Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Kopi Saksi Bisu: Dedikasi Penjaga Malam Depok Sambut Tahun Baru

2026-01-01 | 08:49 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-01T01:49:46Z
Ruang Iklan

Kopi Saksi Bisu: Dedikasi Penjaga Malam Depok Sambut Tahun Baru

Ribuan penjaga malam di Depok, yang tergabung dalam Sistem Keamanan Lingkungan (Siskamling), kembali mengukir narasi tak terlihat di balik perayaan malam Tahun Baru 2026. Mereka mengemban tugas krusial menjaga ketertiban di 928 Rukun Warga (RW) se-Kota Depok, menghadapi malam panjang yang seringkali diwarnai potensi gangguan, dengan segelas kopi menjadi penopang setia dalam sunyi pengabdian.

Pemerintah Kota Depok secara agresif menggalakkan kembali Siskamling menjelang Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru), menindaklanjuti instruksi Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian yang termaktub dalam Surat Edaran Nomor 300.1.4/e.1/BAK tanggal 3 September 2025. Wali Kota Depok, Supian Suri, menekankan bahwa pengaktifan kembali Siskamling merupakan upaya kolektif untuk menjaga keamanan dan ketertiban kota, serta memperkuat kebersamaan dan kepedulian sosial di tengah masyarakat. "Siskamling bukan hanya soal keamanan, tapi juga memperkuat kebersamaan dan kepedulian sosial di tengah masyarakat," tegas Supian Suri.

Komitmen ini terimplementasi melalui koordinasi aktif antara pemerintah kota, TNI, dan Polri. Letnan Kolonel Inf Triano Iqbal, Komandan Kodim 0508/Depok, mengapresiasi langkah ini, menyebut kondusivitas Depok tercipta karena solidnya masyarakat dan sistem yang tertata baik. Camat Cipayung, Muhammad Reza, turut menyerukan aktivasi Siskamling sebagai sarana kebersamaan warga dalam meminimalisir potensi kriminalitas. Sementara itu, Lurah Kukusan, Kholifah, melaporkan bahwa Siskamling di wilayahnya aktif di hampir seluruh RW sebagai langkah preventif terhadap tawuran remaja. Kota Depok sendiri, menurut data dari Polda Metro Jaya, termasuk dalam empat wilayah dengan tingkat kasus kejahatan tertinggi di Jabodetabek berdasarkan Operasi Pekat Jaya 2025, menggarisbawahi urgensi peran penjaga malam ini.

Pada malam pergantian tahun, ketika masyarakat umum menikmati jeda dari rutinitas, para penjaga malam memulai patroli. Mereka menyisir lorong-lorong, memastikan lingkungan aman dari potensi kejahatan jalanan, tawuran, hingga peredaran narkoba, seperti kasus 1,2 kilogram sabu senilai Rp1 miliar yang berhasil digagalkan Polsek Bojongsari menjelang Tahun Baru 2026. Tugas ini menuntut kewaspadaan tinggi dan jam kerja yang panjang, seringkali dari pukul 20.00 hingga dini hari.

Dalam keheningan malam, segelas kopi hangat kerap menjadi teman setia. Bukan sekadar minuman, kopi menjadi simbol penopang kewaspadaan, teman berbincang, dan pemersatu di antara para peronda. Di banyak wilayah di Indonesia, tradisi ini telah mengakar; satu termos kopi sering menemani para penjaga keamanan kampung untuk menjaga mata tetap terjaga. Kopi, dengan kandungan kafeinnya, telah lama dipercaya membantu menunda kantuk, memungkinkan mereka menjalankan tugas pengawasan lingkungan dengan optimal. Budaya minum kopi di malam hari, di luar kafe modern, juga mencerminkan kebutuhan fundamental pekerja malam untuk tetap fokus dan berinteraksi dalam suasana santai di tengah shift panjang.

Meski seringkali bekerja sukarela atau dengan imbalan finansial yang minim, kontribusi para penjaga malam esensial bagi stabilitas sosial. Kota Depok sendiri telah menghadapi tantangan terkait kondisi sosial ekonomi warganya, termasuk isu kesenjangan ekonomi yang kerap memicu permasalahan sosial. Keberadaan Siskamling, dengan segala keterbatasannya, menjadi fondasi keamanan komunitas yang tidak dapat digantikan. Bahkan, Pemerintah Kota Depok, melalui Wali Kota Supian Suri, berjanji memberikan apresiasi dan penilaian khusus bagi Siskamling yang aktif.

Menyambut Tahun Baru 2026, Pemerintah Kota Depok juga mengimbau warga untuk merayakan dengan sederhana tanpa pesta kembang api yang berlebihan, sebagai bentuk empati terhadap korban bencana alam di berbagai wilayah di Sumatera. Imbauan ini didukung Wakil Ketua DPRD Kota Depok, Yuni Indriany, yang melihatnya sebagai cerminan kepekaan sosial dan solidaritas di tengah duka nasional. Di tengah suasana refleksi dan kesederhanaan tersebut, keberadaan penjaga malam, dengan secangkir kopi yang menemani, menegaskan pentingnya kekuatan komunitas dalam menjaga harmoni dan keamanan, melampaui gemerlap perayaan yang pudar.