Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Tanah Aceh "Bernapas" Gas Usai Diterjang Banjir

2026-01-07 | 02:50 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-06T19:50:46Z
Ruang Iklan

Tanah Aceh "Bernapas" Gas Usai Diterjang Banjir

Warga di beberapa desa di Kabupaten Aceh Besar menyaksikan fenomena kemunculan gelembung-gelembung gas dari dalam tanah tak lama setelah banjir besar yang melanda wilayah itu surut pada akhir Desember 2025, memicu kekhawatiran baru di tengah upaya pemulihan pasca-bencana. Peristiwa ini, yang dilaporkan terjadi di area persawahan dan pekarangan rumah, mendorong sejumlah penduduk untuk mengungsi sementara waktu dan menarik perhatian tim dari Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) untuk investigasi lapangan.

Kemunculan gas dari dalam tanah pasca-banjir bukanlah fenomena yang sepenuhnya asing di beberapa wilayah geologis aktif di Indonesia, namun kejadian di Aceh Besar kali ini menimbulkan pertanyaan mengenai potensi risiko dan implikasi jangka panjang. Menurut Dr. Teuku Alif, seorang geolog dari Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, gelembung gas tersebut kemungkinan besar adalah metana yang berasal dari dekomposisi bahan organik yang terperangkap di bawah permukaan tanah atau pelepasan gas alam dangkal yang terakumulasi. "Curah hujan ekstrem dan genangan air yang meluas mengubah tekanan hidrostatik di dalam lapisan tanah dan batuan. Ketika air surut, tekanan berkurang secara drastis, memungkinkan gas yang sebelumnya terperangkap untuk naik ke permukaan melalui celah-celah tanah," jelas Dr. Alif dalam sebuah wawancara pada 4 Januari 2026.

Aceh, yang terletak di zona tektonik kompleks dengan keberadaan Sesar Sumatera yang aktif dan cekungan sedimen yang kaya akan potensi hidrokarbon dangkal, memiliki kondisi geologi yang mendukung terjadinya fenomena semacam ini. Sejarah mencatat beberapa laporan lokal mengenai keluarnya gas atau lumpur dangkal di beberapa lokasi pasca-gempa atau banjir besar, meskipun skala dan frekuensinya bervariasi. Pada banjir sebelumnya di beberapa distrik pada tahun 2023, laporan serupa juga muncul, meskipun tidak mendapatkan perhatian luas.

Kepala Pelaksana BPBA, Ilyas Muhammad, menyatakan bahwa tim gabungan sedang melakukan survei untuk memetakan titik-titik kemunculan gas dan mengambil sampel untuk analisis lebih lanjut. "Kami berkoordinasi dengan PVMBG untuk memastikan komposisi gas dan potensi bahayanya. Prioritas kami adalah keselamatan warga. Jika terbukti mengandung konsentrasi metana tinggi yang mudah terbakar, langkah evakuasi permanen atau mitigasi lebih lanjut akan dipertimbangkan," kata Ilyas pada hari Senin, 5 Januari 2026. Meskipun tidak ada laporan korban jiwa langsung akibat gelembung gas ini, kekhawatiran akan kebakaran atau dampak kesehatan akibat menghirup gas beracun terus membayangi masyarakat yang terdampak. Beberapa warga melaporkan gejala pusing dan mual setelah berada di dekat area kemunculan gelembung.

Implikasi jangka panjang dari fenomena ini menyoroti perlunya pemahaman yang lebih mendalam tentang interaksi antara peristiwa hidrometeorologi ekstrem dan kondisi geologi lokal. Para ahli mendesak pemerintah daerah untuk mengintegrasikan data geologi dan hidrologi dalam perencanaan tata ruang, terutama di wilayah rawan banjir dan memiliki potensi gas alam dangkal. Pemantauan rutin dan sistem peringatan dini untuk fenomena geologis yang dipicu oleh cuaca ekstrem menjadi krusial untuk mencegah dampak yang lebih parah di masa depan. Tanpa langkah-langkah proaktif, masyarakat yang tinggal di daerah rentan akan terus menghadapi ancaman ganda dari bencana banjir dan potensi bahaya geologis yang menyertainya.