:strip_icc()/kly-media-production/medias/5474602/original/007260800_1768493760-7c55d6ff-5d7d-488a-9dc4-f7d0afb33873.jpg)
Angin puting beliung dahsyat menerjang permukiman warga di Dusun Banyuputih dan Dusun Curah Laci, Desa/Kecamatan Banyuputih, Situbondo, Jawa Timur, pada Kamis sore, 15 Januari 2026, sekitar pukul 16.00 hingga 16.30 WIB, menyebabkan sedikitnya 16 bangunan rusak parah dan sedang. Kejadian ini menambah daftar panjang bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah tersebut, memicu desakan akan kesiapsiagaan yang lebih serius di tengah pola cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Situbondo melaporkan, dari 16 bangunan yang terdampak, 14 di antaranya adalah rumah warga, satu garasi, dan satu dapur umum Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Koordinator Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Situbondo, Puriyono, mengonfirmasi bahwa tiga hingga lima rumah mengalami kerusakan berat, sementara sisanya dikategorikan rusak ringan dan sedang. Mayoritas kerusakan terjadi pada bagian atap bangunan yang terhempas angin kencang. Beruntungnya, tidak ada laporan korban jiwa maupun luka-luka dalam insiden ini.
Kepala Pelaksana BPBD Situbondo, Sruwi Hartanto, menjelaskan bahwa peristiwa tersebut terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah Banyuputih sejak sore hari, yang kemudian diikuti oleh angin puting beliung. Wakil Bupati Situbondo, Ulfiyah, yang turun langsung ke lokasi, memastikan Pemerintah Kabupaten Situbondo akan memberikan bantuan kepada warga terdampak sesuai dengan tingkat kerusakan yang dialami. Hingga kini, taksiran kerugian materiil masih dalam proses penghitungan oleh tim di lapangan.
Peristiwa ini bukan insiden terisolasi. Situbondo dan sebagian besar wilayah Jawa Timur secara konsisten menjadi daerah rawan bencana hidrometeorologi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah berulang kali mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem di Jawa Timur hingga 20 Januari 2026. Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda Sidoarjo, Taufiq Hermawan, menyebutkan bahwa cuaca ekstrem tersebut berpotensi memicu berbagai bencana seperti hujan lebat, banjir, tanah longsor, angin kencang, puting beliung, dan hujan es.
Analisis BMKG mengindikasikan bahwa kondisi atmosfer di atas Jawa Timur saat ini dipengaruhi oleh aktifnya monsun Asia, pola pertemuan angin (konvergensi), serta gangguan gelombang atmosfer Madden Julian Oscillation (MJO) yang melintasi wilayah tersebut. Ditambah suhu muka laut yang hangat di perairan sekitar dan atmosfer lokal yang labil, kondisi ini sangat mendukung pertumbuhan awan konvektif yang dapat menimbulkan hujan intensitas sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang.
Secara historis, frekuensi kejadian puting beliung di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, telah meningkat secara signifikan. Sebuah kajian menunjukkan bahwa frekuensi puting beliung telah meningkat hingga 3,5 kali dalam satu dekade terakhir. Jawa Timur sendiri memiliki tingkat risiko "Tinggi" untuk bencana cuaca ekstrem. Pada tahun 2019, angin kencang dan puting beliung menjadi bencana hidrometeorologi yang paling sering terjadi di provinsi ini. Kejadian puting beliung umumnya mencapai puncaknya pada periode transisi musim, yakni antara bulan Oktober hingga Maret, periode di mana Situbondo saat ini berada.
Meningkatnya intensitas dan frekuensi bencana puting beliung menuntut pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan mitigasi bencana secara berkelanjutan. BMKG terus mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan memantau informasi cuaca terkini guna meminimalkan dampak buruk yang mungkin terjadi di masa depan. Kesiapsiagaan masyarakat menjadi kunci, terutama di daerah-daerah yang secara geografis rentan terhadap dampak cuaca ekstrem.