Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

NTB Waspada: Kasus Super Flu Terdeteksi pada Anak Perempuan

2026-01-14 | 22:26 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-14T15:26:03Z
Ruang Iklan

NTB Waspada: Kasus Super Flu Terdeteksi pada Anak Perempuan

Seorang anak perempuan berusia 12 tahun di Nusa Tenggara Barat (NTB) dinyatakan positif terinfeksi varian influenza A (H3N2) subclade K, yang populer disebut "Super Flu", berdasarkan hasil pemeriksaan spesimen pada 5 Januari 2026 di Laboratorium Kesehatan Masyarakat Surabaya. Konfirmasi ini menandai kasus pertama yang teridentifikasi secara resmi di provinsi tersebut, setelah delapan sampel anak-anak dengan gejala serupa dikirim untuk pengujian pada 10 November 2025. Sebelumnya, Dinas Kesehatan Provinsi NTB secara konsisten melaporkan nihil kasus "Super Flu" di wilayahnya, meskipun kekhawatiran nasional meningkat seiring penyebaran varian ini di beberapa provinsi lain.

Munculnya varian Influenza A (H3N2) subclade K, yang pertama kali teridentifikasi oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat pada Agustus 2025, telah memicu kewaspadaan global. Varian ini mendapat julukan "Super Flu" karena kecepatan penularannya yang sangat tinggi. Hingga awal Januari 2026, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengonfirmasi 62 kasus "Super Flu" telah tersebar di delapan provinsi di Indonesia, dengan konsentrasi terbanyak di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat. Mayoritas kasus teridentifikasi pada kelompok perempuan dan anak-anak.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB, Dr. Lalu Hamzi Fikri, menegaskan bahwa timnya telah melakukan penyelidikan epidemiologis dan penanganan di lapangan segera setelah konfirmasi kasus. Pemeriksaan dan pemantauan ketat terhadap kontak erat serta lingkungan sekitar kasus dilakukan selama dua kali masa inkubasi virus, dan hasil pemantauan menunjukkan tidak ditemukan kasus tambahan, yang mengindikasikan klaster kasus berhasil dikendalikan. Meski demikian, Dr. Fikri menekankan situasi belum sepenuhnya bebas risiko tambahan kasus.

Gejala "Super Flu" secara umum menyerupai flu musiman, meliputi demam, batuk, nyeri tenggorokan, malaise, sakit kepala, hidung berair, dan myalgia, namun durasinya cenderung lebih lama dan demam yang dialami penderita bisa lebih tinggi. Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dokter Piprim Basarah Yanuarso SpA(K), mengemukakan bahwa "Super Flu" dapat menginfeksi anak-anak, dan pada anak dengan komorbid atau penyakit penyerta, gejala yang muncul dapat lebih berat, bahkan berisiko menyebabkan komplikasi seperti pneumonia yang memerlukan rawat inap. Ahli Telinga Hidung Tenggorokan (THT) Universitas Mataram (Unram), Prof. Dr. dr. Hamsu Kadriyan, M.Kes., Sp.THT-KL(K)., M.Kes., menambahkan bahwa kematian akibat "Super Flu" umumnya bukan disebabkan langsung oleh virus, melainkan oleh komplikasi lanjutan yang menyerang paru-paru.

Menanggapi situasi ini, Dinas Kesehatan NTB telah mengintensifkan koordinasi dengan sepuluh kabupaten/kota di wilayahnya. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi NTB, H. Badarudin, S.Kep.,Ns., MM., mengimbau masyarakat untuk membiasakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), seperti sering mencuci tangan, menghindari menyentuh wajah, menjaga jarak, menjaga daya tahan tubuh, serta membatasi kontak untuk mencegah penyebaran. Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram, dr. H. Emirald Isfihan, juga meminta masyarakat untuk tetap tenang dan tidak panik berlebihan, karena "Super Flu" masih tergolong penyakit ringan jika ditangani dengan benar, meskipun gejala dapat lebih berat dari flu biasa. Vaksinasi influenza tahunan juga menjadi langkah penting, terutama bagi kelompok rentan.

Epidemiolog Universitas Airlangga (UNAIR), Dr. Windhu Purnomo, menekankan bahwa di tengah mobilitas masyarakat yang kembali tinggi, kewaspadaan tidak berarti panik, tetapi harus diiringi dengan deteksi dini dan tindakan pencegahan. Sementara itu, epidemiolog dan ahli kesehatan lingkungan, Dicky Budiman, menjelaskan bahwa "Super Flu" dalam konteks Indonesia sejatinya sudah masuk kategori wabah musiman dan belum mengarah pada pandemi besar seperti COVID-19. Namun, ia mengingatkan bahwa musim hujan meningkatkan risiko penularan karena aktivitas masyarakat lebih banyak di ruang tertutup, menciptakan lingkungan ideal bagi penyebaran virus pernapasan. Perhimpunan Ahli Mikrobiologi Klinik Indonesia (PAMKI) juga mengingatkan bahwa influenza dapat menimbulkan komplikasi serius seperti pneumonia, perburukan penyakit kronis, dehidrasi berat, hingga kematian, terutama pada kelompok berisiko tinggi. Penguatan sistem surveilans dini dan kesiapan fasilitas kesehatan menjadi krusial untuk menekan dampak kesehatan.

Pemerintah Provinsi NTB, melalui dinas kesehatan, bersama dukungan UNICEF dan mitra, telah menyusun Rencana Aksi Daerah (RAD) Penanggulangan Pneumonia dan Diare di NTB tahun 2025–2030, dengan tujuan meningkatkan sinergi antar pihak dalam menanggulangi penyakit yang juga menjadi penyebab kematian pada anak-anak di NTB. Upaya ini mencerminkan komitmen jangka panjang dalam memperkuat sistem kesehatan untuk menghadapi berbagai ancaman penyakit pernapasan dan pencernaan.