:strip_icc()/kly-media-production/medias/5465605/original/098614300_1767771778-1000746814.jpg)
Karawang, Jawa Barat — Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman pada Rabu, 7 Januari 2026, secara keliru menyebut nama Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi sebagai Ridwan Kamil saat menyampaikan sambutan dalam acara panen raya dan pengumuman swasembada pangan di Kecamatan Cilebar, Karawang Timur. Insiden verbal yang berlangsung di hadapan Presiden Prabowo Subianto dan sejumlah pejabat tinggi negara ini memicu tawa hadirin, sementara Dedi Mulyadi merespons dengan senyum dan tawa yang menandakan suasana canggung namun mencair.
Momen tersebut terjadi ketika Amran menyapa para kepala daerah. Setelah menyebut beberapa gubernur, ia melontarkan, "Para Gubernur. Ada Pak Ridwan Kamil." Amran segera menyadari kesalahannya, beristigfar, dan meralat, "Eh, Astaghfirullah. Kang Dedi Mulyadi," yang diikuti oleh gelak tawa dan sorakan dari para tamu, termasuk Presiden Prabowo. Menteri Amran kemudian berkelakar bahwa ia harus memotong kambing sebagai 'penebusan' atas kesalahan sebutan nama tersebut, sembari menyampaikan permintaan maaf secara terbuka. "Ini harus potong kambing ya kalau salah nama? Maaf Pak Gubernur," ujarnya dalam nada bercanda. Amran juga menegaskan memiliki hubungan baik dengan Dedi Mulyadi dan sering berkomunikasi via telepon.
Kesalahan pengenalan ini, meski terlihat ringan, mencuatkan kembali dinamika politik Jawa Barat yang kompleks antara Dedi Mulyadi dan Ridwan Kamil. Dedi Mulyadi kini menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat definitif untuk periode 2025-2030, setelah memenangkan Pemilihan Gubernur Jawa Barat 2024 dengan perolehan 14.130.192 suara atau 62,22 persen dari total suara sah. Ridwan Kamil, yang menjabat Gubernur Jawa Barat periode sebelumnya dari September 2018 hingga September 2023, belakangan ini mengindikasikan ketertarikan untuk berkompetisi di Pilkada Jakarta.
Hubungan politik antara Dedi Mulyadi dan Ridwan Kamil telah lama diwarnai rivalitas, terutama terlihat jelas dalam kontestasi Pilkada Jawa Barat 2018. Saat itu, Dedi Mulyadi maju sebagai calon wakil gubernur berpasangan dengan Deddy Mizwar, namun kalah oleh pasangan Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum. Meskipun keduanya sempat bernaung di bawah Partai Golkar, perbedaan tujuan politik akhirnya membawa Dedi Mulyadi pindah ke Partai Gerindra pada tahun 2023, sementara Ridwan Kamil tetap di Golkar.
Insiden di Karawang ini tidak hanya menyoroti transisi kepemimpinan di Jawa Barat tetapi juga mengingatkan publik akan masih kuatnya asosiasi nama Ridwan Kamil dengan jabatan gubernur di mata sebagian pejabat dan masyarakat. Bagi Dedi Mulyadi, yang baru menjabat gubernur efektif sejak Februari 2025, pengakuan resmi dan tepat dari para menteri dan pejabat pusat menjadi krusial untuk memperkuat legitimasinya di tingkat nasional setelah periode transisi yang diisi oleh penjabat gubernur. Kemenangan telaknya pada Pilkada 2024 menunjukkan adanya mandat publik yang kuat, yang perlu diakui secara konsisten oleh semua elemen pemerintahan. Insiden kecil ini, meski disikapi dengan tawa, secara tidak langsung menggarisbawahi pentingnya presisi dalam komunikasi publik pejabat negara, terutama dalam konteks politik regional yang memiliki sejarah persaingan ketat.