Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Kepri Waspada: Dugaan Flu Super Terdeteksi, Pasien Pasca Umrah Alami Gejala Berat Tak Lazim

2026-01-13 | 18:27 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-13T11:27:56Z
Ruang Iklan

Kepri Waspada: Dugaan Flu Super Terdeteksi, Pasien Pasca Umrah Alami Gejala Berat Tak Lazim

Seorang pasien dewasa di Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), kini menjalani perawatan intensif setelah diduga terjangkit "super flu" sekembalinya dari ibadah umrah. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kepri telah mengirimkan sampel dari pasien tersebut ke Kementerian Kesehatan (Kemenkes) di Jakarta untuk pemeriksaan lebih lanjut, guna memastikan keberadaan virus yang diduga sebagai Influenza A (H3N2) subclade K. Pasien dilaporkan mengalami gejala flu berat yang disertai nyeri, pusing, dan mual.

Kepala Dinas Kesehatan Kepri, Mohammad Bisri, menyatakan bahwa pihaknya masih menantikan hasil laboratorium dari Kemenkes. Apabila hasil pemeriksaan positif "super flu", Bisri menegaskan akan dilakukan penelusuran kontak terhadap keluarga dan orang-orang terdekat pasien, mengingat potensi penularan yang cepat. Namun, Bisri juga mengimbau masyarakat agar tidak terlalu khawatir, sebab "super flu" memiliki gejala yang mirip dengan flu biasa, hanya sedikit lebih berat, dan daya tahan tubuh yang kuat dapat mencegah infeksi. Hingga 12 Januari 2026, Dinkes Kepri belum menerima laporan penyebaran penyakit yang disebut "super flu" di wilayahnya dan menilai kondisi kesehatan masyarakat masih terkendali. Pihak Dinkes Kepri telah menginstruksikan seluruh dinas kesehatan kabupaten dan kota untuk meningkatkan kewaspadaan melalui surveilans aktif.

Istilah "super flu" sendiri merujuk pada Influenza A (H3N2) subclade K, yang telah terdeteksi di beberapa wilayah Indonesia. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meminta masyarakat untuk berhati-hati namun tidak panik, mengingat "super flu" ini disamakan dengan flu biasa dan tidak mematikan seperti varian Delta COVID-19. Hingga Desember 2025, Kemenkes mencatat 62 kasus infeksi virus Influenza A (H3N2) subclade K di Indonesia, tersebar di delapan provinsi, dengan konsentrasi terbanyak di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat. Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung juga melaporkan penanganan 10 pasien bergejala influenza A (H3N2) subclade K pada awal Januari 2026, dengan variasi usia dan tingkat keparahan. Salah satu pasien suspek di RSHS Bandung bahkan dilaporkan meninggal dunia, meskipun pihak rumah sakit belum dapat menyimpulkan secara tunggal apakah infeksi "super flu" menjadi penyebab utama kematian karena adanya komorbiditas berat.

Kasus ini menyoroti risiko kesehatan yang melekat pada perjalanan internasional, terutama ibadah umrah atau haji. Kerumunan padat dan perjalanan jarak jauh meningkatkan potensi penularan virus pernapasan seperti influenza dan COVID-19. Kementerian Kesehatan Indonesia mencatat peningkatan kasus pernapasan akut di kalangan jemaah haji yang kembali pada tahun 2024. Para pakar mengingatkan bahwa sekitar 90 persen jemaah haji dari berbagai negara mengalami masalah kesehatan paru dan pernapasan. Faktor risiko utama meliputi kerumunan, paparan debu, polusi udara, serta menurunnya daya tahan tubuh akibat kelelahan fisik. Kepala Pusat Kesehatan Haji, Liliek Marhaendro Susilo, mengungkapkan peningkatan kasus pneumonia di kalangan jemaah haji, yang dapat berakibat fatal jika tidak ditangani cepat.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara konsisten mengingatkan bahwa pandemi influenza global tetap menjadi ancaman nyata dan dunia harus waspada serta siap menghadapi wabah besar berikutnya. WHO telah meluncurkan Strategi Influenza Global 2019-2030 untuk mencegah influenza musiman, mengendalikan penyebaran dari hewan ke manusia, dan mempersiapkan pandemi berikutnya, mengingat sekitar 1 miliar kasus influenza terjadi setiap tahun secara global. Untuk mengantisipasi risiko ini, Kemenkes dan para ahli merekomendasikan vaksinasi influenza tahunan, penerapan pola hidup bersih dan sehat, menjaga asupan gizi, istirahat cukup, berolahraga teratur, serta menggunakan masker di tempat ramai atau saat sakit. Pentingnya kewaspadaan dini dan deteksi cepat menjadi kunci untuk memitigasi penyebaran penyakit pernapasan yang mungkin muncul dari mobilitas lintas negara.