:strip_icc()/kly-media-production/medias/5456003/original/066739000_1766758814-Puncak_Cianjur.jpeg)
Ancaman cuaca ekstrem dengan potensi banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang telah memicu peringatan serius dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, kepada warganya. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan dini untuk Jawa Barat, termasuk Cianjur, terkait hujan lebat dan angin kencang yang diperkirakan berlangsung hingga pertengahan Januari 2026, dengan puncak curah hujan tertinggi diprediksi sepanjang bulan ini. Pemerintah Kabupaten Cianjur bahkan telah menetapkan status darurat bencana hingga April 2026, menyiagakan puluhan petugas dan 360 relawan untuk respons cepat.
Cianjur, dengan topografi berbukit dan berada di jalur sesar aktif, secara historis merupakan wilayah yang sangat rentan terhadap bencana hidrometeorologi. Fenomena iklim global La Niña dengan intensitas lemah yang diprediksi akan bertahan hingga awal tahun 2026, serta menguatnya monsun Asia, pusat tekanan rendah, dan kenaikan suhu muka laut di perairan Indonesia, menjadi faktor pendorong peningkatan curah hujan. Kondisi ini memperparah kerentanan geologis Cianjur, di mana alih fungsi lahan dari pertanian kering menjadi basah di area perbukitan memicu keretakan tanah yang berujung pada longsor.
Sekretaris BPBD Cianjur, Asep Sudrajat, menegaskan bahwa sebagian besar wilayah Cianjur masuk dalam "zona merah tertinggi bencana alam", sehingga masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan. Wilayah Cianjur selatan, khususnya kecamatan Cidaun, Sindangbarang, Agrabinta, dan Campaka, diidentifikasi sebagai daerah paling rawan terhadap banjir, longsor, dan pergeseran tanah. Catatan BPBD Cianjur pada Desember 2024 menunjukkan 15 kecamatan di Cianjur pernah berstatus darurat bencana, dengan 185 rumah rusak, 381 terendam, dan 1.375 jiwa terdampak. Selain itu, kawasan Puncak, Cipanas-Cianjur, Jalan Raya Bandung-Cianjur, hingga wilayah perkotaan menjadi titik rawan pohon tumbang akibat angin kencang yang kerap menyertai hujan deras.
Bupati Cianjur, Mohammad Wahyu Ferdian, menyoroti cuaca ekstrem sebagai perhatian khusus dalam agenda kerjanya untuk 2026. Beliau telah menginstruksikan jajaran kecamatan dan desa untuk mengedukasi masyarakat agar lebih peka membaca tanda-tanda alam dan meningkatkan kesiapsiagaan guna meminimalisir korban jiwa. Kepala BPBD Cianjur, Iwan Karyadi, menambahkan bahwa pihaknya telah menyiagakan seluruh petugas dan relawan di setiap desa untuk pemetaan, pemantauan, dan penanganan cepat, termasuk evakuasi warga ke tempat aman saat terjadi bencana. Koordinasi dengan dinas terkait, termasuk PUPR provinsi dan pusat, juga dilakukan untuk menyiagakan alat berat di titik-titik rawan longsor yang berpotensi menutup akses jalan.
Kesiapsiagaan kolektif ini menjadi krusial mengingat BMKG memprediksi curah hujan di Jawa Barat, termasuk Cianjur, akan berada dalam kategori tinggi hingga sangat tinggi pada Januari 2026. Meskipun peringatan dini ini bersifat dinamis dan dapat diperbarui, upaya mitigasi dan adaptasi yang berkelanjutan adalah kunci untuk melindungi masyarakat dan infrastruktur dari dampak cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi.