:strip_icc()/kly-media-production/medias/5480047/original/083448500_1769011227-141553.jpg)
Tim Disaster Victim Identification (DVI) Kepolisian Republik Indonesia berhasil mengidentifikasi jenazah Deden Maulana, seorang pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), sebagai salah satu korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang jatuh di Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan. Identifikasi tersebut diumumkan pada Rabu, 21 Januari 2026, setelah proses post-mortem dan ante-mortem di Posko DVI Biddokes Polda Sulawesi Selatan. Penyerahan jenazah Deden Maulana kepada istrinya, Vera, berlangsung dalam suasana haru di Biddokkes Polda Sulsel, yang menjadi momen emosional bagi keluarga korban.
Pesawat ATR 42-500 dengan registrasi PK-THT dilaporkan hilang kontak pada Sabtu, 17 Januari 2026, saat terbang dari Yogyakarta menuju Makassar, dan kemudian ditemukan menabrak tebing di kawasan Gunung Bulusaraung, perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkajene dan Kepulauan. Pesawat tersebut disewa oleh KKP untuk misi surveilans perairan dan membawa 10 orang, terdiri dari tujuh awak dan tiga penumpang yang semuanya merupakan pegawai KKP, termasuk Deden Maulana yang bertugas sebagai Pengelola Barang Milik Negara. Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengategorikan insiden ini sebagai Controlled Flight Into Terrain (CFIT).
Deden Maulana merupakan korban pertama yang ditemukan oleh tim SAR gabungan pada Minggu, 18 Januari 2026, di dasar jurang sekitar 200 hingga 300 meter dari puncak Gunung Bulusaraung. Meski ditemukan lebih awal, proses evakuasi jenazah Deden menghadapi kendala signifikan akibat medan ekstrem yang curam, akses terbatas, serta cuaca buruk berupa hujan deras dan kabut. Evakuasi baru dapat dilakukan menggunakan helikopter Basarnas setelah jenazah dipindahkan ke titik yang lebih aman di Dusun Lampeso.
Kabid Dokkes Polda Sulawesi Selatan, Kombes Pol Muhamad Haris, menjelaskan bahwa identifikasi Deden Maulana berhasil dilakukan dengan metode primer, termasuk pemeriksaan sidik jari, berkat kondisi jenazah yang relatif baik saat ditemukan. Haris menekankan pentingnya ketelitian dalam proses identifikasi korban, bukan sekadar kecepatan, untuk memastikan keakuratan data. Selain Deden Maulana, tim DVI juga telah mengidentifikasi satu korban lainnya, Florencia Lolita Wibisono (33), seorang pramugari, pada hari yang sama. Hingga Rabu, 21 Januari 2026, total tiga jenazah telah ditemukan, dan dua di antaranya berhasil diidentifikasi. Pencarian delapan korban lainnya masih terus berlangsung, dengan tim SAR gabungan melanjutkan penyisiran di sekitar lokasi penemuan korban dan puing-puing pesawat. Kotak hitam, yang terdiri dari perekam data penerbangan dan perekam suara kokpit, juga telah berhasil ditemukan dan dikirim ke Jakarta untuk investigasi lebih lanjut oleh KNKT.
Kecelakaan ini menyoroti kembali tantangan keselamatan penerbangan di Indonesia, terutama untuk pesawat yang beroperasi di wilayah dengan kondisi geografis kompleks seperti Sulawesi. Pesawat ATR 42-500 yang mengalami kecelakaan ini dilaporkan sempat mengalami kendala mesin tiga hari sebelum kejadian, meskipun dinyatakan laik terbang saat keberangkatan terakhir. Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI M. Syafi'i, menyampaikan duka mendalam atas kejadian ini, mengingat pesawat dan krunya sebelumnya pernah membantu operasi SAR pada Desember 2025. Penyelidikan mendalam KNKT diharapkan dapat memberikan gambaran komprehensif mengenai penyebab pasti kecelakaan, yang esensial untuk perbaikan standar keselamatan dan prosedur operasional penerbangan di masa mendatang.