Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

PPI Kupas Tuntas Potensi Kaesang Jadikan Jateng 'Kandang Gajah' Politik

2026-01-12 | 08:07 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-12T01:07:10Z
Ruang Iklan

PPI Kupas Tuntas Potensi Kaesang Jadikan Jateng 'Kandang Gajah' Politik

Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kaesang Pangarep secara ambisius mendeklarasikan upaya partainya untuk menjadikan Jawa Tengah sebagai "Kandang Gajah", menantang dominasi politik Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) yang telah lama menjuluki wilayah tersebut sebagai "Kandang Banteng". Deklarasi tersebut disampaikan Kaesang saat membuka Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PSI Jawa Tengah di Solo pada 8 Januari 2026. Namun, ambisi ini dinilai sulit tercapai, terutama dalam menghadapi kekuatan PDI-P di provinsi tersebut, demikian menurut Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia (PPI) Adi Prayitno.

Gagasan "Kandang Gajah" oleh Kaesang Pangarep, merujuk pada simbol PSI, merefleksikan filosofi gajah sebagai sosok pelindung yang tidak mengamuk saat diserang, selalu defensif, dan pelindung hutan, bukan raja hutan. Pernyataan ini menjadi sinyal agresif PSI untuk menguji peta politik Jawa Tengah menjelang Pemilu 2029, dengan target perolehan 17 kursi di seluruh DPRD kabupaten/kota dan provinsi di wilayah tersebut. Saat ini, PSI memiliki 2 kursi di DPRD Provinsi Jawa Tengah dan total 12 kursi di DPRD kabupaten/kota. Langkah ini dipandang sebagai perlawanan terhadap "teks suci" politik Jawa Tengah yang identik dengan dominasi PDI-P.

Secara historis, Jawa Tengah telah menjadi lumbung suara utama bagi PDI-P, yang dibuktikan dengan julukan "Kandang Banteng" selama bertahun-tahun. Partai berlambang banteng moncong putih ini memiliki 19 kepala daerah dari 35 kabupaten/kota, serta menguasai 412 kursi di DPRD tingkat kabupaten/kota dan provinsi di Jawa Tengah. PDI-P juga memenangkan Pilpres 2014 di Jawa Tengah dengan raihan 66,65% suara untuk pasangan Jokowi-Jusuf Kalla. Dominasi tersebut juga terlihat pada Pilgub Jawa Tengah 2018 ketika Ganjar Pranowo memenangkan kontestasi.

Namun, hasil Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jawa Tengah 2024 menunjukkan adanya pergeseran signifikan. Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Tengah telah menetapkan pasangan Ahmad Luthfi dan Taj Yasin Maimoen sebagai pemenang Pilkada Gubernur dan Wakil Gubernur, mengungguli pasangan Andika Perkasa-Hendrar Prihadi yang diusung PDI-P. Pasangan Luthfi-Yasin memperoleh 11.390.191 suara, sementara Andika-Hendi meraih 7.870.084 suara. Kemenangan Luthfi-Yasin mencakup 32 dari 35 kota/kabupaten di Jawa Tengah. Meskipun PDI-P mengklaim Jawa Tengah masih menjadi basis pemilihnya berdasarkan hasil Pilkada 2024, kekalahan calon yang diusungnya menunjukkan adanya celah dalam dominasi tersebut.

Para pengamat politik menyoroti tantangan besar bagi PSI. Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno, menilai bahwa target Kaesang sulit tercapai karena kuatnya basis ideologis dan sejarah PDI-P di Jawa Tengah. Kendati demikian, Kaesang memiliki modal popularitas yang tinggi di Jawa Tengah. Survei Indikator Politik Indonesia pada Juli 2024 menunjukkan Kaesang memiliki popularitas 84,4 persen, bahkan unggul dalam elektabilitas calon gubernur dengan 25,6 persen, mengalahkan pesaingnya. Pengamat politik dari Undip, Nur Hidayat Sardini, juga berpendapat bahwa kekuatan PDI-P di Jawa Tengah mulai melemah, terlihat dari kesulitan partai tersebut dalam mengusung calon tunggal di beberapa daerah, termasuk Kota Semarang, serta minimnya calon gubernur kuat dari internal partai pada Pilkada 2024.

Di sisi lain, Sekretaris Jenderal PDI-P Hasto Kristiyanto menanggapi ambisi PSI dengan menyatakan bahwa pemilihan masih panjang dan rakyat yang akan menjadi penentu kedaulatan. Hasto menegaskan PDI-P memilih untuk fokus pada konsolidasi organisasi dan melakukan kritik otokritik guna memperkuat akar rumput partainya. Analis lain, Arifki dari Charta Politika, menambahkan bahwa ancaman terhadap PDI-P di Jawa Tengah tidak bisa dibaca tunggal. Selain ekspansi PSI yang menguji ruang simbolik, terdapat Partai Gerindra sebagai partai penguasa yang memiliki sumber daya dan jejaring elite yang menguji struktur kekuasaan, menjadikan PSI sebagai variabel baru yang berkaitan dengan faktor struktural Gerindra.

Pergeseran dinamika politik di Jawa Tengah pasca-Pilkada 2024 dan pernyataan Kaesang ini mengindikasikan bahwa peta kekuatan politik di "Kandang Banteng" tidak lagi absolut. Meskipun upaya PSI untuk menjadikan Jawa Tengah sebagai "Kandang Gajah" menghadapi rintangan besar, terutama dengan sejarah panjang dominasi PDI-P, munculnya kekuatan baru dan keretakan dalam hegemoni partai lama dapat membuka ruang kompetisi yang lebih terbuka di masa depan. Implikasi jangka panjangnya adalah potensi fragmentasi suara dan munculnya kontestasi yang lebih sengit dalam pemilihan-pemilihan berikutnya, memaksa setiap partai untuk merumuskan strategi yang lebih adaptif untuk merebut hati pemilih di wilayah yang secara tradisional telah menjadi basis kekuatan politik tertentu.