Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Perjuangan 30 Jam: Evakuasi Jenazah Korban ATR 42-500 dari Jurang Bulusaraung

2026-01-20 | 20:59 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-20T13:59:32Z
Ruang Iklan

Perjuangan 30 Jam: Evakuasi Jenazah Korban ATR 42-500 dari Jurang Bulusaraung

Tim Search and Rescue (SAR) gabungan di Sulawesi Selatan menghadapi pertempuran tiada henti melawan medan ekstrem dan cuaca buruk di Pegunungan Bulusaraung dalam upaya evakuasi jenazah korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang jatuh pada Sabtu, 17 Januari 2026. Lebih dari 72 jam setelah pesawat dinyatakan hilang kontak, proses pemindahan dua jenazah yang telah ditemukan masih berlangsung lamban, menyajikan drama evakuasi yang mendebarkan di tepi jurang dengan kemiringan hingga 90 derajat.

Pesawat dengan registrasi PK-THT, yang disewa oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk misi pengawasan laut, membawa 10 orang—tujuh awak pesawat dan tiga penumpang—ketika kehilangan kontak dengan Air Traffic Control (ATC) Makassar pada pukul 12.23 WITA saat mendekati Bandara Internasional Sultan Hasanuddin. Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah mengklasifikasikan insiden ini sebagai Controlled Flight Into Terrain (CFIT), di mana pesawat yang dalam kondisi terkendali menabrak lereng gunung. Investigasi penyebab pasti insiden, termasuk potensi faktor cuaca dan catatan perbaikan mesin sehari sebelum penerbangan, masih berlangsung.

Sejak puing pesawat ditemukan pada Minggu pagi, 18 Januari 2026, tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, dan relawan, telah berjuang menembus hutan lebat dan tebing curam di perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkajene dan Kepulauan. Jenazah korban pertama, seorang laki-laki, ditemukan pada Minggu sore di kedalaman jurang sekitar 200 meter. Sehari kemudian, pada Senin sore, jenazah kedua yang diduga adalah seorang pramugari berdasarkan tanda pengenal dan kondisi fisik, berhasil ditemukan di lokasi yang tidak kalah menantang.

Kepala Kantor Basarnas Makassar, Muhammad Arif Anwar, menyatakan kesulitan operasi ini terletak pada lokasi penemuan korban yang berada di tebing terjal dan curam, memerlukan teknik evakuasi khusus seperti rappelling. Cuaca ekstrem menjadi hambatan terbesar. Hujan deras, kabut tebal yang membatasi jarak pandang hingga lima meter, serta angin kencang lebih dari 45 kilometer per jam kerap menyelimuti puncak Bulusaraung. "Evakuasi melalui udara menjadi prioritas, tetapi hingga saat ini belum memungkinkan," ungkap Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, menjelaskan bahwa jalur darat adalah satu-satunya opsi yang dapat diandalkan meskipun penuh risiko. Personel SAR bahkan harus bermalam di lokasi, memanfaatkan setiap celah waktu terang yang terbatas.

Daftar manifest pesawat mencakup nama-nama Kapten Andi Dahananto sebagai pilot, Muhammad Farhan Gunawan sebagai kopilot, serta tiga penumpang dari KKP: Ferry Irawan, Deden Mulyana, dan Yoga Naufal. Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Sulawesi Selatan telah mengundang keluarga korban untuk pemeriksaan ante mortem dan post mortem guna membantu proses identifikasi.

Insiden ini menyoroti kembali tantangan keselamatan penerbangan di Indonesia, khususnya di wilayah pegunungan yang kompleks. Meskipun Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menegaskan pesawat ATR 42-500 itu laik terbang sebelum kejadian, KNKT akan terus menyelidiki secara menyeluruh untuk mengidentifikasi semua faktor penyebab. Upaya evakuasi di Bulusaraung tidak hanya menguji ketahanan fisik dan mental tim SAR, tetapi juga memberikan pelajaran berharga dalam manajemen bencana di medan yang paling tidak bersahabat, sekaligus menegaskan pentingnya dukungan berkelanjutan bagi keluarga korban yang menunggu kepastian.