
Presiden Prabowo Subianto, pada Senin, 5 Januari 2026, secara terbuka mengkritik sejumlah pakar yang kerap tampil dalam siniar atau podcast, menuding mereka "mengarang" dan senang menciptakan kegaduhan mengenai pemikirannya dan dugaan konflik internal di lingkungan Istana. Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo dalam acara Puncak Natal Nasional 2025 yang berlangsung di Tennis Indoor Senayan, Jakarta.
Prabowo menyatakan keheranannya terhadap para analis yang seolah-olah memahami isi pikirannya. "Saya lihat ada pakar-pakar yang selalu mengerti pikiran Prabowo Subianto. Jadi kadang-kadang kalau saya mau cek kira-kira apa yang dipikirkan Prabowo Subianto, saya cari podcast. Kira-kira apa ya yang sedang dipikirkan oleh Prabowo? Ngarang itu dia. 'Prabowo sedang konflik internal dengan ini, nanti dengan itu'. Senangnya ramai, gaduh, padahal nggak ada saudara-saudara," ujarnya. Kritik ini menyoroti dinamika antara figur politik dan ranah analisis publik, khususnya di platform digital yang semakin masif. Ia mengakui perkembangan teknologi dan media sosial membawa dampak positif, namun juga menyimpan potensi bahaya, terutama dengan banyaknya siniar yang menampilkan pakar yang "bicara asal bicara".
Pernyataan ini bukan kali pertama Prabowo menyuarakan pandangannya tentang pakar dan siniar. Pada 29 Oktober 2025, ia mengakui sering menonton podcast yang mengkritiknya, bahkan menyebut beberapa di antaranya menjengkelkan, namun ia juga menganggapnya sebagai sarana introspeksi dan menolak tudingan otoriter. Ia berkelakar bahwa terkadang para pengamat tersebut "tampaknya lebih tahu tentang Prabowo daripada saya sendiri". Sebelumnya, pada 18 Oktober 2025, saat berbicara di Universitas Kebangsaan Republik Indonesia (UKRI) Bandung, Prabowo sempat mengungkapkan kesedihannya melihat siniar yang "menjelekkan bangsanya sendiri" dan menyebut ada "orang pintar" yang merasa lebih memahami pemikirannya. Tren serupa juga terlihat pada 24 Agustus 2024, saat penutupan Kongres PAN 2024, di mana Prabowo menyindir "orang pintar" yang memilih "omon-omon" di siniar daripada bekerja, serta menyoroti spekulasi mereka tentang dirinya.
Pernyataan berulang dari seorang presiden mengenai kredibilitas pakar di ruang publik berpotensi mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap analisis ilmiah dan kebebasan berekspresi. Kecenderungan untuk menolak narasi yang dianggap "mengarang" oleh pejabat tinggi dapat memicu debat tentang peran independensi ahli dalam mengedukasi publik serta batas-batas kritik yang konstruktif. Hal ini juga dapat mempengaruhi bagaimana media dan platform digital menyeleksi dan menyajikan konten analisis, serta mendorong evaluasi ulang standar editorial di tengah derasnya informasi dan opini.