:strip_icc():watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,573,20,0)/kly-media-production/medias/5465890/original/012027500_1767779414-bgs_super_flu.jpeg)
Penyebaran istilah "Super Flu" yang ramai diperbincangkan di Jawa Barat dan berbagai wilayah Indonesia menyusul lonjakan kasus influenza A (H3N2) subclade K, direspons Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dengan penegasan bahwa kondisi ini bukan disebabkan oleh virus baru, melainkan varian mutasi alami dari influenza yang telah lama ada. Hingga akhir Desember 2025, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat 62 kasus influenza A (H3N2) subclade K di delapan provinsi, dengan Jawa Barat menyumbang 10 kasus di antaranya.
Data surveilans Kemenkes menunjukkan bahwa influenza A (H3N2) subclade K terdeteksi pertama kali di Indonesia pada Agustus 2025 melalui sistem surveilans ILI-SARI (Influenza-Like Illness dan Severe Acute Respiratory Infection) di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan, dan hasil pemeriksaan Whole Genome Sequencing (WGS) rampung pada 25 Desember 2025. Mayoritas kasus teridentifikasi pada perempuan dan kelompok usia anak-anak. Meskipun istilah "Super Flu" populer di masyarakat karena penularannya yang cepat dan potensi gejala yang terasa lebih berat dibandingkan flu musiman, Kemenkes dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Jawa Barat menegaskan bahwa ini bukan terminologi medis resmi dan tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan yang signifikan dibandingkan influenza biasa.
Pelaksana Tugas Direktur Penyakit Menular Kemenkes RI, dr. Prima Yosephine, menyatakan bahwa berdasarkan penilaian WHO dan data epidemiologi yang tersedia, influenza A (H3N2) subclade K tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan. Gejala yang muncul umumnya serupa dengan flu musiman, meliputi demam tinggi hingga 39-41 derajat Celcius, nyeri otot berat, lemas ekstrem, batuk kering mengganggu, sakit kepala berkepanjangan, dan terkadang sesak napas, terutama pada kelompok rentan. Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat, Vini Andiani Dewi, mengonfirmasi 10 kasus di Jawa Barat yang tercatat antara Agustus hingga Oktober 2025, dan menyatakan bahwa seluruh pasien sudah tertangani serta kondisinya sehat pada Januari 2026.
Pakar Imunologi dari Departemen Mikrobiologi dan Parasitologi Kedokteran FK Universitas Airlangga, dr. Agung Dwi Wahyu Widodo, menjelaskan bahwa influenza A memiliki variasi antigenik yang tinggi dan fenomena "Super Flu" terjadi akibat antigenic drift atau mutasi genetik yang membuat virus terus berevolusi. Mutasi ini dapat memicu varian baru yang berpotensi menimbulkan gejala lebih berat bagi individu yang tidak memiliki kekebalan. Namun, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menekankan pentingnya imunitas tubuh sebagai pertahanan utama dan mengimbau masyarakat untuk tidak panik.
Di tingkat nasional, tren kasus influenza secara keseluruhan tercatat menurun dalam dua bulan terakhir 2025. Meski demikian, Kemenkes terus memperkuat surveilans, pelaporan, dan kesiapsiagaan untuk merespons perkembangan situasi. Vaksinasi influenza tahunan tetap direkomendasikan, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, anak-anak di bawah lima tahun, dan penderita penyakit penyerta (komorbid), karena terbukti efektif mengurangi risiko sakit berat, rawat inap, hingga kematian. Penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) seperti mencuci tangan rutin, menggunakan masker saat sakit, menjaga asupan gizi seimbang, dan istirahat cukup juga menjadi langkah krusial untuk memutus rantai penularan.