Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

BMKG Ingatkan Jabodetabek Waspada Hujan Deras Hingga 23 Januari

2026-01-18 | 15:26 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-18T08:26:48Z
Ruang Iklan

BMKG Ingatkan Jabodetabek Waspada Hujan Deras Hingga 23 Januari

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi wilayah Jabodetabek akan diguyur hujan lebat yang disertai petir dan angin kencang hingga Jumat, 23 Januari 2026, memicu kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi. Peringatan dini ini dikeluarkan setelah sebagian wilayah Jakarta sudah dilanda banjir pada Minggu pagi, 18 Januari 2026, yang mengganggu aktivitas dan layanan transportasi publik.

Peningkatan curah hujan signifikan ini dipicu oleh kombinasi beberapa fenomena atmosfer yang terjadi secara bersamaan. BMKG mengidentifikasi keberadaan Bibit Siklon Tropis 96S dan 97S di sekitar wilayah Indonesia, seruakan dingin (cold surge) dari Asia, serta aktifnya gelombang atmosfer Rossby dan Kelvin. Selain itu, kondisi udara yang sangat lembap di berbagai ketinggian dan labilnya atmosfer turut memicu pertumbuhan awan cumulonimbus secara masif di sebagian besar Jabodetabek. Fase La Niña lemah juga berkontribusi pada peningkatan pasokan uap air di wilayah Indonesia, memperkuat potensi hujan.

Untuk periode 17-19 Januari 2026, hujan lebat disertai petir dan angin kencang diperkirakan melanda Jakarta Utara, Jakarta Timur, Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang Selatan, serta Kabupaten dan Kota Bogor. Memasuki periode 20-23 Januari 2026, potensi cuaca ekstrem diprediksi lebih terkonsentrasi di Kepulauan Seribu dan Kabupaten Bogor.

Dampak langsung telah terlihat pada Minggu, 18 Januari 2026. Sebanyak enam rukun tetangga (RT) di Jakarta Barat, Jakarta Utara, dan Jakarta Timur terendam banjir pada pagi hari dengan ketinggian air mencapai 60 sentimeter setelah hujan deras semalam. Menjelang siang, data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta menunjukkan 39 RT dan 28 ruas jalan masih tergenang, dengan beberapa titik di Jakarta Pusat dan Jakarta Timur mencapai kedalaman 110 sentimeter. Layanan KRL Commuter Line rute Jakarta Kota-Tanjung Priok juga dilaporkan terganggu akibat genangan air di sekitar stasiun dan jalur rel.

Sebagai langkah mitigasi, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah memperpanjang pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dari 16 hingga 22 Januari 2026. Kepala BPBD DKI Jakarta, Isnawa Adji, menjelaskan bahwa OMC bertujuan menekan risiko bencana hidrometeorologi, terutama banjir dan genangan, dan melengkapi upaya lain seperti penguatan kesiapan pompa, pengerukan saluran air, serta kesiagaan personel di lapangan. Penjabat Gubernur DKI Jakarta, Pramono, sebelumnya telah memerintahkan BPBD untuk melakukan modifikasi cuaca selama lima hari guna mempersingkat durasi hujan dan mengurangi dampak banjir. Ia juga menyatakan kesiapan anggaran untuk OMC hingga 30 hari jika diperlukan.

Jabodetabek, khususnya Jakarta, secara historis rentan terhadap banjir. Berada di dataran rendah dengan 13 aliran sungai, wilayah ini sangat bergantung pada kondisi cuaca di hulu, Jawa Barat dan Banten, sehingga kerap menghadapi "banjir kiriman". Data statistik menunjukkan bahwa pada tahun 2023, Jakarta mencatat 7 kejadian banjir dari total 17 bencana, mengakibatkan 1.874 jiwa mengungsi dan 382 rumah rusak. Banjir besar yang melanda Jabodetabek pada Maret 2025 menyebabkan kerugian ekonomi hingga Rp1,7 triliun, di mana sektor perumahan menjadi yang paling terdampak dengan kerugian mencapai Rp1,34 triliun. Curah hujan ekstrem seperti 377 mm per hari pada 1 Januari 2020 menunjukkan kapasitas drainase yang seringkali terlampaui.

BMKG mengimbau masyarakat untuk senantiasa memantau informasi cuaca terkini melalui kanal resmi, menyesuaikan rencana perjalanan dan aktivitas luar ruangan, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir, tanah longsor, dan gangguan transportasi. Kesiapsiagaan masyarakat di daerah rawan sangat penting untuk meminimalkan risiko dari ancaman cuaca ekstrem ini.