:strip_icc()/kly-media-production/medias/5473315/original/022120600_1768406550-Bupati_Bogor.jpg)
Bupati Bogor Rudy Susmanto pada Rabu, 14 Januari 2026, secara tegas membantah isu yang beredar mengenai adanya ratusan korban dalam insiden kemunculan asap di area tambang emas PT Aneka Tambang (Antam) Pongkor, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Klarifikasi ini disampaikan untuk meredakan kepanikan masyarakat setelah informasi tersebut menyebar luas di media sosial. Susmanto menjelaskan bahwa angka "700" yang ramai dibicarakan bukan merujuk pada jumlah korban jiwa atau pekerja yang terjebak, melainkan merupakan istilah teknis yang menandakan "level 700" atau portal kerja di dalam tambang.
Insiden yang sebenarnya terjadi adalah kemunculan asap di salah satu level tambang resmi PT Antam sekitar pukul 00.30 WIB pada hari yang sama, ketika tidak ada aktivitas penambangan resmi berlangsung. Asap tersebut diduga kuat berasal dari terbakarnya kayu penyangga di area bawah tanah, yang menyebabkan lonjakan konsentrasi gas karbon monoksida (CO) hingga 1.200 ppm, jauh di atas ambang batas aman 25 ppm. Manajemen PT Antam Unit Bisnis Pertambangan Emas (UBPE) Pongkor, Nilus Rahmat, juga telah memastikan bahwa seluruh pekerja perusahaan dalam kondisi aman setelah dievakuasi dan tidak ada satu pun karyawan yang menjadi korban atau terjebak. Penanganan cepat telah dilakukan sesuai prosedur keselamatan, termasuk sterilisasi area dan upaya menurunkan konsentrasi gas berbahaya.
Kawasan pertambangan emas Pongkor, yang dikelola oleh PT Antam, telah lama menjadi sorotan karena maraknya aktivitas penambangan emas tanpa izin (PETI) atau "gurandil". Konflik antara penambang ilegal dengan pihak perusahaan dan aparat keamanan bukanlah hal baru, dengan berbagai insiden, penangkapan, dan bahkan korban jiwa dari kalangan penambang ilegal yang kerap terjadi di masa lalu. Sebagai contoh, pada April 2024, Kepolisian Sektor Nanggung menahan sembilan penambang ilegal yang tertangkap basah di area milik PT Antam. Sebelumnya, Bupati Bogor Ade Yasin (sebelumnya menjabat) pada 2019 pernah menyatakan keprihatinannya atas tewasnya lima penambang ilegal akibat longsor di Gunung Pongkor dan mengakui kesulitan dalam mengawasi aktivitas ilegal tersebut meskipun berbagai upaya sosialisasi dan penertiban telah dilakukan sejak 2014. Pada Desember 2025, tim gabungan juga menutup sembilan lubang penambangan ilegal dan menertibkan gubuk-gubuk terpal di kawasan tersebut.
Fenomena penambangan ilegal di Pongkor mencerminkan kompleksitas masalah sosial-ekonomi yang mendalam, di mana masyarakat lokal seringkali terlibat karena keterbatasan lapangan kerja dan dorongan ekonomi. Hal ini menciptakan lingkaran setan yang tidak hanya merugikan perusahaan dan negara, tetapi juga membahayakan keselamatan para penambang itu sendiri dan menyebabkan kerusakan lingkungan serius akibat penggunaan bahan berbahaya serta minimnya pengetahuan tentang teknik penambangan yang aman dan berkelanjutan.
Meskipun Bupati Susmanto telah meluruskan isu ratusan korban, Pemerintah Kabupaten Bogor bersama aparat keamanan menegaskan akan terus menelusuri setiap informasi yang beredar di luar aktivitas resmi PT Antam dan melakukan penyelidikan mendalam untuk mengetahui penyebab pasti insiden asap tersebut. General Manajer PT Antam UBPE Pongkor juga menyatakan bahwa tim belum dapat memasuki area tambang untuk penyelidikan lebih lanjut sebelum kadar gas benar-benar berada pada tingkat yang aman. Kejadian ini sekali lagi menyoroti kerentanan kawasan tambang terhadap informasi yang tidak akurat, sekaligus mengingatkan akan urgensi penanganan komprehensif terhadap masalah penambangan ilegal yang berkelanjutan, tidak hanya dari sisi penegakan hukum tetapi juga melalui pemberdayaan ekonomi masyarakat dan edukasi keselamatan.