:strip_icc()/kly-media-production/medias/5469716/original/056535800_1768179003-IMG-20260112-WA0018.jpg)
Jasad M. Irfan (13), remaja yang dilaporkan tenggelam di Sungai Martapura, Banjarmasin Barat, ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada Senin dini hari, 12 Januari 2026, setelah tiga hari upaya pencarian intensif. Korban, warga Jalan Sekeluarga II, Kelurahan Pekauman, dilaporkan hilang sejak Sabtu, 10 Januari 2026, setelah diduga terjatuh dan terseret arus deras sungai di kawasan Jalan Rantauan Darat.
Insiden tragis ini menambah daftar panjang korban tenggelam di perairan Kalimantan Selatan, khususnya di Sungai Martapura yang membelah Kota Banjarmasin, menyoroti urgensi akan pengawasan ketat dan edukasi keselamatan air yang lebih efektif. Tim SAR Gabungan, yang melibatkan Kantor SAR Banjarmasin, TNI AL, Ditpolairud Polda Kalimantan Selatan, Satpol Air Polresta Banjarmasin, serta sejumlah relawan, berhasil menemukan jasad Irfan sekitar 200 meter ke arah hilir dari titik awal dugaan jatuhnya korban, pada pukul 01.00 WITA. Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Banjarmasin, I Putu Sudayana, menjelaskan bahwa tim menggunakan berbagai peralatan, termasuk perahu karet dan Aqua Eye untuk pemindaian bawah air, guna memastikan area dasar sungai tersisir maksimal. Setelah dievakuasi, jenazah korban langsung diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan.
Kematian Irfan terjadi di tengah peringatan berulang dari otoritas terkait mengenai bahaya aktivitas di sungai, terutama saat kondisi air pasang dan arus deras. Kompol Dading Kalbu Adie, Kasat Polairud Polresta Banjarmasin, pada Minggu (11/1/2026), mengimbau masyarakat agar lebih waspada dan meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak yang kerap bermain atau mandi di sungai. Ia menekankan bahwa kondisi sungai yang berisiko dengan kedalaman air meningkat dan arus yang dapat berubah sewaktu-waktu sangat berbahaya bagi anak-anak yang belum memiliki kemampuan berenang yang memadai. Dinas Perhubungan Kota Banjarmasin juga secara rutin melaksanakan patroli dan memberikan teguran serta imbauan kepada anak-anak yang bermain atau berenang di bawah jembatan, area yang merupakan jalur lalu lintas padat bagi kelotok dan kapal.
Tragedi ini bukanlah insiden tunggal. Dalam dua hari berturut-turut, dua anak dilaporkan meninggal dunia akibat tenggelam saat mandi di sungai di Banjarmasin. Selain itu, pada Jumat (9/1/2026), seorang anak berusia 12 tahun juga dilaporkan tenggelam di lubang bekas galian tambang batu bara di Tanah Laut, menyoroti berbagai risiko perairan di Kalimantan Selatan. Sungai Martapura sendiri, sebagai anak Sungai Barito dengan panjang sekitar 36,5 km dan dikelilingi aktivitas padat mulai dari permukiman hingga industri, menghadapi potensi tinggi masuknya limbah cair maupun padat. Analisis tahun 2022 menunjukkan pencemaran logam berat di Sungai Martapura, dengan kadar besi (Fe) mencapai tujuh kali lipat dari batas aman di beberapa titik. Meskipun pencemaran ini belum tentu menjadi penyebab langsung insiden tenggelam, kondisi lingkungan sungai yang kompleks turut menambah risiko bagi masyarakat, terutama anak-anak.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan dan pemerintah daerah terus dihadapkan pada tantangan besar dalam mitigasi bencana air dan peningkatan keselamatan masyarakat. Upaya penanggulangan banjir, seperti percepatan pembangunan Bendungan Riam Kiwa, sedang digalakkan untuk mengatasi luapan air yang sering terjadi. Namun, insiden tenggelam anak-anak menyoroti perlunya fokus lebih spesifik pada program edukasi keselamatan air yang menyasar komunitas pesisir sungai, serta penegakan aturan terkait aktivitas di area berisiko tinggi. Anggota Komisi III DPRD Provinsi Kalimantan Selatan, Habib Farhan BSA, bahkan menyarankan agar perusahaan tambang dan perkebunan di Kalsel menyisihkan 15 persen dana CSR mereka untuk pembangunan infrastruktur pencegahan banjir, menunjukkan adanya kesadaran akan tanggung jawab kolektif. Namun, tanpa tindakan preventif yang konsisten dan pengawasan komunitas yang berkelanjutan, insiden tenggelam seperti yang menimpa M. Irfan kemungkinan akan terus berulang, menjadikan Sungai Martapura sebagai pengingat pahit akan bahaya yang mengintai di perairan.