Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Misteri Pagar Gaib Cunca Plias: Doa Sakral Langgo Demi Alam dan Pariwisata Berkelanjutan

2026-01-16 | 17:29 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-16T10:29:05Z
Ruang Iklan

Misteri Pagar Gaib Cunca Plias: Doa Sakral Langgo Demi Alam dan Pariwisata Berkelanjutan

Masyarakat adat Kampung Langgo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, baru-baru ini melangsungkan ritual sakral Pagar Gaib Cunca Plias pada Kamis, 15 Januari 2026, sebagai bentuk rasa syukur atas capaian tahun sebelumnya sekaligus permohonan perlindungan spiritual bagi wisatawan yang berkunjung ke Desa Wisata Seribu Air Terjun Wae Lolos. Tradisi yang disaksikan langsung oleh turis asing dari Spanyol dan Prancis ini menjadi sorotan akan upaya komunitas lokal dalam memadukan pelestarian budaya dengan pengembangan pariwisata berkelanjutan di tengah gempuran modernisasi di wilayah Manggarai Barat.

Ritual Pagar Gaib Cunca Plias merupakan manifestasi mendalam dari hubungan erat masyarakat Langgo dengan alam dan leluhur, sebuah kepercayaan yang telah mengakar kuat di Flores yang kerap memadukan animisme dengan keyakinan Katolik. Prosesi dimulai dari rumah adat (Mbaru Gendang) dan Compang Langgo, dilanjutkan dengan perapalan doa pembuka oleh tokoh adat dan anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Cunca Plias di sumber air minum warga, yang melambangkan kesucian hidup. Puncak ritual berlangsung di Air Terjun Cunca Plias, di mana doa syukur dipanjatkan. Ketua Pokdarwis Cunca Plias, Robert Perkasa, menyatakan, "Kami memohon kepada leluhur dan Sang Pencipta agar seluruh wisatawan yang datang ke sini dijauhkan dari mara bahaya. Kami ingin setiap orang yang datang pulang dengan kenangan indah, tanpa ada kecelakaan atau hal yang tidak diinginkan." Pernyataan ini menegaskan esensi ritual sebagai jembatan spiritual yang mengamanatkan keselamatan dan kenyamanan bagi setiap pengunjung.

Secara historis, Air Terjun Cunca Plias sendiri memiliki makna penyembuhan. "Cunca" dalam bahasa Manggarai berarti air terjun, sementara "plias" merujuk pada ritual penyembuhan di masa lampau di mana orang sakit dimandikan di air terjun untuk dibersihkan dari penyakit oleh tabib lokal atau ata mbeko. Konteks ini menunjukkan bahwa peran Cunca Plias sebagai pusat spiritualitas bukanlah hal baru, melainkan telah menjadi bagian integral dari identitas dan praktik budaya masyarakat setempat selama berabad-abad. Penyelenggaraan ritual ini, menurut wisatawan Eropa yang hadir, bahkan dianggap sebagai "ziarah budaya" yang akan mereka ceritakan di negara asalnya, menandakan potensi besar pariwisata berbasis budaya di Manggarai.

Kabupaten Manggarai Barat, dengan Labuan Bajo sebagai destinasi super prioritas nasional, telah mengalami lonjakan signifikan dalam jumlah kunjungan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Data menunjukkan bahwa tingkat hunian hotel di Manggarai Barat mencapai 60,76 persen pada Agustus 2023, dengan hotel berbintang mencatat 69,20 persen. Air Terjun Cunca Plias sendiri telah menarik 4.343 pengunjung sepanjang tahun 2024, di mana 3.017 di antaranya adalah wisatawan asing. Angka ini mengindikasikan bahwa daya tarik alam yang dipadukan dengan kekayaan budaya lokal memiliki resonansi kuat di pasar pariwisata global.

Implikasi jangka panjang dari praktik seperti Ritual Pagar Gaib Cunca Plias sangat signifikan. Di satu sisi, ia memperkuat identitas budaya masyarakat lokal di tengah arus globalisasi, menjadikan tradisi bukan sekadar tontonan, melainkan pengalaman otentik yang dapat memperkaya wisatawan. Robert Perkasa berharap Cunca Plias tidak hanya dikenal karena keindahan visualnya, tetapi juga karena kehangatan doa dan keteguhan adatnya. Di sisi lain, muncul tantangan untuk menjaga keaslian ritual agar tidak tereduksi menjadi komoditas pariwisata semata, sebagaimana disorot dalam studi tentang tradisi "Compang" di Manggarai yang berisiko bergeser dari kesakralan menjadi tontonan estetis.

Pemerintah daerah dan pihak terkait perlu menyusun kerangka kebijakan pariwisata yang berorientasi pada partisipasi dan keadilan, menempatkan komunitas adat sebagai subjek utama dalam pengembangan pariwisata budaya, bukan hanya objek transformasi. Momentum penyelenggaraan ritual ini juga bertepatan dengan peresmian kantor baru Pokdarwis yang berfungsi sebagai Pusat Informasi Turis (TIC) dan fasilitas toilet bersih bantuan Bank Indonesia, menandakan adanya sinergi antara komunitas, pemerintah, dan sektor swasta dalam meningkatkan kualitas layanan pariwisata. Kolaborasi semacam ini krusial untuk memastikan bahwa pertumbuhan pariwisata di Manggarai Barat tidak hanya mendatangkan keuntungan ekonomi, tetapi juga secara aktif berkontribusi pada pelestarian budaya dan lingkungan, mewujudkan pariwisata yang berkelanjutan dan bermartabat.