:strip_icc()/kly-media-production/medias/5446262/original/050326900_1765876660-us_terguling.jpg)
Sebuah bus rombongan peziarah asal Lampung Timur mengalami rem blong dan terguling ke jurang di jalur ekstrem Desa Tergo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, pada Selasa, 16 Desember 2025, sekitar pukul 08:30 WIB, setelah sebelumnya berziarah di Makam Sunan Muria. Insiden yang terjadi di tanjakan "letter S" di jalur Kudus-Pati ini menyebabkan seluruh 50 penumpang selamat, meskipun sejumlah di antaranya mengalami luka ringan dan syok.
Bus bernomor polisi F 7502 FL tersebut sedang dalam perjalanan dari Makam Sunan Muria menuju wilayah Jawa Timur untuk melanjutkan ziarah Wali Sanga saat sopir diduga kehilangan kendali akibat sistem pengereman yang tidak berfungsi optimal. Kendaraan kemudian menghantam pembatas jalan sebelum terguling ke lahan kosong di sisi jalan. KBO Satlantas Polres Kudus Iptu M. Zubaidi, yang segera berada di lokasi kejadian bersama tim kepolisian dan warga, mengonfirmasi tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Proses evakuasi berlangsung dramatis, dengan penumpang yang mengalami luka ringan dan trauma dievakuasi ke Masjid Al Ghozali serta rumah warga terdekat untuk penanganan awal dan pemeriksaan kesehatan oleh tim Sidokkes Polres Kudus. Penumpang bernama Subhi menuturkan bus tiba-tiba terperosok sebelum akhirnya terguling, meskipun ia tidak mengetahui pasti penyebabnya.
Kecelakaan bus pariwisata yang diakibatkan rem blong, terutama di jalur menurun dan berkelok, menjadi pola berulang dalam catatan keselamatan transportasi darat di Indonesia. Pengamat transportasi Djoko Setijowarno pada Mei 2024 mengungkapkan bahwa mayoritas (90%) kecelakaan bus dan truk disebabkan oleh masalah sistem rem, seringkali akibat pengemudi menggunakan gigi tinggi saat melintasi turunan panjang dan mengandalkan rem utama secara berlebihan, yang memicu fenomena brake fading atau kampas rem yang mengalami panas berlebih. Selain itu, ia juga menyoroti masalah microsleep akibat kelelahan pengemudi sebagai penyebab kecelakaan. Karakteristik angkutan wisata yang tidak diatur trayek dan waktu operasinya turut disebut memicu pola insiden ini, memungkinkan bus beroperasi tanpa batasan waktu.
Pemerintah, melalui Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dan Korlantas Polri, terus berupaya meningkatkan pengawasan terhadap kelaikan jalan bus pariwisata. Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi telah menginstruksikan pelaksanaan pemeriksaan kelaikan kendaraan atau ramp check secara masif sejak November 2025 hingga Januari 2026, menargetkan 15.000 kendaraan. Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub Aan Suhanan pada akhir Desember 2025 mengimbau masyarakat untuk secara proaktif memeriksa status kelaikan bus melalui aplikasi MitraDarat, dan tidak menggunakan bus yang masa berlaku uji berkalanya sudah habis atau tidak memiliki izin resmi, karena risiko yang sangat berbahaya. Menhub Budi Karya Sumadi pada Juni 2024 juga menekankan pentingnya kelengkapan surat kendaraan seperti Uji KIR, STNK, dan SIM untuk menjaga keselamatan penumpang.
Meskipun demikian, angka kecelakaan lalu lintas di Jawa Tengah selama tahun 2025 tercatat meningkat 7,4 persen, dari 30.034 kasus pada 2024 menjadi 32.431 kasus. Kabid Humas Polda Jateng Kombes Pol Artanto menyatakan, meski jumlah kasus naik, angka korban meninggal dunia berhasil ditekan, menurun 5,4 persen dari 4.030 jiwa di 2024 menjadi 3.811 jiwa di 2025, berkat penguatan respons cepat personel di lapangan dan pengaturan lalu lintas adaptif. Insiden di Kudus ini menambah daftar panjang kecelakaan bus di jalur-jalur rawan Jawa Tengah. Sebelumnya, pada Desember 2025, sebuah bus pariwisata PO Cahaya Trans mengalami kecelakaan di simpang susun Exit Tol Krapyak, Semarang, menewaskan 16 orang, dengan fakta terungkap bahwa sopir menggunakan SIM palsu dan bus tersebut tidak terdaftar sebagai angkutan wisata. Tragedi-tragedi ini menggarisbawahi urgensi penegakan hukum yang lebih tegas, pengawasan kelaikan armada yang berkelanjutan, serta peningkatan kesadaran pengemudi dan operator untuk memastikan keselamatan perjalanan, khususnya bagi rombongan peziarah yang seringkali menggunakan jalur-jalur dengan kontur ekstrem.