Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Aceh Timur Belum Pulih: Ratusan Fasilitas Pendidikan Islam Rusak Pasca-Banjir, Belajar Santri Terhambat

2026-01-16 | 02:23 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-15T19:23:26Z
Ruang Iklan

Aceh Timur Belum Pulih: Ratusan Fasilitas Pendidikan Islam Rusak Pasca-Banjir, Belajar Santri Terhambat

Ratusan pesantren atau dayah dan balai pengajian di Kabupaten Aceh Timur masih mengalami kerusakan signifikan akibat banjir bandang yang melanda wilayah tersebut pada akhir November 2025, menyebabkan terhentinya atau terganggunya aktivitas belajar mengajar bagi ribuan santri dan anak-anak pengajian. Sebanyak 120 dayah dan 70 balai pengajian tercatat terdampak, dengan kerusakan bervariasi mulai dari ringan hingga berat. Kondisi ini telah berlangsung lebih dari sebulan, menghambat pemulihan pendidikan agama di tingkat dasar hingga menengah.

Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh Timur, Saiful Nahar, menjelaskan bahwa 16 unit dayah mengalami kerusakan berat, 80 unit rusak sedang, dan 24 unit lainnya rusak ringan. Untuk balai pengajian, 16 unit rusak berat, 43 unit rusak sedang, dan 11 unit rusak ringan. Kerusakan parah umumnya terjadi pada bangunan yang terendam banjir dalam waktu lama, mengakibatkan struktur melemah, lantai dan dinding rusak, serta peralatan belajar tidak dapat digunakan lagi. Beberapa bangunan ruang belajar, asrama santri, dapur, hingga koleksi kitab-kitab pengajian dilaporkan hanyut terbawa arus atau rusak terendam lumpur, membuat ratusan kitab tidak dapat digunakan lagi. Meskipun dayah dengan kerusakan ringan telah beroperasi kembali dengan fasilitas terbatas, kegiatan belajar mengajar di lembaga yang rusak berat terpaksa dihentikan sementara.

Banjir akhir November 2025 itu bukan hanya merusak fasilitas fisik, tetapi juga memicu duka mendalam bagi dunia pendidikan Islam lokal. Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh Timur telah menyuarakan keprihatinan atas dampak bencana ini yang tidak hanya menghancurkan infrastruktur, tetapi juga melenyapkan harta benda dan sumber ilmu para santri. Sebagian besar dayah dan balai pengajian di Aceh Timur terletak di wilayah rawan banjir, sehingga ketika debit air sungai meningkat, fasilitas pendidikan keagamaan ini menjadi salah satu yang paling terdampak.

Pemerintah Kabupaten Aceh Timur, melalui Dinas Pendidikan Dayah, telah menyerahkan seluruh data kerusakan kepada Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) untuk peninjauan lebih lanjut sebelum diteruskan kepada Bupati Aceh Timur guna langkah rehabilitasi. Saiful Nahar berharap adanya dukungan dari pemerintah provinsi maupun pusat agar perbaikan dayah dan balai pengajian dapat segera dilakukan, mengingat peran penting lembaga-lembaga ini dalam pembinaan akhlak dan pendidikan generasi muda. Pemerintah Kabupaten Aceh Timur juga terus berupaya melakukan pemulihan fasilitas pendidikan agama dengan alat berat. Selain itu, Kementerian Agama Republik Indonesia juga telah menyalurkan bantuan senilai total Rp37,95 miliar untuk pemulihan KUA, madrasah, dayah/pesantren, serta masjid dan meunasah di Aceh yang terdampak bencana. PCNU Aceh Timur dan Atjeh Connection Foundation juga telah menyalurkan bantuan berupa bahan pangan, logistik, kitab, dan dukungan tenaga untuk membersihkan dayah dari lumpur.

Implikasi jangka panjang dari terganggunya pendidikan di pesantren dan balai pengajian ini sangat signifikan. Lembaga-lembaga ini merupakan tulang punggung pendidikan karakter dan keagamaan di komunitas, seringkali menjadi satu-satunya akses pendidikan bagi banyak anak di daerah terpencil. Penundaan pemulihan dapat menyebabkan kesenjangan belajar yang berkepanjangan dan berpotensi memengaruhi kualitas sumber daya manusia di masa depan. Selain itu, kerusakan fasilitas dan hilangnya kitab-kitab pengajian memerlukan upaya rekonstruksi yang komprehensif, tidak hanya fisik tetapi juga pemulihan kurikulum dan ketersediaan bahan ajar. Tantangan utama saat ini adalah percepatan proses rehabilitasi dan rekonstruksi serta penyediaan dukungan psikososial bagi para santri dan tenaga pengajar yang terdampak. Kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, lembaga swadaya masyarakat, dan masyarakat sipil menjadi krusial untuk memastikan pendidikan agama di Aceh Timur dapat pulih dan kembali berjalan normal.