:strip_icc()/kly-media-production/medias/1903111/original/072272200_1518697871-Mogok-Kelapa-Gading-2.jpg)
Hujan deras yang mengguyur sejak dini hari Senin, 12 Januari 2026, menyebabkan setidaknya enam rukun tetangga (RT) dan empat ruas jalan di Jakarta terendam banjir. Wilayah Pasar Minggu di Jakarta Selatan menjadi area paling terdampak, dengan ketinggian air mencapai hampir satu meter, mengganggu aktivitas ribuan warga dan memperparah tantangan infrastruktur kota.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta melaporkan bahwa genangan air di Jakarta Selatan meliputi satu RT di Kelurahan Duren Tiga dengan ketinggian 40 sentimeter, dan tiga RT di Kelurahan Pasar Minggu dengan ketinggian air antara 40 hingga 95 sentimeter. Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan BPBD DKI Jakarta, Mohamad Yohan, menyatakan bahwa penyebab utama genangan di Pasar Minggu adalah kombinasi curah hujan tinggi dan luapan Kali Krukut. Selain itu, dua RT di Kelurahan Tanjung Priok, Jakarta Utara, juga tergenang hingga 20 sentimeter.
Empat ruas jalan utama yang terendam banjir termasuk Jalan Anggrek di Rawa Badak Utara, Jalan Walang Baru VII A di Tugu Utara, Jalan Rorotan 10 di Rorotan, dan Jalan Taman Stasiun di Tanjung Priok. Di Pasar Minggu, khususnya di Kelurahan Cilandak Timur, dampak banjir dirasakan oleh ratusan keluarga; laporan lapangan BPBD DKI Jakarta menunjukkan 99 kepala keluarga atau 326 jiwa terdampak di RT 009 RW 003, 149 kepala keluarga atau 476 jiwa di RT 003 RW 003, dan 45 kepala keluarga atau 105 jiwa di RT 013 RW 001. Luapan Kali Sunter juga menyebabkan lumpuhnya arus lalu lintas di Jalan Danau Sunter Utara, Jakarta Utara, dengan ketinggian air mencapai lutut orang dewasa. Hingga laporan terakhir, belum ada laporan mengenai warga yang mengungsi secara massal.
Menanggapi situasi ini, BPBD DKI Jakarta segera mengerahkan personel untuk memantau kondisi dan berkoordinasi dengan Dinas Sumber Daya Air (SDA), Dinas Bina Marga, serta Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat). "Kami dari BPBD DKI Jakarta mengerahkan personel untuk memonitor kondisi genangan di setiap wilayah dan mengoordinasikan Dinas Sumber Daya Air (SDA), Dinas Bina Marga, Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan untuk melakukan penyedotan genangan," ujar Mohamad Yohan. Petugas juga berupaya memastikan tali-tali air berfungsi optimal, bekerja sama dengan lurah dan camat setempat, serta menyiapkan kebutuhan dasar bagi para penyintas. BPBD menargetkan genangan dapat surut dalam waktu cepat.
Banjir telah menjadi persoalan kronis bagi Jakarta, yang sering kali terjadi setiap musim penghujan tiba. Faktor penyebabnya kompleks, tidak hanya karena intensitas curah hujan yang tinggi, tetapi juga meliputi penurunan muka tanah yang signifikan akibat ekstraksi air tanah berlebihan, padatnya pemukiman yang mengurangi area resapan air, serta masalah penumpukan sampah yang menghambat aliran sungai dan sistem drainase. Penelitian dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada Maret 2025 bahkan menyoroti bahwa penurunan muka tanah berkontribusi hingga 145% terhadap peningkatan risiko banjir di Jabodetabek, di samping pengelolaan sumber daya air dan perubahan tata guna lahan.
Pengulangan insiden banjir, terutama di area seperti Pasar Minggu yang memiliki riwayat terdampak luapan Kali Krukut, menunjukkan urgensi solusi jangka panjang yang berkelanjutan. Upaya normalisasi sungai, seperti Kali Ciliwung, masih terhambat oleh keberadaan bangunan liar di bantaran sungai. Tanpa penanganan holistik yang mencakup tata ruang, manajemen air, revitalisasi drainase, serta edukasi masyarakat tentang pengelolaan sampah, siklus banjir akan terus menjadi ancaman yang merugikan secara ekonomi dan sosial bagi ibu kota Indonesia. Kota ini menghadapi tantangan untuk mengintegrasikan mitigasi bencana ke dalam perencanaan pembangunan, demi mencapai resiliensi di tengah perubahan iklim global dan pertumbuhan urban yang pesat.