:strip_icc()/kly-media-production/medias/5469033/original/015860100_1768044308-Menpora_Erick_Thohir_menghadiri_pengukuhan_dan_pelepasan_kontingen_Indonesia_untuk_ASEAN_Para_Games_2025.jpg)
Kontingen olahraga disabilitas Indonesia mengemban target 82 medali emas, 77 perak, dan 77 perunggu dalam ajang ASEAN Para Games 2025 yang akan berlangsung di Nakhon Ratchasima, Thailand, pada 20 hingga 26 Januari 2026. Penetapan target ini disampaikan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) RI Erick Thohir saat melepas secara resmi kontingen Indonesia di Pendapi Gede Balai Kota Solo, Jawa Tengah, pada Sabtu, 10 Januari 2026, menandai sebuah misi yang menuntut adaptasi strategi setelah dominasi beruntun di edisi-edisi sebelumnya.
Target perolehan medali emas sebesar 82 ini menunjukkan penurunan signifikan dibandingkan capaian Indonesia sebagai juara umum tiga kali berturut-turut pada ASEAN Para Games 2017 di Malaysia, 2022 di Solo, dan 2023 di Kamboja. Pada edisi 2023 di Kamboja, Indonesia berhasil memboyong 159 medali emas, melampaui target awal 130 medali emas. Penyesuaian target ini bukan tanpa alasan, Wakil Sekretaris Jenderal National Paralympic Committee (NPC) Indonesia, Rima Ferdianto, mengungkapkan bahwa tuan rumah Thailand menghapus 63 nomor pertandingan yang merupakan lumbung emas bagi Indonesia. Sebaliknya, Thailand menciptakan lebih dari 50 nomor baru yang pesertanya didominasi oleh Thailand dan Laos, yang secara efektif memberikan medali emas "gratis" bagi tuan rumah. Hal ini, menurut Rima, membuat mustahil bagi Indonesia untuk kembali meraih gelar juara umum, bahkan sulit mencapai 100 medali emas.
Indonesia akan mengirimkan 290 atlet yang akan berlaga di 18 cabang olahraga, didampingi oleh 106 pelatih, 55 ofisial, dan 16 manajer. Menpora Erick Thohir menyatakan optimisme bahwa kontingen mampu mencapai posisi dua atau tiga besar, meskipun mengakui tantangan berat dari tuan rumah Thailand, serta Vietnam dan Malaysia sebagai pesaing utama. Beliau juga mengapresiasi persiapan yang dilakukan NPC Indonesia dan tim, dengan segala keterbatasan yang ada.
Solo, Jawa Tengah, memainkan peran sentral dalam persiapan kontingen ini. Kota ini telah lama menjadi pusat pelatihan paralimpik Indonesia, dengan adanya Paralympic Training Center di Karanganyar yang secara berkelanjutan membina atlet disabilitas. Acara pelepasan kontingen yang diselenggarakan di Solo turut menegaskan posisi strategis wilayah Jawa Tengah sebagai episentrum pengembangan olahraga disabilitas nasional. Kehadiran fasilitas pelatihan dan ekosistem pendukung di Solo memungkinkan identifikasi dan pengembangan bakat atlet dari seluruh Indonesia, memastikan regenerasi dan keberlanjutan prestasi. Ketua Umum NPC Indonesia, Senny Marbun, yang kembali terpilih secara aklamasi untuk masa bakti 2024–2029 dan berpusat di Surakarta, adalah sosok yang visioner dalam pembinaan olahraga disabilitas.
Komitmen pemerintah terhadap kesetaraan dan kesejahteraan atlet disabilitas telah menjadi pilar utama. Presiden Joko Widodo secara konsisten mendukung penyetaraan harkat dan martabat atlet disabilitas dengan non-disabilitas, termasuk dalam pemberian bonus yang nilainya disamakan. Kemenpora juga telah menyusun rencana strategis Olahraga Disabilitas 2025-2029, dengan fokus pada peningkatan partisipasi dan pembinaan atlet. Salah satu inisiatif krusial adalah rencana pembangunan Sekolah Khusus Olahraga Disabilitas Indonesia (SKODI) di Solo, yang bertujuan memaksimalkan pembinaan atlet disabilitas terbaik dari seluruh Indonesia, mulai dari tingkat sekolah luar biasa hingga komunitas. Selain itu, program peningkatan jenjang karier dan pengangkatan atlet berprestasi sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) juga menjadi bagian dari upaya memastikan masa depan yang terjamin bagi para pahlawan olahraga.
Di tengah manuver tuan rumah Thailand yang mengubah peta persaingan medali, spirit pantang menyerah dan fokus pada performa maksimal menjadi kunci. Senny Marbun menegaskan, "Kami berangkat ke Thailand dengan keyakinan penuh untuk meraih prestasi." Strategi yang realistis dan adaptif, ditambah dengan dukungan infrastruktur dan kebijakan yang inklusif, akan menjadi penentu dalam perjuangan Indonesia mempertahankan posisinya sebagai kekuatan paralimpik regional, sekaligus terus menyuarakan pentingnya kesetaraan bagi penyandang disabilitas.