ekonomi, dugaan peredaran narkotika yang masif di wilayah itu, serta kurangnya pengawasan orang tua terhadap anak-anak. Redyanto juga menyoroti kurangnya tindakan tegas dari aparat penegak hukum pada peristiwa-peristiwa sebelumnya, yang ditengarai membuat para remaja tidak takut melakukan aksi kriminalitas.

Analisis ini diperkuat oleh pengamat sosial Sumatera Utara, Shohibul Anshor, yang melihat tawuran di Medan Utara sebagai gejala krisis struktural dan spasial yang lebih luas. Ketimpangan antara Medan Utara dan Selatan, serta pendekatan penanganan masalah yang lebih menitikberatkan pada aspek hukum daripada pembangunan sosial, memperparah persoalan ini. Warisan kolonialisme telah menciptakan ketimpangan infrastruktur, segregasi permukiman, dan ketidaksetaraan pelayanan publik yang masih terasa hingga kini.

Insiden penembakan balita ini bukan kali pertama kekerasan dalam tawuran di Belawan menimbulkan korban yang tidak bersalah. Sebelumnya, pada Desember 2024, polisi membubarkan tawuran di Jalan Slebes, Kelurahan Belawan II, mengamankan sejumlah pelaku serta menemukan barang bukti narkoba dan mesin judi dingdong, yang mengindikasikan kompleksitas masalah di balik konflik antarkelompok. Pada April 2025, seorang remaja 16 tahun tewas tertembak senapan angin di bagian dada akibat tawuran di Kelurahan Belawan I. Polres Belawan sendiri telah berupaya melakukan razia senjata tajam dan senjata api untuk mencegah tawuran, bahkan mengamankan beberapa pelaku. Namun, tragedi yang menimpa Asni Anggraini kembali menggarisbawahi urgensi penanganan akar masalah secara komprehensif, melibatkan tidak hanya kepolisian, tetapi juga pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan upaya rehabilitasi sosial untuk memutus lingkaran kekerasan yang terus berulang di Belawan.