Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Pegunungan Bantimurung Maros: Titik Krusial Pencarian Pesawat ATR KKP

2026-01-18 | 15:18 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-18T08:18:16Z
Ruang Iklan

Pegunungan Bantimurung Maros: Titik Krusial Pencarian Pesawat ATR KKP

Sebuah pesawat ATR 42-500 yang disewa Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) hilang kontak pada Sabtu, 17 Januari 2026, sekitar pukul 13.17 WITA saat melakukan pendekatan menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan, memicu operasi pencarian besar-besaran yang difokuskan di kawasan pegunungan karst Bantimurung, Kabupaten Maros. Pesawat dengan nomor registrasi PK-THT yang dioperasikan oleh Indonesia Air Transport (IAT) ini mengangkut total 11 orang, terdiri dari delapan kru pesawat dan tiga pegawai KKP yang sedang menjalankan misi pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan melalui udara.

Operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) gabungan, yang melibatkan sekitar 476 personel dari Basarnas, TNI, Polri, pemerintah daerah, dan berbagai potensi SAR lainnya, berhasil menemukan badan dan ekor pesawat pada Minggu, 18 Januari 2026, pukul 08.09 WITA, di lereng selatan puncak Gunung Bulusaraung, yang merupakan bagian dari Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Sebelumnya, serpihan material yang diduga berasal dari pesawat telah ditemukan oleh warga dan tim SAR di beberapa titik di kawasan pegunungan tersebut. Laporan awal juga mencatat adanya suara ledakan dan penampakan titik api di sekitar lokasi dugaan jatuhnya pesawat, yang mengindikasikan kemungkinan benturan keras dengan medan.

Kepala Seksi Operasi Basarnas Makassar, Hamsidar, menjelaskan bahwa fokus pencarian diarahkan ke pegunungan kapur Bantimurung berdasarkan koordinat terakhir yang diberikan Air Traffic Control (ATC) Makassar. Medan yang terjal dan berbukit, ditambah kondisi cuaca yang sering berkabut tebal, menjadi tantangan signifikan bagi tim SAR. Untuk mengatasi kendala komunikasi di daerah pegunungan, tim SAR bahkan menggunakan repeater komunikasi dan perangkat Starlink portabel. Helikopter Caracal milik TNI Angkatan Udara turut dikerahkan untuk observasi udara dan disiapkan untuk evakuasi jika kondisi memungkinkan. Penggunaan drone juga menjadi prioritas untuk asesmen lokasi dan pembukaan jalur evakuasi karena risiko tinggi medan karst.

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono telah mengonfirmasi identitas tiga pegawai KKP yang berada di pesawat, yaitu Ferry Irawan, Deden Mulyana, dan Yoga Naufal, semuanya dari Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP). Pilot pesawat diidentifikasi sebagai Kapten Andy Dahananto. Kecelakaan ini menyoroti risiko operasional dalam misi pengawasan maritim, yang seringkali mengharuskan penerbangan di wilayah dengan topografi sulit. Pesawat ATR 42-500, buatan tahun 2000, dengan nomor seri 611, dipilih KKP karena kemampuannya dalam penerbangan rendah dan jangkauan luas untuk mencapai wilayah perairan terpencil.

Meskipun serpihan dan badan pesawat telah ditemukan, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyatakan belum dapat memastikan secara final penyebab hilangnya pesawat tersebut karena penyelidikan masih berlangsung. Dugaan awal mengarah pada kemungkinan pesawat menabrak gunung, dengan spekulasi bahwa Emergency Locator Transmitter (ELT) pesawat mungkin tidak berfungsi akibat benturan, menghambat upaya pencarian awal. Selain itu, ada indikasi awal bahwa pesawat mungkin tidak berada pada jalur pendekatan yang semestinya saat mencoba mendekati landasan di Makassar. Insiden ini mendorong Komisi V DPR RI untuk mendesak pengetatan uji kelaikan terbang pesawat demi memprioritaskan keselamatan manusia. Peristiwa ini secara signifikan menyoroti kompleksitas dan bahaya yang melekat pada operasi pengawasan udara di Indonesia, khususnya di wilayah dengan karakteristik geografis menantang seperti Sulawesi.