:strip_icc()/kly-media-production/medias/5463448/original/022246300_1767614038-Pramono.jpeg)
Sekretaris Kabinet Pramono Anung mendesak PT Bank DKI untuk segera melakukan penawaran umum perdana (IPO) saham dengan target awal tahun 2027, sebuah langkah yang berpotensi menyuntikkan kapitalisasi signifikan dan mendorong ekspansi lebih lanjut bagi bank pembangunan daerah milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tersebut. Dorongan ini muncul di tengah kebutuhan Bank DKI untuk memperkuat permodalan guna bersaing lebih ketat dalam industri perbankan yang semakin kompetitif, sekaligus membuka peluang bagi publik untuk berpartisipasi dalam kepemilikan.
Upaya untuk membawa Bank DKI ke pasar modal bukanlah gagasan baru. Wacana IPO telah bergulir setidaknya sejak 2010, namun selalu tertunda karena berbagai pertimbangan, termasuk kondisi pasar, kesiapan internal bank, dan dinamika politik daerah. Pada tahun 2012, Bank DKI bahkan pernah menunjuk penjamin emisi, namun rencana tersebut urung terwujud. Kemudian, rencana IPO kembali mencuat pada tahun 2019 dan 2020 dengan target perolehan dana antara Rp1 triliun hingga Rp3 triliun, namun tetap gagal terealisasi.
Desakan Pramono Anung kali ini memberikan momentum baru, mengingat posisinya sebagai pejabat tinggi negara dan kemungkinan adanya dukungan politik yang lebih kuat dari pemerintah pusat terhadap inisiatif ini. Keberhasilan IPO akan memungkinkan Bank DKI meningkatkan rasio kecukupan modalnya (CAR) dan mengoptimalkan fungsi sebagai bank pembangunan daerah, khususnya dalam mendukung program-program pembangunan dan ekonomi di Jakarta. Dengan permodalan yang lebih kuat, Bank DKI diharapkan dapat memperluas jangkauan kreditnya, terutama ke sektor UMKM dan infrastruktur, yang selama ini menjadi salah satu fokus utama bank daerah.
Di sisi lain, tantangan besar menanti Bank DKI dalam memenuhi persyaratan ketat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk IPO, termasuk transparansi tata kelola perusahaan yang baik (GCG), standar pelaporan keuangan yang akuntabel, serta performa bisnis yang berkelanjutan. Bank DKI telah menunjukkan peningkatan kinerja dalam beberapa tahun terakhir. Per September 2023, laba bersih Bank DKI tercatat sebesar Rp773 miliar, menunjukkan pertumbuhan year-on-year sebesar 8,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Aset bank juga tumbuh 9,8% menjadi Rp83,5 triliun, sementara kredit yang diberikan naik 9,4% menjadi Rp50,1 triliun. Rasio profitabilitas seperti Return on Asset (ROA) berada di 1,48% dan Return on Equity (ROE) sebesar 16,84%, menunjukkan efisiensi operasional yang cukup baik.
Namun, stabilitas kinerja ini harus terus dijaga dan ditingkatkan hingga menjelang target IPO 2027. Selain itu, Bank DKI perlu mempersiapkan strategi komunikasi pasar yang efektif untuk menarik minat investor, baik institusi maupun ritel, di tengah persaingan ketat dengan bank-bank besar lainnya yang sudah lebih dulu melantai di bursa. Potensi penggunaan dana hasil IPO juga menjadi krusial. Dana segar yang diperoleh diharapkan tidak hanya untuk memperkuat modal inti, tetapi juga untuk investasi pada teknologi digital, ekspansi jaringan, dan pengembangan produk perbankan inovatif guna melayani kebutuhan nasabah yang terus berkembang. Keberhasilan IPO Bank DKI dapat menjadi tolok ukur penting bagi bank pembangunan daerah lainnya di Indonesia yang juga mempertimbangkan jalur pasar modal untuk pertumbuhan jangka panjang.