:strip_icc()/kly-media-production/medias/5463460/original/098831000_1767615256-IMG_5339.jpeg)
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung pada Senin, 5 Januari 2026, secara resmi meluncurkan Kartu Debit Visa Bank Jakarta di Lippo Mall Kemang, menandai langkah strategis bank daerah tersebut untuk memperluas kapabilitas transaksi globalnya. Langkah ini tidak hanya bertujuan memperkuat posisi Bank Jakarta dalam ekosistem keuangan internasional, tetapi juga untuk menegaskan ambisi ibu kota Indonesia menjadi salah satu dari 50 kota global terdepan di dunia pada tahun 2030.
Peluncuran kartu debit berstandar internasional ini memungkinkan nasabah Bank Jakarta untuk bertransaksi di lebih dari 200 negara, mencakup pembayaran ritel, transaksi e-commerce, hingga penarikan tunai saat bepergian ke luar negeri. Gubernur Pramono Anung menekankan bahwa kerja sama dengan Visa ini menunjukkan pengelolaan Bank Jakarta yang semakin profesional dan memberikan kemudahan transaksi di mana saja.
Transformasi ini berakar pada serangkaian inisiatif yang telah dijalankan Bank DKI, nama sebelumnya yang digunakan oleh Bank Jakarta. Pada tahun 2024, Bank DKI mencatatkan laba bersih sebesar Rp 779 miliar dan pertumbuhan kredit serta pembiayaan sebesar 2,26% menjadi Rp 53,18 triliun. Segmen UMKM menjadi motor utama pertumbuhan dengan peningkatan 15,47% secara tahunan, mencapai Rp 2,22 triliun pada akhir 2024. Angka-angka ini menunjukkan fondasi kinerja yang relatif kuat di tengah lanskap perbankan yang dinamis.
Visi Pramono Anung melampaui sekadar peluncuran produk; ia mendorong Bank Jakarta untuk mempersiapkan Penawaran Umum Perdana (IPO) pada awal 2027. Ia meyakini, melalui IPO, bank akan diawasi secara langsung oleh publik, meningkatkan transparansi dan kualitas pengelolaan, serta membebaskan bank dari intervensi pejabat atau pihak tertentu. Gubernur juga menyoroti potensi besar integrasi Bank Jakarta dengan sistem pembayaran transportasi publik di Jakarta, seperti Transjakarta yang melayani hingga 1,5 juta pengguna harian. Integrasi ini diharapkan dapat memperkuat basis data Bank Jakarta, menjadikannya aset penting untuk pengembangan bank ke depan.
Implikasi dari langkah "go global" Bank Jakarta ini sangat signifikan. Pertama, ini membuka akses pasar internasional bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Jakarta, membantu mereka menembus konsumen global dan memperluas skala bisnis. Kedua, peningkatan profesionalisme dan tata kelola yang ditekankan oleh Gubernur Pramono diharapkan dapat menarik kepercayaan investor. Ketua Dewan Komisioner OJK, Dian Ediana Rae, sebelumnya telah menyoroti pentingnya transformasi bagi Bank Pembangunan Daerah (BPD) di tengah gejolak ekonomi global untuk meningkatkan daya saing dan menjaga eksistensi.
Meskipun demikian, perjalanan menuju bank berkelas global tidak tanpa tantangan. Persaingan ketat dari bank-bank besar yang telah lama beroperasi di kancah internasional, kompleksitas regulasi perbankan lintas negara, serta kebutuhan akan infrastruktur teknologi dan sumber daya manusia yang mumpuni menjadi pekerjaan rumah yang harus diatasi. Agus H. Widodo, Direktur Utama Bank Jakarta, mengakui bahwa transformasi digital, yang menjadi tulang punggung strategi ini melalui inisiatif seperti super app JakOne Mobile, adalah keniscayaan namun bukan perkara mudah. Kesiapan infrastruktur, budaya organisasi, dan keahlian digital karyawan menjadi kunci.
Ke depan, koordinasi aktif dengan Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjadi krusial untuk memastikan seluruh proses transformasi Bank Jakarta berjalan sesuai ketentuan. Dengan dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan fokus pada profesionalisme serta inovasi digital, ambisi Bank Jakarta untuk menjadi bank global yang mampu melayani transaksi di mana saja memiliki potensi untuk secara fundamental mengubah lanskap perbankan daerah dan memperkuat posisi Jakarta di panggung dunia.