Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Korban Kesepuluh Kecelakaan ATR 42-500 Terungkap di Gunung Bulusaraung

2026-01-23 | 09:56 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-23T02:56:52Z
Ruang Iklan

Korban Kesepuluh Kecelakaan ATR 42-500 Terungkap di Gunung Bulusaraung

Tim SAR gabungan pada Kamis berhasil mengevakuasi enam jenazah korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang jatuh di lereng Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, 17 Januari lalu, sehingga total sembilan dari sepuluh penumpang pesawat kini telah ditemukan. Dengan penemuan ini, operasi pencarian dan pertolongan (SAR) kini berfokus pada satu korban terakhir yang masih dinyatakan hilang di medan pegunungan yang terjal dan sulit.

Pesawat ATR 42-500 dengan nomor registrasi PK-THT yang membawa tujuh awak dan tiga penumpang dari Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia itu hilang kontak pada Sabtu, 17 Januari 2026, saat dalam perjalanan dari Bandara Adisutjipto Yogyakarta menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar. Puing-puing pesawat ditemukan sehari kemudian di sekitar Gunung Bulusaraung. Kecelakaan ini memicu operasi SAR besar-besaran yang melibatkan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), TNI Angkatan Udara, AirNav Indonesia, pemerintah daerah, dan masyarakat sekitar.

Kepala Kantor Basarnas Makassar, Muh Arif, menyatakan sembilan korban ditemukan secara bertahap sejak awal operasi. Dua korban pertama, pramugari Florencia Lolita Wibisono dan staf Kementerian Kelautan dan Perikanan Deden Maulana, berhasil diidentifikasi. Enam korban yang dievakuasi pada Kamis ditemukan dalam kondisi tidak utuh, sebuah tantangan besar bagi tim Disaster Victim Identification (DVI) untuk proses identifikasi lebih lanjut. Pada Jumat, 23 Januari, lima dari korban tersebut dievakuasi melalui jalur udara memanfaatkan jendela cuaca yang terbatas, setelah ditarik dari lereng curam ke puncak gunung.

Medan ekstrem di Gunung Bulusaraung, dengan tebing terjal dan cuaca yang cepat berubah, termasuk hujan deras dan kabut tebal, telah menjadi hambatan signifikan bagi tim penyelamat. Tim SAR harus berjuang di kedalaman jurang sekitar 200 hingga 300 meter dari puncak. Penemuan kotak hitam pesawat, yang terdiri dari perekam suara kokpit (CVR) dan perekam data penerbangan (FDR), pada Rabu, 21 Januari, diharapkan dapat memberikan petunjuk krusial mengenai penyebab kecelakaan. Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah menerima kedua perangkat tersebut untuk analisis mendalam.

Pesawat ATR 42-500 yang mengalami kecelakaan merupakan produksi tahun 2000, berusia 26 tahun, dan dioperasikan oleh Indonesia Air Transport, sebuah perusahaan charter yang telah beroperasi di Indonesia selama lebih dari lima dekade. Jenis pesawat turboprop ini dikenal efisien bahan bakar dan mampu beroperasi di bandara dengan landasan terbatas, sering digunakan untuk penerbangan charter dan rute perintis. Dugaan awal penyebab kecelakaan mengarah pada Controlled Flight Into Terrain (CFIT), di mana pesawat yang berfungsi menabrak daratan atau perairan tanpa disadari pilot. Penyelidikan KNKT akan menguraikan faktor-faktor pasti yang berkontribusi pada insiden ini, termasuk kondisi teknis pesawat, faktor manusia, dan kondisi cuaca saat kejadian. Hasil investigasi akan menjadi dasar rekomendasi keselamatan penerbangan untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang.