:strip_icc()/kly-media-production/medias/5472743/original/076160500_1768374981-gunung_slamet.jpg)
Syafiq Ridhan Ali Razan (18), pendaki asal Magelang, ditemukan meninggal dunia pada Rabu, 14 Januari 2026, di lereng selatan Gunung Slamet, Jawa Tengah, setelah dinyatakan hilang selama 19 hari. Jasad Syafiq ditemukan oleh tim relawan gabungan sekitar pukul 10.00-11.00 WIB, di lokasi yang diidentifikasi berada sekitar lima kilometer dari Pos 9 jalur pendakian Dipajaya, Kabupaten Pemalang, tepatnya di area antara jalur Gunung Malang dan Baturraden, dekat Puncak Batu Langgar dan bebatuan Sungai Lembarang. Penemuan ini mengakhiri pencarian intensif yang menghadapi berbagai tantangan cuaca ekstrem dan medan sulit.
Syafiq dilaporkan hilang sejak Minggu, 28 Desember 2025, setelah memulai pendakian "tektok" (naik-turun dalam satu hari) bersama rekannya, Himawan Choidar Bahran, melalui jalur Basecamp Dipajaya, Desa Clekatakan, Kabupaten Pemalang, pada Sabtu, 27 Desember 2025 malam. Dalam perjalanan turun, Himawan mengalami kram kaki hebat di sekitar Pos 5 atau batas vegetasi, membuatnya tidak dapat melanjutkan perjalanan. Syafiq kemudian memutuskan untuk turun sendirian mencari bantuan, sementara Himawan diminta menunggu di lokasi. Namun, Syafiq tidak kunjung kembali. Himawan ditemukan selamat oleh tim relawan pada Selasa, 30 Desember 2025, dalam kondisi lemas di Pos 9 atau Pos 5 jalur Dipajaya dan dievakuasi ke basecamp. Informasi awal menyebut Syafiq kemungkinan mengambil jalur yang salah atau tidak resmi.
Operasi pencarian besar-besaran segera dilancarkan, melibatkan lebih dari 100 personel dari Basarnas, BPBD Pemalang dan Magelang, TNI/Polri, PMI, serta ratusan relawan dari berbagai komunitas pendaki. Tim SAR gabungan dibagi menjadi empat kelompok untuk menyisir berbagai sektor, mulai dari jalur pendakian resmi, pos-pos istirahat, hingga area puncak dan batas vegetasi. Namun, upaya pencarian menghadapi kendala serius. Gunung Slamet dikenal dengan karakteristik medan ekstrem, hutan lebat, topografi curam, kabut tebal, cuaca yang cepat berubah, hujan badai, dan sinyal GPS yang lemah. Asap tebal dari Kawah Segara Wedi juga menjadi tantangan bagi tim pencari di area puncak. Setelah 13 hari (atau sembilan hari menurut beberapa laporan) pencarian resmi, operasi SAR dihentikan pada 7 Januari 2026 dan dialihkan ke tahap pemantauan, karena tidak ditemukan jejak atau barang milik korban. Kendati demikian, pencarian dilanjutkan secara mandiri oleh relawan gabungan dari berbagai komunitas, yang kemudian berhasil menemukan jasad Syafiq.
Proses evakuasi jenazah Syafiq diperkirakan memakan waktu hingga 15 jam karena medan yang ekstrem dan jarak tempuh yang jauh. Jenazah akan dibawa turun melalui jalur pendakian Gunung Malang menuju Basecamp Dipajaya, sebelum kemudian dibawa ke RSUD Goeteng Purbalingga untuk proses pemulasaraan. Saat ditemukan, posisi korban dalam keadaan tengkurap.
Tragedi ini menjadi pengingat pahit tentang risiko mendaki gunung, terutama di Gunung Slamet yang dikenal sebagai gunung berapi aktif tertinggi di Jawa Tengah dengan cuaca yang paling sulit ditebak di Pulau Jawa. Peristiwa serupa telah terjadi sebelumnya, dengan sejumlah kasus pendaki tewas di Gunung Slamet, menyoroti bahaya yang inheren. Supervisor Site Gunung Slamet Perhutani Alam Wisata Wilayah Barat, Sugeng Utomo, menyatakan bahwa jasad Syafiq ditemukan relawan sekitar pukul 10.00 WIB di jalur yang menghubungkan kawasan Gunung Malang dan Baturraden.
Insiden ini mendesak evaluasi terhadap standar keselamatan pendakian dan koordinasi operasi SAR. Pihak berwenang dan komunitas pendaki perlu memperkuat edukasi mengenai persiapan fisik dan mental, kemampuan navigasi, serta kepatuhan ketat terhadap jalur resmi dan prosedur keselamatan. Peraturan pendakian Gunung Slamet, seperti kewajiban melapor di basecamp, menyertakan surat kesehatan, larangan solo hiking, dan batasan pendakian hingga radius aman 2-3 kilometer dari kawah, sudah ada namun perlu diawasi lebih ketat. Koordinasi yang lebih baik antara Basarnas dan tim potensi SAR, serta pemetaan area pencarian yang lebih komprehensif, diharapkan dapat memitigasi risiko di masa depan dan meningkatkan efektivitas respons terhadap insiden serupa. Kesadaran akan bahaya mendaki jalur tidak resmi dan pentingnya tetap bersama rombongan menjadi pelajaran krusial dari kasus Syafiq Ali.