
Gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,0 mengguncang Kabupaten Nagan Raya, Aceh, pada Selasa dini hari, 13 Januari 2026, pukul 01:50:40 WIB. Pusat gempa terletak di darat, sekitar 33 kilometer timur laut Kabupaten Nagan Raya, pada kedalaman dangkal 6 kilometer. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menginformasikan bahwa data ini mengutamakan kecepatan, sehingga hasil pengolahan data masih bersifat sementara dan dapat berubah seiring kelengkapan data. Belum ada laporan mengenai kerusakan signifikan atau korban jiwa akibat gempa ini.
Peristiwa seismik di Nagan Raya ini merupakan manifestasi dari aktivitas tektonik yang kompleks di Sumatera, khususnya akibat pergerakan Sesar Besar Sumatera (Great Sumatran Fault) segmen Aceh Selatan. Sesar Besar Sumatera dikenal sebagai salah satu patahan aktif terpanjang di dunia, membentang lebih dari 1.900 kilometer dari Aceh hingga Lampung, yang secara historis menjadi pemicu berbagai gempa bumi di wilayah tersebut. Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, dalam kesempatan gempa sebelumnya di Nagan Raya, menjelaskan bahwa gempa dangkal seringkali disebabkan oleh aktivitas sesar aktif seperti Sesar Besar Sumatera. Analisis mekanisme sumber menunjukkan pergerakan geser (strike-slip) sebagai pemicu gempa-gempa di wilayah ini. Meskipun gempa dengan magnitudo 4,0 tergolong ringan dan tidak berpotensi tsunami karena kedalamannya yang dangkal dan lokasinya di darat, guncangan serupa dengan intensitas III MMI dapat dirasakan nyata di dalam rumah, layaknya truk besar yang melintas, bahkan di beberapa wilayah yang lebih jauh seperti Aceh Utara dan Aceh Selatan.
Sejarah kegempaan Aceh mencatat serangkaian peristiwa dahsyat, termasuk gempa bumi dan tsunami 2004 yang menewaskan ratusan ribu orang. Meskipun gempa-gempa kecil seperti yang terjadi saat ini tidak menimbulkan dampak masif, frekuensi kejadiannya menggarisbawahi urgensi kesiapsiagaan bencana di provinsi tersebut. Pemerintah Kabupaten Nagan Raya dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) secara rutin melakukan upaya mitigasi dan tanggap darurat untuk berbagai jenis bencana, termasuk banjir yang sering melanda wilayah tersebut. Baru-baru ini, pada awal Januari 2026, Bupati Nagan Raya, TR Keumangan, menghadiri rapat koordinasi penanganan pascabencana bersama Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, untuk membahas rehabilitasi dan rekonstruksi setelah bencana hidrometeorologi. Keumangan secara khusus menyoroti kebutuhan percepatan pembangunan hunian sementara (huntara) dan infrastruktur vital seperti jembatan gantung bagi masyarakat terdampak, serta meminta dukungan penuh dari pemerintah pusat. Upaya ini menunjukkan bahwa Nagan Raya terus berupaya memperkuat kapasitasnya dalam menghadapi potensi ancaman bencana alam yang beragam, dari gempa bumi hingga banjir. BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan waspada terhadap kemungkinan gempa susulan, serta menghindari bangunan yang retak atau rusak.