:strip_icc()/kly-media-production/medias/5478756/original/019808200_1768921616-134720.jpg)
Tim SAR gabungan pada Selasa malam berhasil mengevakuasi jenazah korban kedua kecelakaan pesawat ATR 42-500 dari jurang sedalam sekitar 350 meter di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkajene Kepulauan, Sulawesi Selatan, setelah upaya pencarian yang menantang selama empat hari sejak pesawat tersebut hilang kontak pada Sabtu (17/1/2026). Korban kedua, yang diidentifikasi berjenis kelamin perempuan, diangkat dengan teknik penyelamatan vertikal yang rumit di tengah kondisi medan ekstrem dan cuaca buruk.
Kepala Kantor Basarnas Makassar, Muhammad Anwar Arif, selaku SAR Mission Coordinator (SMC), menyatakan bahwa proses evakuasi ini memerlukan kehati-hatian ekstra karena karakteristik wilayah yang didominasi lembah curam dan tebing terjal. Visibilitas di lokasi juga sangat terbatas akibat hujan dan kabut tebal yang menyelimuti puncak gunung setinggi 1.353 meter di atas permukaan laut tersebut. Jenazah saat ini sedang dalam perjalanan menuju Posko Tompobulu, Balocci Pangkep, sebelum diserahkan kepada tim Disaster Victim Identification (DVI) untuk proses identifikasi lebih lanjut.
Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) ini dilaporkan membawa 10 orang, terdiri dari tujuh awak pesawat dan tiga penumpang dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang sedang menjalankan misi surveilans perairan Indonesia. Pesawat hilang kontak saat akan mendarat di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar. Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah memulai investigasi awal dan mengkategorikan insiden ini sebagai Controlled Flight Into Terrain (CFIT), di mana pesawat menabrak lereng gunung saat masih dalam kendali pilot. Meskipun pesawat dinyatakan laik terbang sebelum kejadian, benturan keras menyebabkan badan pesawat hancur berkeping-keping dan serpihannya tersebar di lereng gunung.
Operasi SAR melibatkan kekuatan besar, dengan total 1.075 personel dari berbagai unsur, termasuk Basarnas, TNI, Polri, pemerintah daerah, relawan, komunitas pecinta alam, dan tenaga medis. Upaya pencarian juga didukung oleh berbagai alat utama sistem persenjataan (alutsista) darat dan udara, seperti helikopter, pesawat intai, dan drone thermal, meskipun penggunaan jalur udara seringkali terhambat cuaca. Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, sebelumnya menyatakan bahwa lokasi jatuhnya pesawat jauh dari jalur pendakian umum di Gunung Bulusaraung, mempersulit akses tim SAR dan membutuhkan waktu tempuh hingga satu hari untuk mencapai titik kecelakaan.
Penemuan dan evakuasi korban kedua ini menyusul penemuan jenazah korban pertama, seorang laki-laki, pada Minggu (18/1/2026). Hingga saat ini, identitas kedua korban belum dikonfirmasi secara resmi oleh tim DVI. Meskipun kondisi pesawat yang hancur membuat harapan menemukan korban selamat sangat kecil, Kepala Basarnas Mohammad Syafii tetap mengungkapkan harapannya akan mukjizat, mengingat adanya preseden dalam insiden kecelakaan pesawat sebelumnya di mana korban ditemukan selamat meskipun dalam kondisi parah. Pencarian terhadap delapan korban lainnya masih terus dilakukan di tengah kondisi geografis yang menantang dan perubahan cuaca yang cepat. Peristiwa ini menjadi pengingat akan risiko inheren penerbangan di wilayah pegunungan dan pentingnya terus meningkatkan protokol keselamatan serta kapasitas respons darurat di Indonesia.