Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Rekor Gempa Aceh 2025: 1.556 Kejadian, September Paling Intens

2026-01-01 | 16:49 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-01T09:49:09Z
Ruang Iklan

Rekor Gempa Aceh 2025: 1.556 Kejadian, September Paling Intens

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Aceh Besar mencatat aktivitas kegempaan di Provinsi Aceh mencapai 1.556 kejadian sepanjang tahun 2025, dengan frekuensi tertinggi terjadi pada bulan September. Kenaikan aktivitas seismik ini mencapai 39 persen dibandingkan tahun sebelumnya, menunjukkan peningkatan signifikan pada pergerakan lempeng tektonik di wilayah tersebut. Kepala BMKG Stasiun Geofisika Aceh Besar, Andi Azhar Rusdin, pada Kamis (1/1/2026), mengonfirmasi bahwa dari total kejadian gempa tersebut, sebanyak 75 di antaranya dirasakan oleh masyarakat.

Data BMKG lebih lanjut merinci bahwa September 2025 menjadi bulan dengan jumlah gempa terbanyak, yaitu 239 kali kejadian. Meskipun mayoritas gempa yang tercatat sepanjang 2025 tergolong dangkal, yakni 1.466 kejadian berada pada kedalaman kurang dari 60 kilometer, potensi dampaknya terhadap permukaan tetap menjadi perhatian. Gempa bumi dengan magnitudo terbesar mencapai 6,3 mengguncang Simeulue pada 27 November 2025 dan Sabang pada 29 Juli 2025.

Aceh secara geologis merupakan salah satu wilayah paling aktif secara seismik di dunia, terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik utama, yaitu Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia. Kondisi ini juga diperparah dengan keberadaan Sistem Sesar Sumatera (Great Sumatran Fault) yang aktif melintasi daratan Aceh. Sejarah mencatat, wilayah ini pernah mengalami gempa bumi dan tsunami dahsyat pada tahun 2004, yang menegaskan kerentanan inheren Aceh terhadap bencana geologi. BMKG sebelumnya mencatat 1.138 gempa di Aceh pada tahun 2022, menjadikan peningkatan pada 2025 sebagai indikator aktivitas tektonik yang terus berlanjut.

Implikasi dari peningkatan frekuensi gempa ini tidak hanya terbatas pada guncangan fisik, tetapi juga memicu dampak sosial dan psikologis. Ketakutan akan gempa susulan mendorong banyak warga di beberapa daerah, seperti Bener Meriah, untuk menghabiskan malam di luar rumah, mengungsi secara massal demi mencari tempat yang dianggap lebih aman, terutama pasca peningkatan aktivitas Gunung Burni Telong yang statusnya dinaikkan menjadi Level III (Siaga) pada akhir Desember 2025. Interkoneksi antara aktivitas tektonik dan vulkanik ini menunjukkan kompleksitas ancaman bencana di Aceh. Badan Geologi Kementerian ESDM mencatat adanya tujuh kali gempa yang dirasakan di sekitar Burni Telong pada 30 Desember 2025, yang memicu peningkatan aktivitas magma.

Menyikapi kondisi seismik yang dinamis ini, Andi Azhar Rusdin menekankan bahwa Aceh masih berada dalam kondisi aktif secara seismik yang menuntut kesiapsiagaan kolektif. Upaya mitigasi jangka panjang menjadi krusial, termasuk identifikasi dan pemetaan sesar aktif secara lebih detail untuk mendukung kajian mitigasi dan perencanaan pembangunan infrastruktur yang aman dari gempa. Sosialisasi berkelanjutan mengenai pentingnya bangunan tahan gempa juga harus digalakkan di tengah masyarakat. BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan hanya merujuk pada informasi resmi dari lembaga yang berwenang untuk menghindari kepanikan dan berita tidak bertanggung jawab. Sementara itu, bagi warga di sekitar Gunung Burni Telong, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) merekomendasikan untuk tidak beraktivitas dalam radius 4 kilometer dari kawah guna mewaspadai potensi erupsi dan embusan gas berbahaya.