:strip_icc()/kly-media-production/medias/3191445/original/003195900_1595837123-IMG-20200723-WA0020.jpg)
Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Hasan Sadikin Bandung mencatat lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut yang secara populer disebut "Super Flu" atau secara medis diidentifikasi sebagai Influenza A (H3N2) subclade K, dengan puncaknya terjadi pada Oktober 2025. Varian influenza yang menimbulkan gejala lebih berat ini telah ditangani di rumah sakit rujukan nasional tersebut, di tengah upaya pemerintah daerah dan pusat dalam meningkatkan kewaspadaan tanpa menimbulkan kepanikan masyarakat.
Data RSUP Hasan Sadikin menunjukkan sekitar 10 kasus Influenza A tipe H3N2 terkonfirmasi di wilayah Jawa Barat sepanjang Agustus hingga Oktober 2025, dengan tren kasus yang berangsur menurun memasuki November. Ketua Tim Penyakit Infeksi New Emerging dan Re-Emerging (Pinere) RSUP Hasan Sadikin Bandung, dr. Yovita Hartantri, mengungkapkan bahwa banyak pasien datang dengan gejala khas influenza seperti batuk dan demam tinggi, namun dengan tingkat keparahan yang lebih serius selama periode puncak tersebut. Hasil uji laboratorium dari sampel yang dikirim ke Balai Besar Laboratorium Biologi Kesehatan di Jakarta baru keluar pada Januari 2026, memastikan jenis virus yang terdeteksi. Satu dari sepuluh pasien yang dirawat di RSUP Hasan Sadikin dilaporkan meninggal dunia. Namun, pasien tersebut memiliki riwayat penyakit bawaan atau komorbid yang berat seperti stroke, gagal jantung, dan gagal ginjal, sehingga penyebab kematian tidak dapat secara langsung diatribusikan hanya kepada "Super Flu".
Istilah "Super Flu" sendiri bukanlah terminologi medis resmi, melainkan sebutan populer di masyarakat untuk menggambarkan infeksi influenza A (H3N2) subclade K yang menunjukkan gejala lebih intens, penularan lebih cepat, dan durasi sakit yang lebih panjang dibandingkan flu musiman biasa. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat pertama kali mengidentifikasi varian subclade K pada Agustus 2025, dan sejak itu telah menyebar ke lebih dari 80 negara, termasuk Indonesia. Hingga akhir Desember 2025, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) mencatat 62 kasus Influenza A (H3N2) subclade K tersebar di delapan provinsi, dengan Jawa Barat termasuk salah satu provinsi dengan jumlah kasus tertinggi.
Direktur Penyakit Menular Kemenkes RI, dr. Prima Yosephine, menegaskan bahwa meskipun varian ini menimbulkan kekhawatiran, situasinya masih terkendali dan tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan yang signifikan dibandingkan varian influenza lainnya. Gejala yang muncul umumnya serupa dengan flu musiman, namun cenderung lebih berat, mencakup demam tinggi, nyeri otot hebat, kelelahan ekstrem, serta batuk dan pilek yang menetap, bahkan sesak napas pada beberapa kasus. Masyarakat diimbau untuk tidak panik, tetapi tetap waspada, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit penyerta yang berisiko lebih tinggi mengalami komplikasi serius.
Peningkatan kasus penyakit pernapasan seperti Influenza-like Illness (ILI) dan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Indonesia, termasuk di Jawa Barat, memang terpantau meningkat sejak awal musim hujan pada Oktober 2025. Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes Aji Muhawarman menjelaskan bahwa suhu udara yang lebih rendah dan kelembapan tinggi selama musim hujan memudahkan virus bertahan dan menyebar luas. Kondisi pascapandemi COVID-19 juga disebut berkontribusi terhadap penyebaran influenza yang lebih luas dan cepat karena terjadi 'immunity gap' atau celah imunitas.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Dinas Kesehatan memastikan 10 kasus "Super Flu" yang tercatat pada periode Agustus-Oktober 2025 sudah tertangani dan pasiennya dalam kondisi sehat, dengan tren kasus yang sudah menurun. Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat, Vini Andiani Dewi, menggarisbawahi pentingnya Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), protokol kesehatan, serta vaksinasi influenza tahunan sebagai langkah pencegahan. Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyatakan bahwa pemerintah kota bersiaga dengan memperkuat layanan kesehatan dan pemantauan kondisi masyarakat, termasuk menyiapkan ruang isolasi di RSUD Bandung Kiwari untuk penanganan kasus serupa. Meskipun demikian, ia menekankan bahwa kebijakan penanganan wabah berskala nasional, seperti imbauan penggunaan masker, harus merujuk pada arahan pemerintah pusat melalui Kementerian Kesehatan.
RSUP Hasan Sadikin telah memiliki prosedur dan kebijakan penanganan pasien dengan infeksi pernapasan melalui transmisi droplet, yang telah berjalan sejak pandemi COVID-19, dan siap memberikan pelayanan kepada pasien yang membutuhkan. Rumah sakit ini, sebagai rujukan tertinggi di Jawa Barat, juga aktif dalam surveilans Severe Acute Respiratory Infections (SARI) untuk memantau kasus infeksi pernapasan akut berat. Meskipun tren kasus "Super Flu" menunjukkan penurunan setelah Oktober 2025, para ahli kesehatan mengingatkan bahwa virus influenza dapat bermutasi secara alami melalui antigenic drift, sehingga kewaspadaan dan upaya pencegahan berkelanjutan tetap krusial.