:strip_icc()/kly-media-production/medias/5471835/original/076072500_1768296679-Banjir_di_Kabupaten_Tangerang.jpg)
Banjir meluas menerjang Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, menyebabkan ribuan warga terpaksa mengungsi dan mengancam gagal panen ratusan hektare sawah pascahujan lebat disertai angin kencang sejak Minggu, 11 Januari 2026. Data terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang pada Selasa, 13 Januari 2026, mencatat sekitar 1.000 jiwa telah dievakuasi ke lokasi aman, khususnya dari Kecamatan Kosambi yang menjadi wilayah paling parah terdampak. Total sekitar 50.000 jiwa dari 10.000 kepala keluarga di enam kecamatan—Kosambi, Teluknaga, Pakuhaji, Pasar Kemis, Mauk, dan Sepatan—terdampak bencana ini. Sementara itu, lahan pertanian di wilayah tersebut juga menderita kerugian signifikan, dengan 108 hektare sawah di Desa Margasari, Kecamatan Tigaraksa, terancam puso akibat luapan Sungai Cimanceuri.
Peristiwa banjir ini bukan kejadian tunggal, melainkan refleksi dari serangkaian masalah kronis yang membelenggu wilayah Tangerang Raya. Sejarah banjir di Tangerang menunjukkan pola berulang yang dipicu oleh kombinasi curah hujan ekstrem, buruknya sistem drainase, penyempitan dan pendangkalan sungai, serta alih fungsi lahan yang masif. Gubernur Banten Andra Soni pada Juli 2025 bahkan menyoroti kelalaian pengembang perumahan sebagai salah satu penyebab utama banjir di Tangerang Raya. Buruknya sistem drainase, khususnya di Kecamatan Benda, menjadi faktor krusial yang memperparah genangan air, dengan beberapa warga melaporkan bahwa banjir kali ini merupakan yang terparah dalam beberapa tahun terakhir. Selain itu, jebolnya tanggul Sungai Cidurian yang disebut sudah terjadi sejak 11 tahun lalu juga berkontribusi pada banjir yang merendam area persawahan di Kecamatan Kresek, menyebabkan puso seluas 35 hektare pada awal Januari 2026.
Ancaman puso pada lahan pertanian di Kabupaten Tangerang telah menjadi perhatian, dengan Dinas Pertanian Kabupaten Tangerang memetakan 60 hektare sawah di delapan kecamatan terancam gagal panen akibat cuaca ekstrem yang diprediksi hingga Februari 2026. Kepala Bidang Produksi Pangan dan Hortikultura pada DPKP Kabupaten Tangerang, Bambang, menyatakan bahwa pihaknya menyiapkan pasokan benih bibit padi untuk petani terdampak dan mengajukan bantuan kepada pemerintah pusat. Secara lebih luas, Dinas Pertanian Provinsi Banten mencatat 2.093 hektare sawah terendam banjir di empat kabupaten dan satu kota di Banten pada awal Januari 2026, dengan 178,5 hektare di antaranya mengalami puso. Kabupaten Tangerang sendiri menyumbang 6,5 hektare puso dari 124,5 hektare lahan terendam pada periode tersebut.
Pemerintah Kabupaten Tangerang, bekerja sama dengan TNI dan Polri, berkomitmen merumuskan upaya penanganan banjir secara bertahap, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Bupati Tangerang Maesyal Rasyid meninjau langsung Kampung Rawa Lumpang di Kosambi untuk memastikan penanganan dan distribusi bantuan berjalan. Upaya penanggulangan meliputi normalisasi saluran air, perbaikan drainase, dan penguatan tanggul di berbagai kecamatan. Pemerintah Provinsi Banten juga menyiapkan bantuan benih bagi petani terdampak dan berkoordinasi dengan pemerintah pusat jika kebutuhan melebihi stok yang tersedia. Namun, kolaborasi antarwilayah dan kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan saluran air serta tidak membuang sampah sembarangan tetap menjadi elemen krusial untuk solusi berkelanjutan. Selain itu, normalisasi Kali Angke dan Sungai Cisadane yang kewenangannya berada di pemerintah pusat juga terus didorong oleh pemerintah daerah. Upaya pencegahan dan mitigasi yang terintegrasi, melibatkan semua pemangku kepentingan, menjadi satu-satunya jalan untuk memutus siklus banjir tahunan yang merugikan.