Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Serang Lawan Banjir: Warga Gotong Royong Singkirkan Pohon Penghambat Sungai

2026-01-11 | 21:43 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-11T14:43:10Z
Ruang Iklan

Serang Lawan Banjir: Warga Gotong Royong Singkirkan Pohon Penghambat Sungai

Warga Lingkungan Singandaru, Kota Serang, pada 11 Januari 2026, bergotong royong memotong pohon tumbang yang melintang di aliran Sungai Cibanten. Tindakan ini diambil secara swadaya oleh masyarakat setempat sebagai upaya antisipasi dini menghadapi ancaman banjir di tengah kondisi cuaca ekstrem yang sedang melanda.

Insiden ini menggarisbawahi kerentanan Kota Serang terhadap banjir yang telah menjadi masalah kronis selama bertahun-tahun. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Serang mencatat puluhan hingga ratusan kejadian banjir setiap tahun. Sepanjang Januari hingga November 2025 saja, terdapat 87 kasus banjir di Kota Serang, dengan Kecamatan Serang mencatat kejadian tertinggi. Banjir terbaru pada awal Januari 2026 telah berdampak pada 5.700 Kepala Keluarga di delapan kelurahan di Kecamatan Kasemen, dengan Kelurahan Kasunyatan dan Banten menjadi wilayah terparah.

Penyebab utama banjir di Serang kompleks, melibatkan sedimentasi dan penyempitan sungai seperti Ciwaka, Padek, dan Pecinan akibat bangunan liar di daerah aliran sungai. Selain itu, tumpukan sampah rumah tangga dan vegetasi liar juga memperparah kondisi. Plt. Kepala BPBD Kota Serang, Diat Hermawan, pada Desember 2025, menyoroti sampah sebagai pemicu utama setelah timnya menyusuri Sungai Cibanten. Wali Kota Serang Budi Rustandi juga pernah menyatakan alih fungsi lahan di bantaran sungai secara drastis menyempitkan badan sungai dari lebar 15 meter menjadi hanya sekitar satu meter.

Pemerintah Kota Serang telah merespons dengan berbagai langkah. Wakil Wali Kota Serang Nur Agis Aulia menjelaskan tiga fokus penanganan: pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak, layanan kesehatan, dan penanganan akar masalah banjir. Upaya ini termasuk pendirian dapur umum dan pengerahan tenaga medis. Normalisasi sungai, pembersihan drainase, serta pengangkatan sampah dan material penghambat aliran air menjadi prioritas. Bahkan, dalam rencana normalisasi di kawasan Banten Lama, terdapat sekitar 210 rumah yang masuk dalam tahap relokasi, sebuah langkah yang disebut Wali Kota Budi Rustandi sebagai bentuk kepedulian pemerintah untuk keselamatan warga.

Meskipun demikian, aksi swadaya masyarakat seperti pemotongan pohon tumbang di Sungai Cibanten ini menunjukkan bahwa upaya penanggulangan banjir tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada pemerintah. Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Banten, Lutfi Mujahidin, pada Januari 2026, menegaskan bahwa kesadaran masyarakat terhadap lingkungan adalah faktor utama dalam menekan risiko bencana. Perilaku masyarakat, terutama terkait pengelolaan sampah di sungai, masih menjadi tantangan serius.

Inisiatif warga Lingkungan Singandaru mencerminkan tingkat kesadaran dan kepedulian komunitas terhadap lingkungan mereka. Namun, tindakan reaktif seperti ini, meskipun vital dalam jangka pendek, perlu diintegrasikan dengan strategi mitigasi jangka panjang yang lebih terkoordinasi antara pemerintah, komunitas, dan ahli lingkungan. Tanpa solusi holistik yang mencakup penegakan tata ruang, edukasi berkelanjutan mengenai pengelolaan sampah, dan revitalisasi ekosistem sungai, Serang akan terus menghadapi siklus banjir yang berulang. Kolaborasi aktif menjadi kunci untuk memastikan lingkungan hidup yang lebih aman dan berkelanjutan bagi warganya.