Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

LRT Jakarta Fase 1B Capai Titik Krusial: Jembatan Tol Wiyoto Wiyono Kini Tersambung

2026-01-10 | 18:47 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-10T11:47:46Z
Ruang Iklan

LRT Jakarta Fase 1B Capai Titik Krusial: Jembatan Tol Wiyoto Wiyono Kini Tersambung

Struktur layang Lintas Rel Terpadu (LRT) Jakarta Fase 1B telah tersambung sepenuhnya di atas Jalan Tol Ir. Wiyoto Wiyono pada 9 Januari 2026, menandai tonggak penting dalam proyek infrastruktur transportasi publik metropolitan Jakarta. Keberhasilan penyelesaian bentang kritis sepanjang 120 meter ini, yang melintasi ruas tol aktif dengan volume lalu lintas tinggi, dicapai tanpa penutupan total jalur kendaraan, menggarisbawahi kemajuan signifikan PT Jakarta Propertindo (Jakpro) dalam mencapai target operasional Agustus 2026 untuk rute Velodrome-Manggarai.

Direktur Teknik dan Pengembangan Jakpro, Dian Takdir, menjelaskan bahwa perlintasan di atas Jalan Tol Ir. Wiyoto Wiyono merupakan salah satu titik paling kritikal pada lintasan LRT Jakarta Fase 1B. Proses konstruksi menggunakan metode balanced cantilever, yang memungkinkan pembangunan struktur secara bertahap dan seimbang dari dua sisi, untuk menjaga presisi sekaligus meminimalkan gangguan lalu lintas. “Kami bersyukur proses penyambungan dapat diselesaikan sesuai rencana,” ujar Dian, menekankan solidnya kolaborasi antara Jakpro, kontraktor, operator tol, dan seluruh pemangku kepentingan.

Hingga akhir Desember 2025, progres pembangunan LRT Jakarta Fase 1B secara keseluruhan telah mencapai 89,22 persen. Penyambungan perlintasan tol ini secara fisik menghubungkan jalur layang LRT Jakarta dari Kelapa Gading hingga kawasan Jalan Pramuka, membentuk jaringan rel layang terintegrasi yang melintasi Jakarta Utara, Jakarta Timur, dan Jakarta Pusat. Struktur utama di sepanjang koridor Jalan Pemuda, Jalan Pramuka, Jalan Tambak, dan Jalan Sultan Agung juga telah tersambung. Saat ini, pekerjaan pemasangan rel (track work) telah mencapai 4,7 kilometer dari total 12,8 kilometer, sementara pekerjaan arsitektural serta mekanikal, elektrikal, dan plumbing (MEP) tengah berlangsung di empat stasiun, yaitu Stasiun Pramuka BPKP, Stasiun Pasar Pramuka, Stasiun Matraman, dan Stasiun Manggarai.

Proyek LRT Jakarta Fase 1B membentang sepanjang 6,4 kilometer, menambah lima stasiun baru ke dalam jaringan: Stasiun Pemuda Rawamangun, Stasiun Pramuka BPKP, Stasiun Pasar Pramuka, Stasiun Matraman, dan Stasiun Manggarai. Setelah Fase 1B beroperasi penuh, LRT Jakarta akan memiliki total 11 stasiun sepanjang 12,2 kilometer, dengan waktu tempuh diperkirakan sekitar 26 menit dari Pegangsaan Dua hingga Manggarai. Proyek ini didanai sepenuhnya oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta senilai Rp 5,5 triliun, dengan alokasi Rp 4,6 triliun untuk konstruksi.

Keberadaan LRT Fase 1B dirancang untuk mengintegrasikan berbagai moda transportasi di Stasiun Manggarai, yang diproyeksikan sebagai stasiun sentral. Integrasi ini akan mencakup KRL Commuter Line, TransJakarta, dan potensi koneksi dengan moda lain seperti MRT dan KA Bandara, sehingga memudahkan perpindahan penumpang dan meningkatkan efisiensi mobilitas di ibu kota.

Dari perspektif lingkungan, LRT Jakarta yang beroperasi dengan tenaga listrik diproyeksikan mampu menekan emisi karbon secara signifikan. Secara kolektif, pengoperasian LRT Jakarta Fase 1A dan 1B diperkirakan dapat mengurangi emisi hingga 2.927.250 ton CO₂ ekuivalen. Dengan target peningkatan jumlah penumpang mencapai 18 juta orang pada tahun 2028, proyek ini diharapkan mampu mengurangi beban kemacetan dan jejak karbon di Jakarta, mendukung visi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam mewujudkan Jakarta sebagai kota global yang efisien dan berkelanjutan. Pj Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono sebelumnya telah meninjau proyek ini pada Oktober 2024, mengapresiasi progres yang dicapai lebih cepat dari target awal, menegaskan komitmen Pemprov DKI terhadap pembangunan transportasi publik terintegrasi.

Meskipun progres konstruksi menunjukkan capaian positif, tantangan selanjutnya meliputi penyelesaian pekerjaan rel, arsitektural stasiun, serta pengujian sistem secara menyeluruh untuk memastikan keamanan dan keandalan operasional sebelum Agustus 2026. Integrasi tarif dan sistem pembayaran antar moda transportasi juga menjadi kunci untuk mendorong peningkatan penggunaan angkutan umum secara massal. Pengembangan lanjutan LRT Jakarta, termasuk wacana perpanjangan rute ke Dukuh Atas, terus dikaji untuk mengoptimalkan konektivitas dan kapasitas angkut, memperkuat posisi Jakarta sebagai pusat aktivitas global.