:strip_icc()/kly-media-production/medias/4068034/original/043228500_1656552613-pexels-jeffry-surianto-8856172.jpg)
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi dampak tidak langsung dari Siklon Tropis Hayley yang memicu cuaca ekstrem parah di kawasan Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengakibatkan penutupan sementara seluruh aktivitas wisata dan pelayaran di destinasi ikonik tersebut sejak 29 Desember 2025. Keputusan penutupan total ini diambil oleh Balai Taman Nasional Komodo (BTNK) menyusul peringatan dini BMKG mengenai potensi hujan lebat, angin kencang mencapai 40-60 kilometer per jam, dan gelombang laut setinggi hingga 4 meter di perairan NTT, yang secara langsung membahayakan keselamatan.
Kepala Stasiun Meteorologi El Tari Kupang, Sti Nenotek, menjelaskan bahwa Siklon Tropis Hayley berkembang dari Bibit Siklon Tropis 96S yang terbentuk di Samudra Hindia selatan NTT dan kini bergerak ke arah tenggara menjauhi wilayah Indonesia, namun dampak sirkulasi siklonik tersebut masih signifikan dirasakan. Dinamika atmosfer ini, diperparah oleh fenomena seperti La Nina lemah yang diperkirakan berlanjut hingga awal 2026, Madden Julian Oscillation (MJO), gelombang Kelvin, dan gelombang Rossby Ekuator, menciptakan kondisi ideal bagi pembentukan awan hujan intensif serta angin kencang di seluruh wilayah NTT. Kondisi ini meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan banjir bandang, terutama di area dengan topografi curam.
Penutupan aktivitas di Taman Nasional Komodo mencakup Pulau Komodo, Pulau Padar, Pulau Rinca, Pink Beach, serta berbagai lokasi penyelaman yang menjadi favorit wisatawan. Kepala BTNK, Hendrikus Siga, menyatakan penutupan berlaku hingga adanya pemberitahuan lebih lanjut demi keselamatan bersama. Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Enik Ermawati menekankan prioritas keselamatan wisatawan setelah insiden tenggelamnya kapal pinisi KM Putri Sakinah di Selat Pulau Padar pada 26 Desember 2025, yang mengakibatkan empat wisatawan asing asal Spanyol masih dalam proses pencarian, serta insiden serupa yang menimpa kapal pinisi Dewi Anjani pada 29 Desember 2025. Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Labuan Bajo telah mencabut Surat Persetujuan Berlayar (SPB) untuk kapal wisata, termasuk speed boat.
Secara historis, wilayah NTT dikenal rentan terhadap cuaca ekstrem karena dinamika atmosfer dan kondisi geologisnya yang unik. Meskipun curah hujan tahunan rata-rata relatif rendah dibandingkan nasional, wilayah ini sering mengalami sirkulasi siklonik di Laut Banda dan sekitar NTT yang memicu peningkatan curah hujan ekstrem dan angin kencang. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan bahwa NTT termasuk dalam 10 provinsi dengan kejadian bencana hidrometeorologi tertinggi selama satu dekade terakhir, dengan lebih dari 170 kejadian tercatat pada 2020-2023 yang berdampak pada lebih dari 150.000 orang.
Implikasi jangka panjang dari fenomena cuaca ekstrem yang semakin sering dan intensif ini menjadi perhatian serius bagi keberlanjutan ekosistem Taman Nasional Komodo dan mata pencarian masyarakat lokal. International Union for Conservation of Nature (IUCN) pada tahun 2021 telah menetapkan komodo sebagai fauna terancam punah (endangered), dengan perubahan iklim dan kenaikan permukaan laut sebagai ancaman utama yang berpotensi mengurangi habitat komodo setidaknya 30 persen dalam 45 tahun ke depan. Komodo merupakan spesies dataran rendah yang hanya dapat hidup pada ketinggian kurang dari 900 meter di atas permukaan laut, sehingga kenaikan permukaan air laut dapat secara langsung mengancam kelangsungan hidup populasi ini.
Di luar dampak ekologis, penutupan pariwisata memiliki konsekuensi ekonomi yang signifikan bagi Labuan Bajo sebagai gerbang menuju Taman Nasional Komodo. Ketergantungan masyarakat pada sektor pariwisata bahari berarti cuaca ekstrem dan penutupan yang terjadi secara berulang dapat mengganggu stabilitas ekonomi lokal. Pemerintah daerah dan BMKG didesak untuk lebih proaktif dalam menyampaikan informasi cuaca serta memberikan rekomendasi yang jelas kepada wisatawan dan pelaku usaha. Upaya mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim menjadi krusial untuk melindungi keanekaragaman hayati unik Taman Nasional Komodo dan memastikan ketahanan masyarakat dalam menghadapi ancaman cuaca ekstrem di masa depan.