:strip_icc()/kly-media-production/medias/5461471/original/060547300_1767417004-204376.jpg)
Akses Jalan Provinsi Sukabumi-Sagaranten, Jawa Barat, yang sempat terputus dan hanya bisa dilalui dengan sistem buka-tutup akibat pergerakan tanah, kini telah dibuka kembali sepenuhnya untuk kendaraan roda dua maupun roda empat setelah rampungnya penanganan darurat. Perbaikan mendesak oleh Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat ini berhasil mengembalikan kelancaran lalu lintas yang terganggu sejak awal Desember 2024.
Kerusakan jalan, yang berlokasi di beberapa titik krusial termasuk Kampung Cikawung, Kampung Cisayar Lebak, dan Kampung Jati di Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, dipicu oleh intensitas hujan deras yang berkelanjutan dan fenomena pergerakan tanah. Bencana hidrometeorologi ini menyebabkan amblesnya badan jalan dan longsoran material tanah yang menutup akses utama penghubung antarwilayah di selatan Kabupaten Sukabumi. Koordinator Perbaikan Jalan Provinsi Sukabumi-Sagaranten, Asep, menjelaskan bahwa penanganan darurat meliputi pemasangan beronjong sebagai penahan tanah, disusul dengan susunan batu dan lapisan batu split kecil di bagian atas badan jalan untuk memperkokoh struktur sementara. Proses perbaikan sementara ini telah tuntas pada Kamis, 1 Januari 2026, memungkinkan arus lalu lintas kembali normal per Jumat, 2 Januari 2026.
Ruas jalan Sukabumi-Sagaranten memiliki peran vital sebagai jalur strategis yang mendukung mobilitas warga dan distribusi logistik di wilayah selatan Kabupaten Sukabumi. Terputusnya akses ini sebelumnya mengharuskan kendaraan dialihkan melalui jalur alternatif seperti Bojonglopang-Purabaya atau Takokak (Cianjur Selatan), menambah waktu dan biaya perjalanan secara signifikan. Bencana pergerakan tanah pada Desember 2024 tidak hanya merusak infrastruktur jalan, tetapi juga berdampak pada permukiman warga, dengan dua rumah ambruk dan lima belas lainnya terancam di Kampung Cisayar, Desa Mekarsari, Kecamatan Nyalindung.
Secara historis, wilayah Sukabumi, khususnya jalur Sukabumi-Sagaranten, dikenal sebagai daerah rawan pergerakan tanah dan longsor. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sepanjang tahun 2025 mencatat 3.223 kejadian bencana di Indonesia, dengan tanah longsor menjadi bencana paling mematikan di luar insiden Siklon Senyar, termasuk longsor di Sukabumi pada Maret 2025 yang menewaskan sembilan orang. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyatakan bahwa peningkatan kejadian longsor tidak semata-mata dipicu oleh intensitas hujan tinggi, melainkan juga terkait dengan penurunan daya dukung dan daya tampung lingkungan, terutama di wilayah lereng yang rentan. Ia menekankan perlunya peninjauan ulang tata ruang dan peruntukan lahan untuk mitigasi risiko jangka panjang.
Meskipun perbaikan darurat telah mengembalikan fungsionalitas jalan, pemerintah daerah bersama Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat menyiapkan rencana perbaikan permanen untuk mencegah kejadian serupa terulang. Penanganan insiden berulang di jalur ini menyoroti tantangan berkelanjutan dalam menjaga infrastruktur di daerah yang secara geologis tidak stabil. Implikasi jangka panjang memerlukan pendekatan komprehensif yang tidak hanya berfokus pada respons cepat pasca-bencana, tetapi juga pada investasi dalam infrastruktur yang lebih tangguh dan strategi mitigasi bencana yang proaktif, termasuk pemantauan geologis dan zonasi lahan yang ketat di sepanjang koridor jalan.