:strip_icc()/kly-media-production/medias/5466948/original/083045600_1767858907-Longsor_Tangerang.jpg)
Lima rumah warga di Kampung Selapajang, Kabupaten Tangerang, mengalami kerusakan parah akibat longsor yang terjadi pada Selasa, 7 Januari 2026 dini hari, menyusul intensitas hujan tinggi yang mengguyur wilayah tersebut selama berjam-jam. Peristiwa ini memaksa puluhan jiwa mengungsi dan menimbulkan kerugian materiil signifikan, menyoroti kerentanan infrastruktur permukiman di daerah padat penduduk yang berbatasan langsung dengan area tebing atau tanah labil.
Peristiwa longsor tersebut terjadi sekitar pukul 02.00 WIB, ketika tebing penahan tanah di belakang deretan rumah warga ambrol. Material tanah dan bebatuan besar menerjang bagian belakang bangunan, merusak dinding, atap, dan perabotan rumah tangga. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang, Ujat Sudrajat, mengonfirmasi tidak ada korban jiwa dalam insiden ini, namun evakuasi segera dilakukan untuk memastikan keselamatan warga. "Total ada 25 jiwa dari lima kepala keluarga yang terdampak langsung dan kini kami tempatkan di posko pengungsian sementara," ujar Ujat Sudrajat.
Insiden ini bukan yang pertama kali terjadi di Kabupaten Tangerang. Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan bahwa wilayah Banten, termasuk Tangerang, memiliki tingkat kerawanan sedang hingga tinggi terhadap bencana hidrometeorologi, terutama longsor dan banjir, yang diperparah oleh perubahan tata guna lahan dan minimnya vegetasi penahan tanah di beberapa area. Pada tahun 2024 saja, tercatat puluhan kejadian longsor skala kecil hingga sedang di berbagai titik di Kabupaten Tangerang, yang sebagian besar dipicu oleh curah hujan ekstrem.
Analis geologi dari Universitas Trisakti, Dr. Mira Wijaya, menjelaskan bahwa kondisi geologis di sebagian wilayah Tangerang, terutama yang berdekatan dengan aliran sungai atau area perbukitan, memang rentan terhadap pergerakan tanah. "Tanah lempung yang jenuh air, ditambah dengan kemiringan lereng yang tidak ideal dan kurangnya vegetasi penopang, menciptakan kondisi sempurna untuk longsor saat hujan deras. Pembangunan permukiman yang tidak mempertimbangkan aspek mitigasi bencana semakin memperparah risiko," kata Dr. Mira. Ia menambahkan, perubahan iklim global yang menyebabkan anomali cuaca dengan curah hujan lebih tinggi dan tidak terduga, juga berkontribusi pada peningkatan frekuensi bencana serupa.
Pemerintah Kabupaten Tangerang telah melakukan peninjauan lokasi dan menjanjikan bantuan kepada para korban. Kepala Dinas Perumahan, Permukiman, dan Pertanahan Kabupaten Tangerang, Iwan Firmansyah, menyatakan bahwa pihaknya akan segera mengidentifikasi kebutuhan mendesak dan merencanakan relokasi sementara atau perbaikan rumah bagi warga yang terdampak. "Kami akan berkoordinasi dengan instansi terkait untuk mencari solusi jangka panjang, termasuk edukasi mitigasi bencana kepada masyarakat dan evaluasi tata ruang di zona rawan," tutur Iwan. Namun, implementasi kebijakan tata ruang yang ketat dan relokasi permukiman yang sudah ada seringkali menghadapi tantangan sosial dan ekonomi yang kompleks, termasuk ketersediaan lahan pengganti dan penerimaan masyarakat.
Dampak jangka panjang dari insiden ini melampaui kerugian materiil. Trauma psikologis yang dialami korban, terutama anak-anak, memerlukan penanganan serius. Selain itu, berulangnya kejadian longsor memunculkan pertanyaan kritis mengenai efektivitas perencanaan kota dan mitigasi bencana di daerah pinggiran Jakarta yang terus mengalami urbanisasi pesat. Tanpa strategi komprehensif yang mengintegrasikan data ilmiah, kebijakan tata ruang yang tegas, dan partisipasi masyarakat, risiko serupa akan terus membayangi, mengancam keselamatan dan kesejahteraan ribuan penduduk di wilayah yang rentan. Upaya rekonstruksi fisik harus diimbangi dengan pembangunan kembali resiliensi komunitas terhadap ancaman bencana yang terus meningkat.