:strip_icc()/kly-media-production/medias/5438881/original/069013900_1765341910-Gubernur_DKI_Jakarta__Pramono_Anung-_10_Desember_2025.jpg)
Jakarta, 12 Januari 2026 – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengumumkan bahwa Ibu Kota hingga saat ini belum mencatat kasus Super Flu, sebuah istilah populer untuk varian virus influenza A (H3N2) subclade K, meskipun pemerintah meminta masyarakat tetap waspada dan menerapkan langkah-langkah pencegahan. Pernyataan tersebut disampaikan Pramono Anung pada 11 Januari 2026, menegaskan bahwa Jakarta berada dalam posisi siaga menghadapi potensi penyebaran virus yang telah terdeteksi di delapan provinsi lain di Indonesia.
Super Flu, atau secara medis dikenal sebagai Influenza A (H3N2) subclade K, bukanlah virus baru melainkan mutasi dari virus influenza A H3N2 yang telah dikenal puluhan tahun. Menurut Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, varian ini berbeda dari COVID-19 yang merupakan virus baru, sehingga sistem kekebalan tubuh manusia lebih memiliki memori terhadap virus influenza. Ketua Dewan Penasihat Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daeng M Faqih juga mengonfirmasi bahwa tingkat keparahan Super Flu tidak lebih tinggi dari influenza biasa, meskipun penularannya lebih cepat. Kementerian Kesehatan melaporkan 62 kasus Influenza A (H3N2) subclade K secara nasional hingga akhir Desember 2025, dengan konsentrasi terbanyak di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah mengintensifkan upaya antisipasi melalui Dinas Kesehatan. Gubernur Pramono Anung secara khusus meminta Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, untuk mempersiapkan langkah-langkah preventif. Ani Ruspitawati menjelaskan bahwa belum ada vaksin spesifik untuk Super Flu, namun vaksin influenza yang sudah tersedia dapat digunakan sebagai upaya pencegahan. Meskipun demikian, vaksinasi influenza saat ini masih berbayar dan belum menjadi program pemerintah pusat. Langkah preventif lain yang dianjurkan meliputi penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), mencuci tangan, menggunakan masker di tempat umum, serta menjaga asupan nutrisi dan istirahat cukup.
Data Dinas Kesehatan DKI Jakarta menunjukkan peningkatan kasus penyakit mirip influenza (ILI) sebesar 74 persen pada Agustus 2025 secara nasional yang didominasi oleh influenza A, dengan kecenderungan serupa terjadi di Jakarta. Sementara itu, kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) tercatat 1.966.308 kasus di Jakarta dari Januari hingga Oktober 2025. Mobilitas penduduk Jakarta yang tinggi, terutama pasca libur Natal dan Tahun Baru serta dimulainya musim penghujan, menjadi faktor yang menuntut kewaspadaan ekstra. Anggota Komisi E DPRD DKI Jakarta Elva Farhi Qolbina menekankan pentingnya kesiapsiagaan dini dan belajar dari pengalaman pandemi COVID-19, agar pemerintah tidak terlambat merespons potensi wabah. Elva juga menyoroti kebutuhan untuk melindungi kelompok rentan seperti lanjut usia, anak-anak, dan ibu hamil.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin berulang kali mengimbau masyarakat agar tidak panik, melainkan tetap berhati-hati dengan menjaga imunitas tubuh. Kesiapan fasilitas kesehatan, termasuk ketersediaan tenaga medis dan alat pelindung diri, serta penguatan sistem deteksi dini dan pelaporan penyakit menular di puskesmas dan laboratorium, menjadi elemen krusial dalam menghadapi ancaman ini. Koordinasi lintas sektor dan sosialisasi hingga tingkat komunitas, seperti Rukun Tetangga dan Rukun Warga, juga dianggap penting untuk menyebarkan informasi tentang pola hidup sehat dan pencegahan. Penekanan terhadap protokol kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan kelestarian lingkungan (CHSE) di sektor pariwisata juga menjadi bagian dari upaya antisipasi. Upaya-upaya ini diharapkan dapat memitigasi dampak jika varian influenza H3N2 subclade K menunjukkan peningkatan kasus yang signifikan di masa mendatang.