Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Strategi BNPB: Rekayasa Cuaca Jakarta Hadapi Ancaman Cuaca Ekstrem

2026-01-13 | 18:07 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-13T11:07:07Z
Ruang Iklan

Strategi BNPB: Rekayasa Cuaca Jakarta Hadapi Ancaman Cuaca Ekstrem

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) secara resmi memulai Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah Jakarta pada Selasa, 13 Januari 2026, sebagai langkah antisipatif terhadap potensi bencana hidrometeorologi, terutama banjir ekstrem yang melanda ibu kota setelah hujan deras pada Senin (12/1/2026). Operasi ini dijadwalkan berlangsung selama lima hari ke depan, dengan tujuan utama mengurangi intensitas curah hujan yang berpotensi memperparah genangan dan banjir di berbagai kawasan Jakarta.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, Isnawa Adji, menegaskan bahwa pelaksanaan OMC ini merupakan respons cepat menyusul banjir yang merendam setidaknya 63 rukun tetangga (RT) di Jakarta pada Senin malam, 12 Januari 2026. Hingga Selasa pagi, genangan air masih tersisa di 28 RT dan enam ruas jalan, dengan ketinggian bervariasi antara 10 hingga 60 sentimeter. Isnawa menambahkan, meskipun tahap awal OMC sepenuhnya dijalankan oleh BNPB, BPBD DKI Jakarta siap melanjutkan operasi serupa dengan mengacu pada analisis dan prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

BMKG sendiri telah mengeluarkan peringatan dini mengenai potensi cuaca ekstrem yang akan "menghantui" wilayah Jabodetabek sepanjang periode Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, serta berlanjut hingga pertengahan Januari 2026. Ketua Tim Kerja Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG, Ida Pramuwardani, menjelaskan bahwa peningkatan curah hujan ini dipengaruhi oleh penguatan Monsun Asia yang meningkatkan suplai massa udara basah, serta adanya daerah tekanan rendah di wilayah timur Australia yang membentuk pola konvergensi dan konfluensi. Kondisi ini meningkatkan peluang terjadinya hujan dengan intensitas tinggi dan durasi yang lebih lama, sehingga berpotensi menimbulkan dampak lanjutan seperti banjir dan tanah longsor. BMKG memprediksi hujan lebat masih mengintai Jakarta, khususnya Jakarta Selatan dan Jakarta Timur, dalam sepekan ke depan.

Operasi modifikasi cuaca yang melibatkan penyemaian awan menggunakan bahan semai seperti natrium klorida (garam) dari pesawat telah menjadi salah satu strategi mitigasi yang rutin dilakukan oleh pemerintah. Data dari operasi sebelumnya pada 17-19 Agustus 2025 menunjukkan efektivitas dalam menjaga cuaca kondusif saat peringatan HUT Ke-80 RI, di mana 7,2 ton natrium klorida disemai melalui sembilan sorti penerbangan, dengan curah hujan tercatat 7,4 milimeter di Kepulauan Seribu. Demikian pula, operasi pada Desember 2024 dilaporkan berhasil mengurangi curah hujan hingga 67%. Kepala BMKG Dwikorita Karnawati pernah menegaskan bahwa OMC bukan sekadar menyemai garam, melainkan memerlukan pemodelan atmosfer yang tepat dan dukungan tim penuh yang bekerja 24 jam untuk memastikan setiap intervensi efektif dan berbasis data meteorologi terkini.

Namun, efektivitas modifikasi cuaca sebagai solusi jangka panjang untuk masalah banjir Jakarta masih menjadi perdebatan. Pengamat Tata Kota, Nirwono Yoga, berpendapat bahwa modifikasi cuaca hanya membantu mengurangi dan menggeser curah hujan, namun tidak menyelesaikan akar permasalahan banjir. Ia menekankan perlunya Pemprov DKI Jakarta untuk tetap fokus pada solusi struktural seperti pembenahan bantaran 13 sungai di Jakarta, termasuk memperdalam dan memperlebar badan sungai, serta merelokasi permukiman yang menempel di bantaran sungai. Selain itu, revitalisasi situ, danau, embung, dan waduk untuk meningkatkan kapasitas daya tampung air hujan, serta revitalisasi sistem drainase kota secara keseluruhan, dianggap krusial. Untuk kawasan pesisir Jakarta, reforestasi pesisir utara juga dibutuhkan untuk mengatasi banjir rob. Sejumlah pihak juga menyoroti bahwa modifikasi cuaca hanya bersifat mitigasi jangka pendek, sementara ancaman banjir di Jakarta memerlukan strategi penanganan komprehensif yang melibatkan pengelolaan tata ruang, infrastruktur, dan kesiapsiagaan masyarakat.