:strip_icc()/kly-media-production/medias/5474429/original/064492000_1768476777-1001510947.jpg)
Seorang wisatawan pria bernama Yohanes Bere, 28 tahun, masih belum ditemukan hingga hari kelima upaya pencarian setelah dilaporkan tenggelam di Air Terjun Tiwi Pai Wotong, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, pada Minggu, 11 Januari 2026. Tim SAR gabungan menghadapi tantangan signifikan berupa medan yang sulit dan debit air yang tinggi, menghambat progres pencarian di lokasi yang dikenal memiliki arus deras dan topografi curam tersebut.
Peristiwa nahas ini terjadi ketika Yohanes Bere, warga desa setempat, sedang mandi di area air terjun dan diduga terpeleset atau terseret arus deras. Tim SAR gabungan yang terdiri dari personel Basarnas Pos SAR Sumba, Polsek Katala Hamu Lingu, Koramil 1601-05 Waingapu, BPBD Sumba Timur, dan warga setempat, telah menyisir area sekitar titik kejadian, termasuk dasar kolam air terjun dan aliran sungai di bawahnya. Kepala Kantor Basarnas Maumere, Supriyanto Ridwan, menyatakan bahwa tim telah mengerahkan perahu karet dan perlengkapan selam, namun jarak pandang di bawah air sangat terbatas karena kondisi air yang keruh pasca-hujan deras. Kendala utama lain adalah akses menuju lokasi air terjun yang terpencil dan memerlukan perjalanan kaki melewati hutan lebat dan medan berbatu.
Insiden tenggelam di objek wisata alam, terutama air terjun, bukan merupakan kasus terisolasi di Nusa Tenggara Timur. Data sebelumnya menunjukkan beberapa kecelakaan serupa terjadi di lokasi wisata air lainnya di wilayah tersebut, sering kali disebabkan oleh kurangnya rambu peringatan, minimnya pengawasan, serta kelalaian pengunjung terhadap potensi bahaya alam. Air Terjun Tiwi Pai Wotong, meskipun menawarkan keindahan alam, belum memiliki infrastruktur keamanan yang memadai, seperti pos penjagaan atau papan peringatan keselamatan yang jelas di setiap titik rawan. Pihak berwenang dan pengelola objek wisata di daerah itu seringkali menghadapi keterbatasan anggaran dan sumber daya manusia untuk secara efektif memonitor dan mengamankan seluruh area wisata alam.
Implikasi jangka panjang dari insiden seperti ini dapat mencakup penurunan minat wisatawan terhadap destinasi wisata alam yang dianggap berisiko, serta potensi tuntutan publik terhadap peningkatan standar keselamatan. Penting bagi pemerintah daerah melalui dinas pariwisata untuk mengevaluasi ulang protokol keamanan di semua objek wisata alam, khususnya yang melibatkan aktivitas air. Hal ini termasuk pemasangan rambu peringatan multibahasa, penyediaan penjaga pantai atau pemandu terlatih, serta edukasi berkelanjutan kepada masyarakat dan wisatawan mengenai pentingnya keselamatan diri saat berinteraksi dengan alam. Tanpa langkah proaktif yang komprehensif, insiden serupa berisiko terulang, mengikis potensi pariwisata daerah yang berkelanjutan di Sumba Timur dan sekitarnya.