:strip_icc()/kly-media-production/medias/5466047/original/033956400_1767794019-gunung_semeru.png)
Gunung Semeru di Jawa Timur mengalami erupsi pada Rabu malam, 7 Januari 2026, pukul 19.54 WIB, menyemburkan kolom abu vulkanik setinggi 1.000 meter di atas puncaknya. Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang mengarah ke utara. Erupsi ini menambah daftar panjang aktivitas vulkanik gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut yang telah menunjukkan peningkatan signifikan sepanjang hari.
Sebelum erupsi malam hari, Gunung Semeru tercatat telah meletus setidaknya enam kali pada Rabu pagi, 7 Januari 2026. Letusan-letusan tersebut menghasilkan kolom abu dengan ketinggian bervariasi antara 700 meter hingga 900 meter di atas puncak. Letusan terbesar pada pagi hari tercatat sekitar pukul 06.46 WIB, dengan kolom abu mencapai 900 meter, yang teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal mengarah ke utara dan timur laut.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mempertahankan status Gunung Semeru pada Level III (Siaga). Dalam rekomendasinya, PVMBG mengimbau masyarakat agar tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 13 kilometer dari puncak (pusat erupsi). Di luar jarak tersebut, warga juga dilarang beraktivitas dalam radius 500 meter dari tepi sungai sepanjang Besuk Kobokan karena potensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 kilometer dari puncak. Selain itu, aktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah atau puncak Gunung Semeru dilarang karena rawan terhadap bahaya lontaran batu pijar.
Akumulasi material vulkanik yang terus-menerus mengancam masyarakat di sekitar lereng Semeru. Abu vulkanik halus, yang terdiri dari partikel batuan terfragmentasi, dapat menimbulkan berbagai ancaman kesehatan, termasuk gangguan pernapasan seperti iritasi hidung, tenggorokan, batuk kering, hingga memicu gejala bronkitis parah atau memperburuk kondisi penderita asma. Partikel tajam ini juga berisiko merusak kornea mata. Ancaman awan panas guguran, aliran lava, dan lahar juga tetap tinggi, terutama di sepanjang aliran sungai atau lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru seperti Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat.
Gunung Semeru, dengan ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut, memiliki riwayat letusan panjang dan dikenal sebagai salah satu gunung berapi paling aktif di Indonesia. Catatan letusan terlama terjadi pada 1818, dan aktivitas vulkaniknya terus berlanjut sepanjang abad ke-20 dan 21, termasuk erupsi besar pada 1909 yang menewaskan sedikitnya 700 orang. Pada akhir 2025, Semeru juga menunjukkan peningkatan aktivitas yang signifikan, sempat dinaikkan ke status Awas (Level IV) pada 19 November 2025 sebelum kemudian diturunkan kembali ke Siaga (Level III) pada 29 November 2025. Sejak awal tahun 2026 saja, tercatat Semeru telah erupsi puluhan kali.
Aktivitas Semeru yang fluktuatif menuntut kewaspadaan berkelanjutan. Pemerintah daerah dan PVMBG terus memantau aktivitas gunung serta berkoordinasi untuk mitigasi bencana, termasuk penutupan jalur pendakian dan penyiapan lokasi pengungsian saat diperlukan. Kerusakan infrastruktur dan dampak ekonomi pada sektor pertanian, yang kerap menjadi mata pencarian utama di sekitar lereng gunung, menjadi perhatian serius dalam upaya jangka panjang menghadapi ancaman erupsi.