Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Sitaro Diterjang Banjir Bandang: Dua Warga Hilang, 30 Rumah Tersapu Arus Deras

2026-01-10 | 07:29 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-10T00:29:01Z
Ruang Iklan

Sitaro Diterjang Banjir Bandang: Dua Warga Hilang, 30 Rumah Tersapu Arus Deras

Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara, terus menghadapi dampak parah banjir bandang yang terjadi pada Senin, 5 Januari 2026 dini hari, dengan tim pencarian dan penyelamatan masih berupaya menemukan dua warga yang hilang, Andris Pianaung dan Leonel Pianaung, sementara total 30 unit rumah dilaporkan hanyut tersapu arus. Bencana hidrometeorologi ini telah merenggut sedikitnya 17 nyawa dan menyebabkan ratusan warga mengungsi, menyoroti kerentanan geografis wilayah kepulauan tersebut terhadap ancaman iklim.

Banjir bandang, yang melanda empat kecamatan yaitu Siau Timur, Siau Tengah, Siau Barat, dan Siau Barat Selatan, dipicu oleh hujan lebat berintensitas tinggi yang mengguyur wilayah itu selama sekitar lima jam tanpa henti, menyebabkan meluapnya air sungai secara tiba-tiba disertai material batuan dan lumpur. Selain 30 rumah yang hilang, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan 52 unit rumah rusak berat, 29 unit rusak sedang, dan 89 unit rusak ringan, dengan total 206 bangunan rusak akibat bencana ini. Sebanyak 691 kepala keluarga atau 693 jiwa kini berada di lokasi pengungsian, menambah beban logistik dan penanganan darurat di daerah tersebut.

Kondisi geografis Pulau Siau secara alamiah sangat rentan terhadap banjir bandang dan tanah longsor. Agus Santoso Budiharso, Dosen Program Studi Teknik Geologi Universitas Prisma Manado, menjelaskan bahwa Pulau Siau merupakan pulau gunung api aktif dengan topografi terjal, lereng curam, serta lembah sempit dan sungai-sungai pendek berenergi tinggi. Batuan penyusun didominasi material vulkanik muda yang bersifat lepas dan mudah jenuh air saat hujan lebat, memicu aliran debris yang sangat destruktif. Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Lana Saria, menambahkan bahwa minimnya dukungan mitigasi dan sistem drainase permukaan yang kurang memadai juga turut memperparah akumulasi air dan mempercepat longsor.

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sitaro telah menetapkan status tanggap darurat bencana hidrometeorologi selama 14 hari, berlaku mulai 5 hingga 18 Januari 2026. Tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, BPBD, pemerintah daerah, dan relawan dikerahkan untuk operasi pencarian, evakuasi, dan pendataan dampak. Bantuan logistik, termasuk sembako dan kebutuhan pokok, juga telah disalurkan oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara dan Bank SulutGo (BSG) untuk meringankan beban para pengungsi. Perbaikan infrastruktur vital seperti akses jalan yang terputus akibat timbunan longsoran batu juga tengah dikerjakan menggunakan alat berat.

Meskipun upaya tanggap darurat berjalan, ancaman longsor dan banjir bandang susulan masih tinggi mengingat kondisi geologi setempat dan potensi cuaca ekstrem. Hal ini menuntut perencanaan mitigasi jangka panjang yang lebih komprehensif, tidak hanya berfokus pada respons pasca-bencana, tetapi juga pada tata ruang berbasis risiko dan sistem peringatan dini yang efektif. Masyarakat yang bermukim di sekitar bantaran sungai dan lereng curam diminta untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat hujan berintensitas tinggi dan berdurasi lama, guna memutus siklus bencana dan merawat harapan bagi keberlanjutan hidup di wilayah kepulauan yang rentan ini.