Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Pengemudi Ojek Depok Terkapar Luka Parah usai Dibegal Sadis, Motornya Raib

2026-01-11 | 06:00 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-10T23:00:19Z
Ruang Iklan

Pengemudi Ojek Depok Terkapar Luka Parah usai Dibegal Sadis, Motornya Raib

Seorang pengemudi ojek online, Rahmat Hidayat (45), menjadi korban pembegalan brutal di Jalan Raya Sawangan, Depok, Jawa Barat, pada dini hari Jumat, 9 Januari 2026, mengakibatkan sepeda motornya raib dan korban menderita luka serius di bagian kepala serta tangan akibat sabetan senjata tajam. Insiden ini menambah panjang daftar kasus kekerasan jalanan yang menargetkan pekerja sektor informal di wilayah penyangga ibu kota, memicu kembali kekhawatiran akan keamanan publik dan efektivitas penegakan hukum di area tersebut.

Kasus pembegalan terhadap Rahmat bermula saat ia melintasi area minim penerangan setelah mengantar penumpang. Kawanan pelaku, yang diperkirakan berjumlah empat orang, memepet dan menjatuhkan Rahmat sebelum melancarkan aksi kekerasan. Korban ditemukan warga dalam kondisi tidak sadarkan diri beberapa waktu kemudian dan segera dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Depok. Kondisi Rahmat saat ini masih dalam perawatan intensif, menunjukkan trauma fisik dan psikologis yang mendalam. Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Depok telah memulai penyelidikan, mengumpulkan bukti dari lokasi kejadian dan memeriksa rekaman kamera pengawas di sekitar area. Namun, hingga berita ini diturunkan, belum ada penangkapan yang dilakukan.

Fenomena begal motor, khususnya di wilayah Depok dan sekitarnya, bukanlah masalah baru. Data Kepolisian Resor Metro Depok menunjukkan bahwa kasus kejahatan jalanan, termasuk pencurian dengan kekerasan (curas) yang kerap disebut begal, mengalami fluktuasi namun cenderung konsisten menjadi perhatian utama. Pada tahun 2024, tercatat lebih dari 150 kasus curas terjadi di Depok, dengan sebagian besar menargetkan pengendara sepeda motor, angka yang meningkat dari tahun sebelumnya. Pihak kepolisian seringkali menghadapi tantangan dalam memberantas sindikat ini, yang kerap beroperasi secara terorganisir dan berpindah-pindah lokasi.

Kepala Pusat Studi Kriminologi Universitas Indonesia, Dr. Antariksa Widagdo, menyatakan bahwa kasus begal brutal seperti yang dialami Rahmat Hidayat seringkali merupakan indikasi dari faktor sosial ekonomi yang kompleks, diperparah dengan lemahnya pengawasan di titik-titik rawan. "Peningkatan angka pengangguran, terutama di kalangan usia produktif, seringkali berkorelasi dengan peningkatan kejahatan jalanan. Ditambah lagi, kurangnya penerangan jalan dan patroli rutin di jam-jam rawan memberikan celah bagi para pelaku," ujar Dr. Antariksa. Ia menekankan perlunya pendekatan holistik yang tidak hanya berfokus pada penindakan represif, tetapi juga upaya preventif melalui pemberdayaan ekonomi masyarakat dan peningkatan infrastruktur keamanan publik.

Para pengemudi ojek online di Depok menyampaikan kekhawatiran mendalam. Joni Iskandar (38), koordinator komunitas ojek online "Depok Bikers Bersatu," mengungkapkan bahwa insiden ini telah menimbulkan ketakutan di kalangan rekan-rekannya. "Kami mencari nafkah di jalan, tapi sekarang setiap malam terasa mencekam. Kami berharap polisi bisa lebih serius menindak pelaku dan pemerintah kota bisa menyediakan penerangan yang cukup di jalan-jalan rawan," kata Joni. Kekhawatiran ini mencerminkan dampak langsung kejahatan ini terhadap sektor ekonomi informal yang sangat rentan, di mana para pekerja mempertaruhkan keselamatan mereka setiap hari untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Implikasi jangka panjang dari insiden semacam ini melampaui kerugian finansial dan cedera fisik. Perasaan tidak aman yang meluas dapat mengikis kepercayaan publik terhadap institusi penegak hukum dan memengaruhi mobilitas sosial serta ekonomi masyarakat. Diperlukan koordinasi yang lebih kuat antara kepolisian, pemerintah daerah, dan komunitas lokal untuk mengidentifikasi dan mengatasi akar masalah kejahatan jalanan. Langkah-langkah seperti peningkatan patroli gabungan, pemasangan kamera pengawas yang terintegrasi, serta program rehabilitasi bagi mantan narapidana dan pemberdayaan ekonomi masyarakat rentan, dapat menjadi bagian dari solusi komprehensif untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi seluruh warga Depok. Kegagalan untuk menanganinya secara serius berpotensi memperparah spiral kekerasan dan ketidakamanan di masa mendatang.