:strip_icc()/kly-media-production/medias/5467307/original/088854600_1767870560-Pencarian_WN_Spanyol_korban_tenggelamnya_KM_Putri.jpg)
Tim SAR Nasional, khususnya Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Kantor SAR Maumere yang bertanggung jawab untuk wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, secara konsisten menghadapi tantangan berat dalam mengidentifikasi dan mengevakuasi korban terakhir insiden kapal tenggelam di perairan Labuan Bajo yang kompleks. Kondisi geografis unik Selat Molo, Taman Nasional Komodo, dan sekitarnya, dengan arus yang dikenal sangat kuat dan topografi bawah laut yang bervariasi dari dangkal hingga kedalaman ekstrem, menjadi penentu utama dalam setiap strategi pencarian. Upaya pencarian korban, seringkali memakan waktu berhari-hari hingga minggu, memerlukan kombinasi teknologi canggih, penyelaman berisiko tinggi, dan kolaborasi erat lintas instansi, mencerminkan komitmen Basarnas meskipun dihadapkan pada kendala logistik dan alam.
Perairan Labuan Bajo, yang terkenal dengan keindahan bawah lautnya, menyimpan bahaya signifikan bagi operasi pencarian dan pertolongan. Arus pasang surut yang mencapai kecepatan hingga 8 knot di beberapa titik, seperti Lintah Passage atau Batu Bolong, secara dramatis mempersulit upaya penyelaman dan memperluas area pencarian korban yang mungkin terbawa jauh dari lokasi kejadian. Visibilitas di bawah air juga dapat berubah secara drastis karena sedimentasi dan plankton, membatasi kemampuan penyelam untuk menemukan objek atau korban. Faktor kedalaman juga menjadi perhatian serius; banyak lokasi di sekitar Labuan Bajo memiliki palung dalam yang melebihi batas operasional penyelam manusia, mendorong penggunaan teknologi Remotely Operated Vehicle (ROV) dan Multibeam Echosounder untuk pemetaan dasar laut yang lebih akurat dan deteksi objek di kedalaman.
Strategi pencarian Basarnas untuk menemukan korban terakhir umumnya dimulai dengan memprioritaskan area di sekitar titik terakhir kapal terlihat atau terdeteksi tenggelam. Tahap awal melibatkan penyisiran permukaan menggunakan Rigid Inflatable Boat (RIB) dan perahu karet untuk mencari tanda-tanda korban mengapung atau barang bukti yang bisa menuntun ke lokasi. Setelah itu, tim penyelam dikerahkan ke area yang diidentifikasi sebagai zona kemungkinan korban berdasarkan model arus dan kesaksian. Namun, untuk pencarian korban yang mungkin terjebak di dalam bangkai kapal atau tergeletak di dasar laut dalam, Basarnas memanfaatkan peralatan sonar dan ROV untuk memindai area dasar laut secara sistematis. Citra sonar membantu mengidentifikasi anomali yang kemudian dapat diverifikasi lebih lanjut oleh ROV yang dilengkapi kamera bawah air atau penyelam jika kedalaman memungkinkan.
Keterbatasan sumber daya dan peralatan seringkali menjadi kendala, meskipun Basarnas terus berupaya meningkatkan kapabilitasnya. Kolaborasi dengan instansi lain seperti Polairud, TNI Angkatan Laut, otoritas pelabuhan setempat, serta komunitas maritim lokal, termasuk nelayan dan operator tur, menjadi krusial. Pengetahuan lokal mengenai pola arus, kondisi cuaca mikro, dan titik-titik berbahaya di perairan Labuan Bajo seringkali memberikan informasi vital yang tidak dapat diperoleh dari data teknis semata. Proses ini melibatkan pembentukan posko taktis gabungan, berbagi informasi secara real-time, dan membagi sektor pencarian untuk efisiensi maksimum. Namun, di tengah semua upaya ini, pencarian korban terakhir selalu menjadi fase paling menantang dan emosional, menuntut ketahanan operasional dan psikologis dari seluruh tim yang terlibat, sekaligus meninggalkan pelajaran berharga untuk perbaikan protokol keselamatan maritim dan prosedur SAR di masa mendatang.