Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Longsor Jepara Putuskan Akses 3.522 Warga Desa Tempur

2026-01-11 | 17:17 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-11T10:17:57Z
Ruang Iklan

Longsor Jepara Putuskan Akses 3.522 Warga Desa Tempur

Ribuan penduduk di Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, terperangkap sejak Jumat, 9 Januari 2026, setelah hujan deras memicu sedikitnya 18 titik longsor yang memutus total akses vital desa, mengisolasi 3.522 jiwa dari 1.445 kepala keluarga. Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jepara, Arwin Noor Isdiyanto, pada Minggu, 11 Januari 2026, menegaskan bahwa desa tersebut kini terputus dari dunia luar, menghadapi tantangan serius dalam penanganan darurat di tengah cuaca ekstrem.

Bencana longsor kali ini secara signifikan merusak infrastruktur dasar Desa Tempur. Titik terparah terpantau di area pertigaan dekat spot foto "Selamat Datang," di mana badan jalan sepanjang 50 meter lenyap tergerus derasnya aliran Sungai Gelis. Selain itu, di Jembatan Mbah Sujak, badan jalan terkikis hingga kedalaman enam meter akibat perubahan alur sungai. Laporan situasi BPBD Jepara juga mencatat sedikitnya enam unit rumah warga rusak, mulai dari terendam lumpur hingga hancur total. Jaringan listrik di Desa Tempur padam total menyusul robohnya satu tiang listrik dan kemiringan tiang lainnya, membahayakan warga sekitar. Matinya aliran listrik turut melumpuhkan jaringan komunikasi dan internet, mempersulit koordinasi penanganan bencana.

Dampak longsor meluas hingga sektor ekonomi. Puluhan hektare lahan persawahan di sepanjang aliran Sungai Gelis dilaporkan hanyut dan rusak, dengan data rinci potensi kerugian di sektor pertanian masih dalam tahap pendataan. Sebuah bangunan penggilingan kopi di Dukuh Kemiren terseret arus, kehilangan mesin selep dan 5 ton kopi, sementara sebuah kandang kambing beserta ternaknya juga hanyut.

Upaya penanganan darurat menghadapi rintangan berat. BPBD Jepara telah mengerahkan personel untuk pembersihan material dan mendirikan dapur umum. Alat berat berupa ekskavator telah dikerahkan, namun pembersihan material longsor belum tuntas karena terkendala kondisi cuaca ekstrem, jatuhnya batu-batu besar dari tebing, dan potensi longsor susulan. Tim membutuhkan tambahan ekskavator tipe PC-75 untuk mempercepat pembukaan akses. Dalam skenario terburuk, BPBD bahkan menyiapkan opsi penyeberangan perahu dengan pengaman tali serta berkoordinasi dengan pemuda dan komunitas motor trail setempat untuk mencari jalur alternatif.

Desa Tempur, yang pada tahun 2016 ditetapkan sebagai desa tangguh bencana dan memiliki forum relawan terlatih untuk mitigasi, pembuatan jalur evakuasi, dan peta risiko bencana, kembali menunjukkan kerentanannya terhadap ancaman hidrometeorologi. Sejarah mencatat Desa Tempur kerap dilanda longsor, seperti peristiwa pada Januari 2021 yang juga memutus akses jalan dan pada Maret 2025 yang melanda Dukuh Duplak dan Petung. Kondisi geografis desa yang berada di dataran tinggi dengan tebing-tebing curam dan dikelilingi sungai menjadikannya sangat rentan, terutama saat curah hujan tinggi. Kerentanan ini menuntut evaluasi komprehensif terhadap strategi mitigasi yang ada, tidak hanya berfokus pada respons pascabencana tetapi juga pada penguatan infrastruktur berkelanjutan dan sistem peringatan dini yang lebih efektif, untuk mencegah isolasi berkepanjangan dan meminimalkan kerugian di masa mendatang.