:strip_icc()/kly-media-production/medias/4236992/original/054103800_1669200214-20221123-Cuaca-Ekstrem-Jakarta-Faizal-5.jpg)
Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) kembali digencarkan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menyusul prediksi puncak cuaca ekstrem yang berpotensi memicu banjir dan genangan di ibu kota pada 18 hingga 20 Januari 2026. Langkah antisipatif ini, yang dimulai sejak 16 Januari 2026, bukan bertujuan menghentikan hujan secara total, melainkan mengalihkan dan mengurangi intensitas curah hujan di wilayah daratan Jakarta.
Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi BPBD DKI Jakarta, Mohammad Yohan, menjelaskan bahwa prinsip Operasi Modifikasi Cuaca adalah memanfaatkan hukum kekekalan energi, di mana hujan sebagai bentuk energi tidak dapat dihilangkan, melainkan dialihkan. Dalam pelaksanaannya, pesawat CASA 212 A-2105 milik TNI Angkatan Udara dikerahkan untuk menyemai bahan semai berupa Natrium Klorida (NaCl) di awan-awan yang berpotensi membawa hujan ke daratan. Bahan semai ini ditaburkan di atas perairan seperti Selat Sunda atau laut utara Jawa pada ketinggian 8.000 hingga 12.000 kaki, dengan tujuan agar hujan turun di wilayah tersebut sebelum awan memasuki daratan Jakarta. Pada hari pertama operasi di Januari 2026, sebanyak 1.600 kilogram NaCl telah disemai, diikuti dengan 2.400 kilogram pada hari kedua, menargetkan perairan utara Pulau Jawa.
Sejarah Operasi Modifikasi Cuaca di Jakarta menunjukkan hasil yang bervariasi namun kerap diklaim efektif oleh pemerintah. Pada Desember 2024, BMKG melaporkan bahwa OMC berhasil mengurangi intensitas hujan hingga 67 persen di beberapa wilayah Jakarta berdasarkan data satelit Global Satellite Mapping of Precipitation (GSMaP). Operasi serupa pada Februari 2025 disebut mampu menekan curah hujan 50-60 persen dan tidak ada kejadian banjir yang terpantau di Jakarta selama periode tersebut. Isnawa Adji, Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta, menegaskan bahwa OMC merupakan langkah preventif untuk menekan potensi genangan dan banjir yang kerap terjadi saat curah hujan tinggi. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengalokasikan anggaran sebesar Rp31 miliar untuk Operasi Modifikasi Cuaca sepanjang tahun 2026, mencerminkan komitmen terhadap upaya mitigasi ini.
Meskipun demikian, efektivitas dan implikasi jangka panjang Operasi Modifikasi Cuaca juga menuai sorotan dari kalangan ahli. Pakar klimatologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erma Yulihastin, pernah menyatakan keprihatinannya mengenai potensi dampak buruk OMC Jakarta terhadap wilayah lain seperti Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selain itu, Periset Iklim dan Atmosfer dari BRIN, Eddy Hermawan, menyebut bahwa modifikasi cuaca belum optimal dalam beberapa kasus karena kondisi awan yang belum matang serta arah dan kecepatan angin yang tidak mendukung. Isu lain yang muncul adalah dugaan memburuknya kualitas udara di Jakarta akibat operasi modifikasi cuaca yang mengurangi hujan dan kecepatan angin, seperti yang disampaikan oleh Co-founder Nafas Piotr Jakubowski pada Januari 2025. Pengamat tata kota, Azis Muslim, bahkan berpendapat bahwa modifikasi cuaca hanya solusi "semu" dan menekankan pentingnya peningkatan infrastruktur penangkal banjir seperti drainase dan pengerukan kali sebagai solusi jangka panjang.
Melihat kompleksitas tantangan hidrometeorologi di Jakarta, Operasi Modifikasi Cuaca menjadi salah satu instrumen mitigasi yang diandalkan. Kolaborasi antara BPBD DKI Jakarta, BMKG, dan TNI Angkatan Udara terus dilakukan untuk mengoptimalkan strategi penyemaian awan berdasarkan analisis meteorologi terkini. Namun, perdebatan mengenai dampak regional dan urgensi solusi infrastruktur yang lebih fundamental tetap menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah dalam merancang strategi penanggulangan bencana yang komprehensif dan berkelanjutan.