Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Praka Satria Gugur Ditembak KKB: Permintaan Terakhirnya, Melamar Cinta Sejati

2026-01-13 | 00:31 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-12T17:31:20Z
Ruang Iklan

Praka Satria Gugur Ditembak KKB: Permintaan Terakhirnya, Melamar Cinta Sejati

Pada Kamis, 8 Januari 2026, Praka Satria Tino Taopan, prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) dari Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) Mobile Yonif 100/Prajurit Setia Kodam I/Bukit Barisan, gugur ditembak Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Kampung Tetmid, Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan. Kematian tragis prajurit berusia 29 tahun asal Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), ini meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, terutama karena dua minggu sebelumnya ia sempat menyampaikan permintaan terakhir untuk melamar sang pujaan hati bersama kedua orang tuanya pada Hari Raya Natal 2025. Rencana pernikahan yang seharusnya terlaksana pada Juni 2026 kini hanya menjadi kenangan pahit bagi Dominggus Taopan dan Dorkas Yohana, ayah dan ibu almarhum.

Peristiwa baku tembak yang menewaskan Praka Satria terjadi saat ia bertugas mengamankan helikopter yang hendak mendistribusikan logistik berupa bahan makanan ke pos penjagaan. Perwakilan Yonif 100/Bukit Barisan, Kapten Infanteri Desta, menjelaskan KKB telah mengincar proses distribusi tersebut. Praka Satria, yang kemudian dianugerahi kenaikan pangkat anumerta menjadi Kopral Dua (Kopda) Anumerta Satria Tino Taopan, berjuang melindungi rekan-rekannya sebelum gugur di medan tugas. Jenazahnya dievakuasi ke Kupang dan dimakamkan secara militer di Taman Makam Pahlawan Dharma Loka, Kota Kupang, pada Sabtu, 10 Januari 2026.

Kisah Praka Satria mencerminkan dedikasi dan perjuangan panjang. Ia dikenal sebagai sosok pantang menyerah yang harus menjalani tes masuk TNI sebanyak sembilan kali sebelum akhirnya berhasil pada tahun 2018. Ayahnya, Dominggus Taopan, mengenang bagaimana Satria pernah memohon doa saat lolos seleksi pasukan perdamaian PBB, sebuah tugas yang membawanya bertugas di Kongo, Afrika Tengah, selama 13 bulan. Perjalanan hidupnya yang penuh pengorbanan ini berakhir tragis di tengah konflik berkepanjangan di Papua.

Insiden yang menimpa Praka Satria menambah daftar panjang korban konflik bersenjata di Papua. Data menunjukkan bahwa selama tahun 2024, sebanyak 37 personel TNI-Polri menjadi korban konflik dengan KKB, di mana 16 anggota TNI gugur atau terluka. Situasi terus memburuk pada semester pertama tahun 2025, dengan Kapolda Papua Irjen Pol Patrige Renwarin melaporkan 43 orang tewas akibat serangan KKB di wilayah hukum Polda Papua, termasuk empat anggota Polri, dua anggota TNI, dan 37 warga sipil. Operasi seperti Operasi Damai Cartenz-2025 terus dilancarkan untuk mengatasi ancaman keamanan di wilayah-wilayah rawan seperti Nduga, Pegunungan Bintang, dan Yahukimo.

Gugurnya prajurit asal Nusa Tenggara Timur ini menyoroti dampak konflik Papua yang meluas hingga ke daerah lain di Indonesia, membawa duka bagi keluarga-keluarga yang jauh dari garis depan. Kehilangan Praka Satria juga menyoroti kompleksitas tantangan keamanan di Papua, di mana personel militer dan polisi menghadapi ancaman konstan saat menjalankan misi pengamanan dan distribusi logistik di medan yang sulit. Keinginan terakhir Praka Satria yang tak terpenuhi menjadi simbol pengorbanan pribadi di tengah tugas negara yang berisiko tinggi, meninggalkan pertanyaan tentang upaya berkelanjutan untuk mencapai perdamaian dan stabilitas di wilayah tersebut, serta bagaimana negara menghargai dan melindungi mereka yang bertugas di garis depan.