:strip_icc()/kly-media-production/medias/5469029/original/002698400_1768043748-Pulau_Pahawang.jpg)
Provinsi Lampung mencatatkan lonjakan signifikan dalam jumlah kunjungan wisatawan sepanjang tahun 2025, dengan total perjalanan wisatawan domestik dan mancanegara mencapai 24.702.664 antara Januari hingga November 2025, menunjukkan pertumbuhan impresif sebesar 53,50 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini bahkan menempatkan Lampung di posisi kesembilan nasional dengan 2.159.343 perjalanan wisatawan pada September 2025, melampaui Bali yang mencatat sekitar 2,12 juta perjalanan pada bulan yang sama. Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Lampung mengkonfirmasi capaian tersebut, menegaskan posisi Lampung sebagai salah satu provinsi dengan pertumbuhan kunjungan tertinggi di Sumatera dan melampaui rata-rata nasional.
Kinerja cemerlang ini bukan sekadar anomali, melainkan cerminan dari strategi pengembangan yang terfokus dan kolaboratif dalam beberapa tahun terakhir. Secara historis, Bali telah lama menjadi magnet utama pariwisata Indonesia, khususnya bagi wisatawan mancanegara, dengan catatan 5,27 juta kunjungan wisman sepanjang 2023. Namun, Lampung telah secara progresif membangun fondasi pariwisatanya, awalnya dengan fokus pada wisatawan nusantara. Pada Januari hingga September 2023 saja, Lampung telah menarik lebih dari 10 juta wisatawan nusantara, jauh melampaui target provinsi sebesar 5,5 juta dan menempatkannya sebagai daerah ketiga dengan kunjungan wisatawan terbanyak di Sumatera pada saat itu.
Peningkatan signifikan ini didorong oleh beberapa faktor kunci. Pertama, pembangunan infrastruktur yang masif, terutama Jalan Tol Trans Sumatera dan peningkatan layanan penyeberangan Merak-Bakauheni, telah memperpendek waktu tempuh dan mempermudah aksesibilitas menuju Lampung, terutama dari Pulau Jawa. Aksesibilitas yang lebih baik ini menjadikan Lampung pilihan menarik untuk "short escape" bagi masyarakat perkotaan. Kedua, upaya diversifikasi dan promosi destinasi wisata telah gencar dilakukan. Lampung tidak hanya menawarkan keindahan pantai eksotis di Teluk Lampung, Pesisir Barat dengan ombak kelas dunia, atau keunikan Pulau Pahawang dan Tegal Mas, tetapi juga mengembangkan wisata pegunungan di Lampung Barat serta Taman Nasional Way Kambas sebagai pusat konservasi gajah Sumatera. Popularitas gajah Nisa dari Way Kambas bahkan turut mendongkrak minat wisatawan mancanegara, menjadikan Bandar Lampung destinasi dengan pertumbuhan wisman tercepat di Indonesia, naik dari peringkat 34 ke 28. Festival-festival seperti Festival Krakatau dan Lampung Festival bertema "Coffee and Tourism" juga berperan dalam memperkuat citra daerah dan menarik minat.
Pemerintah Provinsi Lampung juga menunjukkan komitmen kuat dalam mengembangkan sektor ini. Dimulai tahun 2026, dua Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata akan dikembangkan di Bakauheni, Lampung Selatan, dan Pesawaran, dengan luas masing-masing sekitar 5.000 hektar dan 1.000-1.400 hektar. Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menyatakan pembangunan KEK ini bertujuan untuk mendesain arah pengembangan pariwisata secara terstruktur, tidak lagi hanya tumbuh secara organik, sekaligus menarik investasi. Selain itu, peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) pariwisata melalui berbagai program pelatihan terus digalakkan untuk memastikan pelayanan prima dan pengalaman tak terlupakan bagi pengunjung. Bobby Irawan, Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Lampung, menekankan pentingnya pelayanan yang baik serta pemenuhan sarana dasar dan infrastruktur untuk mendukung ekosistem pariwisata yang komprehensif.
Dampak ekonomi dari geliat pariwisata Lampung sangat substansial. Sepanjang 2025, sektor pariwisata menyumbang perputaran uang sebesar Rp53,11 triliun, tumbuh 74 persen dan menjadi yang tercepat dalam lima tahun terakhir, serta berkontribusi hampir 6 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Lampung pada Triwulan III 2025. Kontribusi ini tidak hanya terbatas pada pendapatan daerah, tetapi juga berdampak positif pada penyerapan tenaga kerja dan penguatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal.
Meski demikian, tantangan tetap ada. Lampung masih dihadapkan pada persoalan rata-rata lama menginap wisatawan yang relatif rendah, sekitar 1,29 hari, mengindikasikan bahwa banyak perjalanan masih bersifat transit atau persinggahan singkat. Ini menunjukkan perlunya pengembangan lebih lanjut pada daya tarik destinasi dan penciptaan pengalaman wisata yang lebih beragam untuk mendorong wisatawan memperpanjang masa tinggal mereka. Selain itu, meskipun infrastruktur utama sudah memadai, akses jalan menuju beberapa destinasi eksotis seperti Pantai Gigi Hiu atau fasilitas penunjang di Teluk Kiluan dan Way Kambas masih memerlukan perbaikan signifikan agar setara dengan destinasi yang lebih mapan. Pemerintah Provinsi Lampung terus berupaya memperkuat regulasi lingkungan, memberikan edukasi kepada pelaku wisata, dan menyediakan infrastruktur pendukung praktik pariwisata berkelanjutan. Dengan komitmen berkelanjutan dan implementasi strategi yang terencana, Lampung memiliki potensi besar untuk tidak hanya mempertahankan momentum pertumbuhan ini, tetapi juga untuk secara konsisten memposisikan diri sebagai salah satu destinasi pariwisata unggulan dan kompetitif di Indonesia, menantang dominasi destinasi tradisional.